Prabowo Sebut Soeharto Berkali-kali Selamatkan RI dari Krisis


SURATKABAR.ID – Menurut Calon Presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto, Presiden kedua RI Soeharto ialah orang yang pernah menyelamatkan bangsa Indonesia dari krisis. Datang pada pukul 20.15 WIB, Prabowo tampak ditemani kedua rekannya yakni Dewan Pembina Partai Gerindra, Maher Algadri dan Fuad Bawazier. Prabowo tampak mengenakan jas Betawi dengan kain songket cokelat dililitkan di bagian pinggang.

“Beliau sangat berjasa bagi bangsa,” ungkap Prabowo saat ditemui di rumah Cendana, Jalan Cendana No. 8, Jakarta Pusat, dalam rangka Haul Soeharto di Jakarta Pusat, Kamis (27/09/2018), mengutip laporan Tempo.co, Jumat (28/09/2018).

Acara haul tersebut digelar tertutup. Tampak juga hadir Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), Sekjen Partai Berkarya Priyo Budi Santoso, Tommy Soeharto, Siti Hediati Hariyadi (Titiek Soeharto), dan Siti Hardijanti Rukmana (Tutut Soeharto). Prabowo yang juga merupakan Ketua Umum Partai Gerindra tersebut hanya mengikuti acara yang tersebut selama 30 menit.

Ia pun tak berkomentar banyak mengenai Soeharto—sang pemimpin Orde Baru yang berkuasa selama 32 tahun tersebut.

“Beliau adalah Bapak Bangsa, Bapak Pembangunan, berkali-kali menyelamatkan negara dalam keadaan krisis,” tutur Prabowo, melansir laporan Kompas.com.

Baca juga: Demokrat: Perasaan Terdalam Yenny Wahid Tidak Mendukung Jokowi

Sewaktu ditanya lagi, Prabowo menjawab, “Tadi pagi saya bertemu ibu Rahmawati Soekarnoputri. Malam ini saya dengan keluarga Pak Harto,” tukas Prabowo.

Prabowo melanjutkan, sosok Soeharto yang merupakan Bapak Pembangunan Indonesia tersebut sangat pantas untuk dikenang oleh seluruh bangsa, mengingat jasanya bagi negara. Meski demikian, mantan Danjen Kopassus itu tak mengungkapkan dengan terperinci jasa-jasa Soeharto bagi Indonesia.

“Ya saya kira beliau sangat berjasa bagi bangsa dan negara. Saya kira pantaslah kita selalu mengenang jasa-jasa beliau,” imbuh Prabowo.

Kilas Balik Jasa Soeharto

Terlepas dari kelemahan Soeharto, baik sebelum, selama, juga setelah menjabat sebagai Presiden RI, seperti yang terekam dalam banyak referensi, Soeharto yang dijuluki The Smiling General ini memberikan jasanya untuk Indonesia.

Selama Orde Baru, Soeharto mencanangkan perbaikan untuk Indonesia. Lewat pembangunan terencana yang diaplikasikan melalui tahapan Repelita, ia yakin Indonesia akan tinggal landas pergantian milenium, tahun 2000, meski akhirnya itu tidak pernah terjadi.

Tahun 1984, contohnya, sebagaimana ditukil dari laporan Tirto.ID, Indonesia meraih swasembada pangan yang membuat Soeharto mendapat kehormatan berpidato dalam Konferensi ke-23 Food and Agriculture Organization (FAO) di Roma, Italia, pada 14 November 1985. Soeharto juga memberikan bantuan 100.000 ton padi untuk korban kelaparan di Afrika.

Soeharto juga membangkitkan Indonesia dari keterpurukan ekonomi. Tahun 1967, negeri ini punya utang luar negeri sebesar 700 juta dolar AS, dan Soeharto dibantu para pakar ekonomi, terutama Soemitro Djojohadikoesoemo, membalikkan keadaan yang berpuncak pada swasembada pangan pada 1984 (Laidin Girsang,Indonesia Sejak Orde Baru, 1979:41).

Program Keluarga Berencana (KB) juga menjadi salah satu prestasi Soeharto. Ia meyakini kenaikan produksi pangan yang besar tak akan banyak artinya jika jumlah penduduk tak terkendali. Misi KB adalah tercapainya jumlah penduduk yang serasi dengan laju pembangunan.

Soeharto merangkul Majelis Ulama Indonesia (MUI) untuk memuluskan program KB yang sempat mendapat penolakan dari kaum agamis. Fatwa MUI tentang KB membuat masyarakat tenang karena merasa tidak melanggar ajaran agama (Nazaruddin Sjamsuddin, Jejak Langkah Pak Harto:16 Maret 1983-11 Maret 1988,1992:51).

Langkahnya berhasil. Angka kematian bayi dapat ditekan, juga usia harapan hidup rata-rata orang Indonesia yang semula hanya 41 tahun pada 1965, meningkat menjadi 63 tahun pada 1994.

Keberhasilan ini menghasilkan pujian dari UNICEF. Soeharto pun diganjar UN Population Award, penghargaan tertinggi PBB di bidang kependudukan, yang diberikan langsung oleh Sekjen Javier de Cuellar pada 8 Juni 1989 di Markas Besar PBB, New York.

Pengakuan untuk Soeharto tak hanya datang dari dalam negeri. Ia mengoleksi 37 tanda kehormatan dari berbagai negara di dunia (Dewi Ambar Sari & Lazuardi Adi Sage, Beribu Alasan Rakyat Mencintai Pak Harto, 2006: 29).

Diketahui, Soeharto wafat pada 27 Januari 2008 bertepatan dengan 18 Muharram 1329 H. Haul Soeharto diperingati setiap 18 Muharram yang jatuh pada 28 September 2018.

Poling #Pilpres2019 SuratKabar.id
Jika Pilpres 2019 dilaksanakan hari ini, pasangan mana yang akan anda pilih?
Klik 'Vote!' untuk melihat hasil polling sementara.