Senjata Pamungkas agar Jokowi dan Ahok Tak Berkompromi Kotor dengan Parpol


Blusukan

Basuki Tjahaya Purnama yang lebih dikenal orang dengan nama panggilan Ahok dalam kurun waktu belakangan sering menjadi bahan berita di banyak media. Tidak hanya itu, masyarakat umum melalui berbagai kanal obrolan, salah satunya media sosial juga sangat gemar membicarakan Gubernur DKI Jakarta ini.

Sosoknya yang lugas, gaya bicara yang tidak seperti pejabat lain pada umumnya membuat Ahok punya ‘rasa’ tersendiri di beberapa kalangan masyarakat. Ahok seperti sebuah anomali dari wajah para pejabat yang selama ini berhadapan dengan citra yang buruk, penuh basa-basi dan hanya berwajah manis namun korupsinya bengis.

Jatuh hatinya rakyat pada sosok Ahok mengingatkan kita pada Joko Widodo (Jokowi) yang kemunculannya begitu fenomenal. Mulai dari saat menjabat Walikota Solo hingga akhirnya Jokowi rakyat Indonesia kepincut hatinya dan mempercayakan kursi keprisidenan kepadanya.

Tidak tanduk Jokowi lewat blusukan dan beberapa sikapnya yang lain membuat namanya melambung, komunikasi dengan masyarakat secara langsung bisa terjadi begitu intens dan seperti tanpa jarak. Lagi-lagi, sikap yang tidak umum dilakukan oleh pejabat atau politikus yang kadang cenderung ‘elit’ dan hanya menyapa rakyat kecil saat akan pemilu saja membuat Jokowi punya nilai tawar tersendiri dan rakyat lumer hatinya.

Dunia politik Indonesia dipandang oleh rakyat sebagai dunia kelam, buruk rupa dan bisa jadi sebuah hal yang sangat menjijikan. Meski tetap saja, setiap Pemilu rakyat tetap menaruh harap dan kemudian menuju bilik-bilik suara. Pesta lima tahunan itulah salah satu media rakyat dalam memelihara harapannya terhadap perbaikan bangsa.

Rakyat terkadang sudah begitu muak dengan tidak berubahnya ulah para politikus dan pejabat. Seperti tanpa henti dan tak terhenti, para politikus dan pejabat melakukan konspirasi menjijikan dan kemudian mengeruk uang rakyat lewak korupsi.

Lahirnya sosok seperti Jokowi dan Ahok kemudian menyalakan lagi harapan rakyat bahwa dalam dunia politik tidak semuanya keji. Tetap saja, bahwa masyarakat sebenarnya tidak 100 persen mengetahui siapa sebenarnya Ahok atau Jokowi. Mereka punya agenda apa atau bahkan punya dosa sebesar apa sebenarnya pun secara umum masyarakat tidak tahu. Akan tetapi masyarakat hanya menangkap sesuatu yang kasat saja, melalui media atau juga melalui hal-hal yang secara langsung mereka alami.

Lontaran pernyataan yang tidak terkesan diplomatis seperti yang sering diungkapkan Ahok membuat dirinya berbeda dengan yang lain. Upayanya melawan para politikus jahat yang diberitakan oleh media membuat Ahok menjadi punya citra tersendiri, tidak seperti kebanyakan pejabat lain yang lebih sering main mata dengan para maling anggaran.

Sesuatu yang kemudian semakin menguatkan dugaan rakyat bahwa Ahok punya cita rasa yang berbeda adalah ketika dirinya berani ‘melawan’ dan berseberangan dengan partai yang sebelumnya berstatus sebagai partai yang mendukungnya.

Ahok bersedia berhadap-hadapan secara konfrontatif dengan Gerindra ketika dirinya merasa kebijakan Partai yang didirikan oleh Prabowo Subianto tidak sesuai dengan keinginan rakyat atau kemauannya. Padahal, Gerindra sebelumnya tercatat sebagai partai yang mengusungnya menjadi Wakil Gubernur DKI Jakarta tahun 2012.

Jika kebanyakan pemimpin, pejabat atau anggota legislatif yang keberangkatan karirnya dari partai, maka mereka kemudian terbelenggu oleh kebijakan dan kemauan partainya tersebut. Ahok berbeda, dirinya berani melakukan perlawanan bahkan cenderung bersifat serangan kepada partai politik yang dianggapnya bertentangan dengan kemauannya.

Jokowi sedikit berbeda gaya berpolitiknya, dirinya berhasil mengikat hati rakyat dan menarik perhatian banyak pihak. Ketika elektabilitasnya meningkat menjelang Pemilihan Presiden 2014, maka bukan dirinya yang mendekat ke partai politik, akan tetapi parpol yang kemudian memilih untuk mendekat dan Jokowi tidak menolaknya.

Parpol memang selalu dicitrakan sebagai sesuatu yang buruk, sementara Jokowi kala itu adalah sebagai penawarnya. Meski Megawati menyebutnya sebagai ‘petugas partai’, akan tetapi dinamika politik menunjukan bahwa Jokowi berusaha melawan kekangan parpol dengan caranya sendiri, lebih elegan dan senyap tetapi tetap terasa pergerekannya.

Ahok mungkin sedikit lebih tegas, dirinya memilih jalur independen untuk maju dalam pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017 mendatang. Ahok sangat percaya diri bahwa masyarakat menginginkan dirinya menjadi pemimpin DKI jakarta sehingga merasa bisa melangkah tanpa partai dan lantas membentuk ‘Teman Ahok’ untuk mengakomodir dukungan rakyat.

Kabarnya, ‘Teman Ahok’ sudah berhasil mengumpulkan KTP untuk memenuhi persyaratan dari KPU.

Gerakan Teman Ahok via temanahok.com
Gerakan Teman Ahok via temanahok.com

Meski demikian, Ahok tetap menjalin komunikasi dengan berbagai partai. Nasdem dan Hanura adalah partai yang sudah menyatakan tertarik mendukung Ahok. Hal ini memberi gambaran bahwa Ahok sendiri tidak menolak mentah-mentah partai-partai yang ada, tetapi kembali lagi bahwa yang paling penting adalah bagaimana masyarakat nantinya tidak dikhianati dengan adanya kompromi-kompromi jahat antara pemimpin dan partai politik.

Akhirnya, Jokowi ataupun Ahok, meski dicintai rakyat, secara nyata punya pendukung tetapi tidak menampik keberadan parpol dan tetap menganggap mereka sebagai bagian dari yang tak terpisahkan dalam menjalankan negara.

Permasalah mendasar adalah citra buruk partai yang tidak kunjung bisa diperbaiki membuat tokoh-tokoh yang berhasil menarik hati rakyat juga terkina imbas. Melawan secara kasar akan menghancurkan segalanya karena partai adalah bagian yang tak bisa terpisahkan dari demokrasi kita, berkompromi pun punya resiko tersendiri, kalau tidak terseret pada hitamnya dunia parpol minimal harus merelakan beberapa idealisme diri dicoreng oleh wajah parpol.

Jokowi harus berhadapan dengan masalah para menteri yang saling serang. Sehebat-hebatnya Jokowi tetap tidak bisa membuat masyarakat menampik kabar bahwa dalam kabinet Jokowi-JK ada semacam kubu-kubuan yang diantaranya saling tak cocok. Kubu-kubu tersebut salah satunya dibidani oleh perbedaan kepentingan golongan yang sedikit banyak dipengaruhi oleh parpol dibelakang para menterinya.

Ahok harus terus gontok-gontokan dengan DPRD, lantas kemudian membuat beberapa pembangunan tersendat. Masyarakat kemudian lebih banyak disuguhi ‘perkelahian’ dibanding upaya mecentuskan solusi-solusi tepat terhadap permasalahan rakyat dilapangan.

Beruntungnya, api dukungan terhadap kedua tokoh ini terus ada. Sebab itu salah satu senjata pamungkas agar Ahok dan Jokowi tetap tidak terbujuk untuk berkompromi secara jahat dengan pihak-pihak yang mencoba mengusik mereka selama ini.


BAGIKAN

Komentar

komentar


Terpopuler



Berita sebelumyaAkan Tiba Suatu Massa, Israel Dikepung Oleh Pasukan Imam Mahdi. Baca dan Sebarkan!
Berita berikutnyaHarus Tahu! Sekjen PBB Ungkap Korban Ekstrimisme Terbesar Adalah…