Kekuatan Gempa 200 Kali Bom Hiroshima, Jokowi Akan Pimpin Operasi Kemanusiaan Donggala-Palu


SURATKABAR.ID – Guna membantu masyarakat di daerah terdampak bencana alam gempa bumi dan tsunami di Donggala dan Palu, Sulawesi Tengah, Presiden RI Ir. Joko Widodo (Jokowi) akan bertindak cepat dan memimpin langsung operasi kemanusiaan di sana. Hal ini disampaikan langsung oleh Sekretaris Tim Kampanye Nasional capres Jokowi dan KH Ma’ruf Amin, Hasto Kristiyanto di Jakarta, Sabtu (29/09/2018) kemarin.

Mengutip laporan AntaraNews.com, Minggu (30/09/2018), tim kampanye capres dan cawapres nomor urut 01 tersebut ikut mengucapkan rasa bela sungkawa yang sedalam-dalamnya terhadap berjatuhannnya korban yang meninggal dalam bencana tersebut. Mereka juga mengucapkan turut prihatin terhadap korban yang selamat.

“Mari kita kobarkan solidaritas, semua saling bahu-membahu bersama Presiden Jokowi membantu korban bencana,” kata Hasto.

Selain itu, Hasto juga mengapresiasi langkah TNI, Badan SAR Nasional yang dipimpin oleh Marsekal Madya TNI M Syaugi, Kepolisian Indonesia dan PMI yang turun langsung ke lokasi bencana dalam memberikan pertolongan secepatnya kepada mereka yang menjadi korban.

Korban Masih Terus Bertambah

Seperti diketahui, gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,4 mengguncang Donggala, Sulawesi Tengah pada Jumat (28/09/2018) pukul 17.02.44 WIB. Gempa tersebut mengakibatkan tsunami di beberapa wilayah pantai Donggala dan pantai Talise Palu.

Baca juga: Mengapa Bencana Besar Kerap Terjadi di Akhir Pekan? Begini Tanggapan BNPB

Tsunami menerjang Pantai Talise di Kota Palu, pantai Barat Donggala. Tingginya 0,5-3 meter dan menerjang permukiman di sepanjang pantai. Bahkan disebut ketinggian ada yang mencapai 6 meter, demikian dikutip dari laporan Liputan6.com.

Akibatnya, banyak bangunan ambruk yang rata dengan tanah. Jembatan pun roboh memutus akses jalan. Komunikasi terputus dan listrik padam.

Berdasarkan data sementara dari Badan Nasional Penanggulan Bencana (BNPB),  korban meninggal dunia akibat gempa dan tsunami di Palu, Sulawesi Tengah mencapai 384 jiwa. Mereka tersebar di sejumlah rumah sakit.

“Ini hanya tercatat di kota Palu,” ujar Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (29/09/2018).

Diperkirakan jumlah korban gempa dan tsunami masih akan bertambah karena proses pencarian yang masih terus dilakukan. Sementara itu, korban luka berat kini mencapai 540 orang.

Hingga pukul 16.00 WIB, Sabtu (29/09/2018) kemarin, terdata ada sebanyak 16 ribu lebih pengungsi korban gempa dan tsunami Palu, Sulawesi Tengah.

“Ada 16.732 pengungsi di 24 titik. Di Palu ada 24 titik. Harus kita penuhi kebutuhan dasar. Belum semua menerima bantuan. Semua terbatas dan kita fokus mencari korban,” beber Sutopo.

Sutopo melanjutkan, ada 13 kecamatan di Donggala yang paling banyak menerima intensitas gempa 6 sampai 7 MMI. Sementara di Palu ada tujuh kecamatan yang menerima guncangan dengan skala yang sama.

“Donggala masih belum mendapat informasi apapun. Komunikasi masih lumpuh,” imbuhnya.

Kekuatan Gempa Setara 200 Kali Bom Hiroshima

Sementara itu, 131 gempa susulan terjadi di Palu-Donggala, Sulawesi Tengah. Rentetan itu berlangsung setelah gempa dengan magnitudo 7,4 pada Jumat 28 September 2018.

Deputi Teknologi Industri Rancang Bangun dan Rekayasa Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Wahyu W Pandoes menyebut, energi gempa magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, sekitar 2,5 x 10^20 newton meter.

“Gempa dengan magnitudo 7,4 di Donggala, Sulawesi Tengah, energinya sekitar 2,5×10^20 Nm atau setara dengan 3×10^6 Ton-TNT atau 200 kali bom atom Hiroshima,” tandas Wahyu dilansir dari AntaraNews.com.

Dalam siaran pers BPPT di Jakarta, Wahyu menerangkan, Kota Palu, Kabupaten Donggala, dan sekitarnya mengalami deformasi vertikal atau perubahan bentuk yang diakibatkan oleh gaya sebesar -1,5 hingga 0,5 meter akibat gempa.

“Komponen deformasi vertikal gempa bumi di laut ini yang berpotensi menimbulkan tsunami,” tukas Wahyu.

Berdasarkan simulasi model analitik-numerik, tinggi tsunami di sepanjang pantai berkisar antara beberapa sentimeter hingga 2,5 meter. Tinggi tsunami juga berpotensi naik akibat efek turunnya daratan sekitar pantai dan amplifikasi gelombang akibat batimetri (studi kedalaman air) dan morfologi (pembentukan) teluk.

“Masyarakat perlu waspada atas gempa bumi susulan dan potensi keruntuhan infrastruktur atau bangunan di sekitarnya, serta terus memantau dan mengikuti informasi dari otoritas resmi BMKG/BNPB/BPBD setempat,” imbau Wahyu.

Diungkapkan Wahyu, BPPT telah memiliki produk teknologi Sijagat untuk mengkaji keandalan gedung bertingkat terhadap ancaman gempa dan Sikuat untuk memantau kondisi gedung bertingkat terhadap ancaman gempa.

BPPT juga merancang Rumah Komposit Polimer Tahan Gempa untuk daerah-daerah rawan bencana gempa.

View this post on Instagram

Sesaat setelah mendapat kabar terjadinya gempa bumi di Donggala, Kota Palu, dan sekitarnya, kemarin sore, saya menghubungi Gubernur Sulawesi Tengah melalui telepon. Tapi gagal. Sambungan komunikasi ke Palu terganggu. Informasi saya terima dari Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana, meskipun belum semuanya. Saya sudah memerintahkan Menkopolhukam untuk mengkoordinasikan jajarannya, BNPB, dan TNI untuk melakukan penanganan darurat atas peristiwa ini: melakukan pencarian korban, evakuasi, dan menyiapkan kebutuhan-kebutuhan dasar yang diperlukan, selekas mungkin. Sejak semalam, mereka sudah menuju lokasi terdampak gempa dan tsunami. Semoga hari ini kita sudah mendapatkan informasi yang lebih rinci mengenai kondisi di lapangan. Saya dan kita semua, ikut berduka cita atas jatuhnya korban setelah terjadinya gempa dan tsunami yang terjadi di Sulawesi Tengah ini. Seluruh masyarakat terutama yang berada di Donggala, Palu, dan sekitarnya agar tetap tenang tetapi juga tetap waspada. Kita berdoa kepada Allah SWT, agar musibah ini dapat kita lalui dan dampaknya kita selesaikan bersama.

A post shared by Joko Widodo (@jokowi) on