Nestapa Siti Khotijah yang Harus Terima Rumahnya Diisolasi Tembok Tetangga Cuma Gara-Gara Air Cucian


SURATKABAR.ID – Beberapa waktu lalu warganet dihebohkan dengan kasus yang menimpa Eko Purnomo (37), warga RT 05 RW 06 Kampung Sukagalih, Desa Pasirjati, Kecamatan Ujungberung, Kota Bandung, Jawa Barat, kini kisah serupa kembali mengejutkan masyarakat.

Kali ini, seperti yang dihimpun dari Kompas.com, pada Selasa (25/9/2018), penderitaan serupa harus dirasakan pasangan suami istri (pasutri) Siti Khotijah (35) dan Abdul Karim (40). Sejak Februari 2018, keluarga kecil ini hidup terkurung tembok tetangga.

Menempati rumah di Desa Sudimoro, Kecamatan Megaluh, Kabupaten Jombang, Jawa Timur sejak tahun 2006, pasangan yang sudah dikaruniai seorang anak ini sekarang harus bersusah payah setiap kali akan keluar masuk rumahnya sendiri dengan cara melompati tembok tetangga.

Nestapa keluarga malang ini berawal mula pada enam bulan yang lalu. Ketika itu, Siti tengah mencuci kendaraan miliknya di depan rumah. Dan rupanya air yang digunakannya untuk mencuci meluber dan sampai menggenangi lahan kosong di depan tempat tinggalnya.

Ternyata air genangan bekas cucian motor itu menyulut emosi Seger, tetangga Siti, pemilik lahan kosong yang merupakan jalan milik pribadi tersebut. Cuma gara-gara hal sepele, mereka pun terlibat dalam pertengkaran penuh perdebatan, hingga muncul klaim kepemilikan tanah.

Baca Juga: Akses ke Rumahnya Diblokade Tembok Tetangga, Kasus yang Menimpa Eko Bikin Ngelus Dada

Ogah damai, tak berselang lama sang tetangga membangun tembok dengan bata merah, semen, dan pasir setinggi 1 meter dan panjang 6 meter tepat di depan rumah pasangan Siti Khodijah dan Abdul Karim. Sejak dibangunnya tembok, Siti pun kehilangan akses jalan keluar masuk rumah.

“Awalnya bertengkar. Saya tidak menyangka kalau dia akan membangun tembok di sini,” ungkap Siti ketika ditemui, pada Selasa (25/9).

Jika ingin keluar masuk rumah, Siti sekeluarga terpaksa harus melintasi pinggir rumah sang kakak yang berbatasan dengan tembok milik tetangganya. Padahal gang tersebut teramat sempit untuk dilalui orang dewasa. Atau mereka bisa melompati tembok pagar yang dibangun Seger.

Upaya Pencarian Keadilan Berakhir Buntu

Selama 6 bulan kehilangan akses keluar masuk tempat tinggalnya sendiri, bukan berarti Siti dan Abdul hanya berdiam diri pasrah menerima keadaan. Keduanya sempat melakukan mediasi. Namun upaya yang dilakukan oleh perangkat desa setempat harus berakhir tanpa jalan keluar yang adil bagi keluarga Siti.

Ibu satu anak tersebut hanya bisa meminta pertolongan ‘darurat’ dari Sri Utami, sang kakak yang untungnya tinggal di rumah sebelah. Sri dan suaminya, Eko, harus berbesar hati berkorban dengan menjebol tembok dapur rumah demi memberi akses layak kepada adik dan keluarganya untuk keluar masuk rumah tanpa kesulitan.

Akhirnya, setelah Sri mengorbankan tembok dapurnya dibongkar, kini Siti pun bisa bebas keluar masuk rumah melalui pintu darurat di dapur sang kakak. “Sekarang kalau keluar, lewat jalan di dapur rumah kakak saya,” ungkap Siti pasrah.