Ngeri! Demi Dibilang Cantik, Para Gadis Tiongkok Ikuti Tradisi Meremukkan Kaki


SURATKABAR.ID – Pada zaman dahulu kala, ada jutaan wanita menginginkan sepasang “kaki lotus” di Tiongkok. Istilah kaki lotus diberikan karena kaki mereka ‘dipaksa berubah’ hingga menciut berukuran jadi tidak lebih dari empat inci.  Demi memiliki kaki yang diimpikan ini, para perempuan Negeri Tirai Bambu tersebut rela mengikat, meremukkan, menekuk  dan membebat kakinya sejak masih kecil.

Tak jarang, hal ini malah menimbulkan infeksi hingga kaki pun membusuk. Namun berabad lalu, “kaki seroja” dianggap cantik di Tiongkok.

Menukil halaman NationalGeographic.Grid.ID, Jumat (28/09/2018), biasanya proses mengikat kaki ini dilakukan anak-anak perempuan berusia empat hingga enam tahun. Selain karena otot-ototnya masih lentur sehingga kaki mudah dibentuk, mereka juga dianggap masih bisa mengatasi rasa sakit saat proses dilakukan.

Banyak orang tua memaksa gadis-gadis kecil mereka untuk melakukannya, mengabaikan teriakan dan air mata mereka karena kesakitan, hanya untuk memenuhi tanggung jawab dan menjamin masa depan anak gadisnya agar ‘laku’ dan ada yang mau meminang.

Ada pun beberapa alasan mengapa tradisi ini disebut “kaki lotus”, menurut laporan DailyMail, salah satunya karena kaki mereka harus terikat sempurna untuk membentuk bunga lotus yang tertutup.

Baca juga: Bertemu Suku Kanibal Pemburu Kepala di Kalimantan, Pelancong Norwegia Tuturkan Kisahnya

Untuk membentuk Lotus Feet, kaki sang anak harus direndam dengan air hangat. Kemudian jari-jari mereka—kecuali jempol—akan ditekuk ke bawah telapak kaki. Kain sutera atau katun digunakan untuk membungkus kaki mereka hingga dewasa.

Perlu diketahui bahwa setelah diikat dengan kain, tak ada orang lain yang boleh melihat kaki wanita bersangkutan selain suaminya kelak.

Simbol Kesetiaan

Dengan kaki yang terikat, para wanita akan mengalami kesulitan saat berjalan. Itulah sebabnya untuk memudahkannya bergerak, para wanita akan menggunakan otot di pinggul, paha dan bokong mereka. Sehingga hal ini membuat fisik mereka tampak menarik bagi pria Tiongkok di zaman itu.

Kepercayaan pada zaman itu menganggap bahwa kaki lotus merupakan lambang kesetiaan sang wanita kepada suaminya. Wanita dengan kaki kecil membuktikan bahwa mereka berasal dari keluarga yang baik dan tidak akan selingkuh atau melarikan diri dari sang suami.

Selain itu, kaki kecil juga dianggap bisa memuaskan pria pada zaman feodal. Li Yun, seorang pengarang di Tiongkok abad ke-17, dalam panduan gaya hidupnya Sketches of Idle Pleasure, menulis bahwa kaki wanita yang seukuran telapak tangan sangat menarik dan tidak dapat ditolak. Bahkan katanya, seorang pria bisa mendapatkan pengalaman ‘menakjubkan’ hanya dengan menyentuh mereka.

Sebaliknya, menurut pepatah Tiongkok kuno, wanita dengan ukuran kaki yang besar dianggap terlalu jantan, terlalu kuat dan tidak lembut.

Infeksi dan Membusuk

Cara ‘melipat’ kaki ini juga membuat ngeri. Mula-mula kaki direndam dalam air panas, kemudian kuku dipotong pendek. Setelah itu kaki dipijat dan diminyaki.

Semua jari-jari kaki, kecuali jempol ditekuk ke bawah. Tekukan kaki kemudian diikat dengan kain. Kelebihan daging kadang dipotong, sehingga tak jarang kaki jadi infeksi dan membusuk. Karenanya tiap 2 hari sekali pembungkusnya harus diganti. Proses ini memakan waktu sekitar 2 tahun.

Asal Mula Kaki Lotus

Saat pemerintahan masa Kaisar Li Yu di tahun 961 hingga 975, tradisi Lotus Feet pertama kali muncul. Hal ini terjadi pada abad ke-10.

Waktu itu, kaisar jatuh cinta kepada seorang penari bernama Yao Niang, yang kemudian ia jadikan selir. Kaisar meminta Yao untuk mengikatkan kakinya dengan sutra putih sehingga membentuk bulan sabit dan menari seperti seorang balet di atas teratai.

Kasta Kaki Lotus

Yao memang dikenal sebagai selir yang disenangi oleh kaisar. Itulah sebabnya, selir lainnya berusaha meniru Yao dengan mengikat kakinya agar menjadi kecil.

Kemudian muncullah istilah Kaki Lotus atau Kaki Seroja ini lantaran Yao Ning menari di atas lantai bermotif lotus. Dari situs theworldofchinese.com disebutkan jika tapak kaki lebih dari 10 cm disebut Lotus Besi, antara 7,6-10 cm disebut Lotus Perak.

Status tertinggi kastanya jatuh kepada pemilik Lotus Emas, yang telapaknya kurang dari 7,6 cm. Pemilik kasta tertinggi ini tak perlu bekerja keras. Dianggap seksi, mereka jalan melenggak-lenggok.

Selain kehendak penguasa, sastrawan juga banyak mempengaruhi kebiasaan sosial tersebut. Mereka yang berpendidikan menganggap bahwa kepala dan kaki merupakan bagian yang paling penting dari keindahan. Itu bisa dilihat dari penggambaran mereka tatkala memuji kaki yang terbebat ini sebagai “teratai emas“ atau ungkapan lain yang bernada mewah.

Sejak saat itu, tradisi mengikat kaki yang awalnya hanya dilakukan oleh wanita di istana kemudian menyebar di seluruh Tiongkok.

Kemudian pada abad ke-17, di masa pemerintahan Dinasti Qing, setiap gadis yang ingin menikah harus mempunyai kaki kecil. Para wanita yang tak mengikat kaki mereka adalah mereka yang berasal dari etnis Hakka karena sangat miskin. Selain itu, pemancing wanita juga harus mempunyai kaki normal agar bisa menyeimbangkan diri mereka saat berada di perahu.

Pro dan Kontra

Menjelang akhir Dinasti Qing pada abad ke-19, banyak orang-orang Barat yang pindah ke Tiongkok. Kedatangannya bertepatan dengan masa di mana proses mengikat kaki masih dilakukan dan ditemui di mana-mana.

Alhasil, banyak wanita dari negara Barat yang menentang praktik tersebut. Mereka menyebarkan pamflet serta membuka tempat penampungan bagi warga Tiongkok yang menderita akibat tradisi Lotus Feet.

“Sulit membayangkan wanita harus tunduk pada proses yang menyakitkan seperti itu hanya untuk dicintai dan diterima oleh masyarakat,” ujar Jo Farrell, seorang fotografer yang telah menghabiskan waktu selama 13 tahun untuk mendokumentasikan wanita kaki lotus di Tiongkok.

 

Suatu hari, sempat terjadi perdebatan antara pendukung pemilik kaki lotus dan yang normal di Shanghai. Perdebatan dimenangkan oleh pendukung kaki normal. Alasannya karena para wanita dengan kaki normal dapat memperlihatkan kakinya yang indah, sementara pemilik kaki lotus akan terlihat buruk saat kainnya dilepas.

Perdebatan ini menimbulkan dampak buruk bagi wanita kaki lotus. Mereka yang telah menikah malah ditinggalkan oleh suaminya karena tradisi kaki lotus tak lagi populer. Kaki lotus bahkan dianggap aneh dan cacat.

Tradisi Lotus Feet pun menghilang secara perlahan.  Saat ini, sudah jarang ditemukan wanita dengan kaki lotus di China. Sebagian besar dari mereka kini sudah berusia 90-an dan tinggal di desa-desa terpencil.

Sepatu Khusus

Sepatu teratai emas dibuat khusus pada masa Dinasti Tang dan lebih dari 1.000 tahun menjadi populer. Para wanita Tiongkok dengan kaki terikat mengenakan sepatu kecil khusus beraneka warna dan motif.

Beberapa pabrik tetap memproduksi sepatu khusus untuk kaki seroja alias kaki lotus. Lalu makin lama permintaan berkurang. Hingga akhirnya pada tahun 1999, pemilik pabrik sepatu Lotus terakhir di Harbin mengirim sepatu teratai emas ke museum untuk diabadikan, demikian mengutip laporan DW.com.