Dihuni 100 Pasang Saudara Kembar, Pulau Kecil Ini Bikin Ilmuwan Kebingungan


SURATKABAR.ID – Pulau Alabat merupakan sebuah dataran kecil di Filipina. Sekilas tak ada yang istimewa dari pulau kecil ini. Namun fakta uniknya, pulau ini dihuni oleh 100 pasang saudara kembar. Dari 100 pasang itu, sebanyak 78 pasang merupakan kembar non-identik. Sementara 22 pasang kembar identik lainnya termasuk sepasang kembar siam. Fenomena tak biasa ini pun membuat dokter dan ilmuwan bingung memahaminya.

Namun berdasarkan legenda lokal, kejadian kembar yang tak biasa ini telah dimulai sejak generasi mereka yang terdahulu. Mengutip laporan OkeZone.com, Sabtu (29/09/2018), dalam kesehariannya, para pasangan saudara kembar ini memakai pakaian yang identik—bahkan hingga saat mereka memasuki usia dewasa. Hal ini membuat pengunjung dari luar pulau kesulitan membedakan mereka.

Di pulau ini, pasangan kembar termuda bernama Gian dan John yang berusia empat tahun. Sedangkan pasangan kembar tertua yaitu Eudosia Meras dan Antonina Meras yang berusia 86 tahun.

Eudosia dan Antonina sama-sama menjanda. Ini mereka lakukan dengan alasan memberi dukungan satu sama lain. Antonina yang menikah di usia 19 tahun menceritakan bahwa sang suaminya dulu sering salah mengenali dirinya.

“Pada hari-hari awal, suami saya sering salah mengira Eudosia itu diri saya. Ada beberapa insiden memalukan ketika suami saya suka pada saudari saya karena berpikir dia adalah saya,” kata Antonina dikutip dari Mirror, Rabu (19/09/2018).

Baca juga: Ngeri! Demi Dibilang Cantik, Para Gadis Tiongkok Ikuti Tradisi Meremukkan Kaki

Untungnya, Antonina mempunyai tanda yang tak dimiliki Eudosia. Ia memiliki tahi lalat di hidung, sementara Eudosia tidak. Namun Eudosia mempunyai tahi lalatnya di bibir bawah. Eudosia kini memiliki empat cucu yang semuanya juga merupakan saudara kembar.

Satu-satunya pasangan kembar siam di pulau ini adalah Joy dan Joyce Magsino yang berusia 10 tahun. Mereka lahir dengan craniopagis parsial frontal dan dokter menyebut mereka dapat bertahan hidup dengan berpisah.

Namun setelah menjalani evaluasi kemungkinan pemisahan dengan prosedur CT-Scan dan MRI pada November 2017 dan hasilnya dikirimkan ke New York, para ahli bedah memutuskan untuk tidak mengoperasi mereka. Alasannya karena risikonya akan lebih besar ketimbang manfaatnya.

Faktor Lingkungan?

Tak ada data yang menunjukkan sejak kapan fenomena kembar ini ada di Pulau Alabat. Namun berdasarkan laporan negara pada 2015, tercatat kelahiran 12 pasang saudara kembar dalam satu tahun.

 

Para dokter dan ilmuwan yang kesulitan memahami fenomena ini kini sibuk mempelajari keajaiban medis yang diyakini akan bermanfaat bagi pasangan yang tak memiliki anak. Mereka mengesampingkan faktor genetik atas banyaknya generasi kembar di pulau ini.

Mereka percaya bahwa lingkunganlah yang membentuk fenomena kelahiran kembar tersebut. Ada pula yang menyarankan untuk meneliti air minum di pulau kecil yang legendaris itu, demikian menukil laporan TribunNews.com.

 

Selain Filipina, ada sebuah desa di India yang dikenal memiliki jumlah saudara kembar terbanyak. Desa Kodinhi di Kerala melaporkan adanya 300-350 kembar yang tinggal di dalamnya.