Menilik Sejumlah Prestasi Presiden Jokowi


    SURATKABAR.ID – Menyoal masa pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) dan Jusuf Kalla (JK) selama 3 tahun, muncul pertanyaan mengenai kinerja dan prestasi keduanya, apa yang paling menonjol? Jawaban pertama yang langsung muncul adalah pembangunan infrastruktur. Pada sektor ini, capaian pemerintah dinilai paling menonjol dan gemilang.

    Merujuk data terakhir berkenaan progres pembangunan nasional, sebesar 42% atau sebanyak 94 proyek nasional tengah memasuki tahap konstruksi. 5% atau 13 proyek lainnya tengah memasuki tahap transaksi dan 83 proyek (37%) masuk tahap perencanaan, demikian dikutip dari laporan OkeZone.com, Senin (24/09/2018).

    Sementara itu, laporan Detik.com juga menyertakan prestasi Menteri Susi Pudjiastuti dalam hal kelautan sebagai bagian dari hasil kerja pemerintahan Jokowi-JK.

    Di sisi lain, demi meningkatkan kesejahteraan masyarakat Indonesia, pemerintah pada akhir 2014 juga meluncurkan Program Simpanan Keluarga Sejahtera, Program Indonesia Pintar, dan Program Indonesia Sehat hari ini di lima Kantor Pos di Jakarta, termasuk Kantor Pos Pasar Baru, Kantor Pos Kebon Bawang, Kantor Pos Jalan Pemuda, Kantor Pos Mampang, dan Kantor Pos Fatmawati.

    Melansir reportase Liputan6.com, secara bertahap pemerintah membagikan kepada 15,5 juta keluarga kurang mampu di seluruh Indonesia, yakni Kartu Keluarga Sejahtera (KKS), yang menggantikan Kartu Perlindungan Sosial (KPS) sebagai penanda keluarga kurang mampu; Kartu HP (SIM card) yang berisi uang elektronik yang digunakan untuk mengakses Simpanan Keluarga Sejahtera; Kartu Indonesia Pintar (KIP), sebagai penanda penerima manfaat Program Indonesia Pintar; dan Kartu Indonesia Sehat (KIS), sebagai penanda penerima manfaat Program Indonesia Sehat.

    Baca juga: Tempati Peringkat Ke-2 Terbawah Setelah Afrika, Indonesia Darurat Matematika!

    Survey Populi Center 2018

    Adapun berdasarkan survey nasional yang dilakukan oleh Populi Center pada tanggal 14-22 April 2018 lalu, dari sejumlah kebijakan yang telah diambil oleh pemerintah, masyarakat dminta melakukan penilaian terkait apa prestasi atau keberhasilan Presiden Jokowi yang paling menonjol selama 3 tahun pemerintahannya. Hasilnya adalah sebagai berikut:

    • Sebanyak 24,8% menyatakan pembagian Kartu Indonesia Pintar, Sehat dan Sejahtera merupakan prestasi Jokowi yang paling menonjol.
    • Di peringkat keduanya, sebanyak 21,0% menjawab bahwa penyaluran dana desa merupakan keberhasilan kedua menonjol dari Presiden.
    • Kemudian di peringkat ketiga, adalah pembangunan infrastruktur. Sebanyak 16,6% responden menjawab bahwa pembangunan tol laut, pelabuhan, rel kereta, jalan tol lintas provinsi merupakan hasil kerja terbaik Presiden selama ini.
    • Di peringkat keempat, 5,9% masyarakat menjawab bahwa reformasi pelayanan perizinan dalam pelayanan terpadu satu pintu merupakan hasil yang paling menonjol.
    • Peringkat kelima, 3,9% masyarakat menjawab pembagian sertifikat tanah.
    • Peringkat keenam, 2,9% masyarakat mengaku puas dengan kebijakan pemerintah terhadap saber pungli.
    • Peringkat ketujuh, sebanyak 2,6% responden menjawab yang paling menonjol adalah penyamarataan harga BBM di wilayah Papua.
    • Peringkat kedelapan, masih 2,6% responden menganggap pembangunan daerah perbatasan dan pulau terluar telah sukses ditonjolkan Presiden Jokowi sebagai hasil kerjanya.
    • Peringkat kesembilan, 2,6% responden lainnya menyatakan bahwa pengalihan subsidi BBM ke sektor produktif merupakan perubahan yang paling menonjol.
    • Peringkat kesepuluh, 0,9% masyarakat menjawab bahwa Presiden Jokowi menonjol dalam pemberantasan berita bohong/ hoax dan ujaran kebencian.
    • Peringkat kesebelas, 0,8% masyarakat percaya Jokowi menonjol dalam peran aktifnya untuk ikut menjaga perdamaian dunia.
    • Peringat kedua belas, 0,6% responden percaya Jokowi terbaik dalam pembangunan 35.000 Megawatt listrik.
    • Peringkat ketiga belas, 0,5% responden menjawab kinerja Jokowi paling menonjol dalam bidang lainnya seperti korupsi, pendidikan, dll.
    • Sementara itu, di peringkat keempat belas, sebanyak 14,4% masyarakat mengaku tidak tahu menahu mengenai apa prestasi Jokowi yang paling menonjol selama ini.
    Capaian Sektor Infrastruktur

    Lebih lanjut, berikut rangkuman sejumlah capaian pemerintah dalam sektor pembangunan infrastruktur:

    1. Jalan Raya

    Capaian pemerintah dalam pembangunan infrastruktur jalan raya merupakan yang paling berhasil. Sepanjang tahun 2015 hingga 2017, pemerintah telah membangun sepanjang 2.623 KM di seluruh Indonesia. Capaian tersebut sejatinya telah melebihi target yang ditetapkan pemerintah, yakni membangun sepanjang 2.600 KM jalan raya hingga tahun 2019.

    1. Jalan Tol

    Pada sektor ini, pemerintah telah membangun sepanjang 568 KM jalur tol baru, terhitung sejak tahun 2015 hingga 2017. Sepanjang 176 KM jalur tol baru dibangun pemerintah selama tahun 2016. Sementara sisanya, yakni sepanjang 362 KM berhasil dibangun sepanjang tahun 2017.

    Kendati belum mencapai target yang ditetapkan, yakni 1000 KM jalur tol baru hingga tahun 2019, pemerintah optimis target tersebut dapat tercapai. Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Luhut Binsar Panjaitan mengklaim, capaian pemerintah dalam membangun integrasi antar wilayah Indonesia sudah cukup baik.

    “Pembangunan tol sekarang ini kalau kita lihat selama zaman Pak Joko Widodo 3 tahun sudah dibangun 568 kilometer. Kalau dibandingkan yang lain masih lebih paten ini,” ujar Menko Luhut.

    1. Kereta Api

    Pembangunan infrastruktur penunjang perjalanan perkeretaapian pun terus digenjot pemerintah. Di Pulau Jawa, dari target 277 KM, pemerintah telah membangun sepanjang 103 KM jalur ganda lintas Selatan Jawa.

    Sedangkan di Pulau Sumatera, pemerintah nampaknya perlu terus bekerja keras untuk mencapai target. Sebab, dari 1.582 KM yang ditargetkan, pemerintah baru berhasil membangun sepanjang 247 KM jalur Trans-Sumatera.

    Begitu pula di Sulawesi. Dari target sepanjang 399 KM, pemerintah baru berhasil membangun 16 KM jalur Trans-Sulawesi.

    1. Pelabuhan

    Pada sektor kelautan, pemerintah nampaknya betul-betul serius membangun. Sesuai dengan instruksi Jokowi untuk memacu pertumbuhan sektor kemaritiman, pemerintah terus mengejar pembangunan infrastruktur pada sektor ini.

    Infrastruktur pelabuhan misalnya. Sejak tahun 2015, sebanyak 81 pelabuhan telah dibangun pemerintah. Berdasar data, pembangunan yang dilakukan terlihat cukup konsisten, dengan rincian 25 pelabuhan pada tahun 2015, 22 pelabuhan pada tahun 2016 dan melonjak hingga 34 pelabuhan sepanjang tahun 2017.

    1. Bandara

    Terakhir, pada sektor transportasi penerbangan, pemerintah telah membangun tujuh bandara baru dan merehabilitasi serta memodernisasi 439 bandara di seluruh Indonesia.

    Adapun tujuh bandara baru itu adalah Bandara Maratua di Berau, Kalimantan Timur, Bandara Morowali di Sulawesi Tengah, Bandara Letung di Kepulauan Riau, Bandara Tebelin di Kalimantan Barat, Bandara Namnivel di Buru, Maluku, Bandara Werur di Tambrauw, Papua Barat dan Bandara Koroway Batu di Tanah Merah, Papua.

    Peresmian Bandara Maratua dan Morowali dilakukan pada Februari 2017 lalu. Sementara peresmian Bandara Letung dan Tebelin telah dilakukan pada Maret.

    Menteri Perhubungan (Menhub), Budi Karya Sumadi menjelaskan, pembangunan bandara menjadi prioritas pembangunan untuk membebaskan wilayah-wilayah yang terisolasi.

    “Belasan bandara yang sudah kita bangun dan banyak juga yang sudah kita revitalisasi. Dan bandara-bandara yang kita bangun itu bukan saja Soekarno Hatta, tetapi juga bandara-bandara yang ada di Kalimantan, Sulawesi, Maluku Utara dan Papua,” tutur Budi Karya.

    Tinjauan dalam Pembangunan Ekonomi

    Bagaimana dengan pembangunan ekonomi? Mengutip laporan Detik.com, Hasanudin Abdurakhman yang merupakan cendekiawan, penulis dan kini menjadi seorang profesional di perusahaan Jepang di Indonesia mengulas data seputarnya. Pertumbuhan yang ditargetkan sebesar 7% tak tercapai. Angka pertumbuhan hanya berkisar di 5,5%.

    Inflasi cukup terkendali, cadangan devisa cukup bagus. Namun, defisit neraca perdagangan agak tidak terkendali. Puncaknya adalah merosotnya nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika.

    Secara umum fondasi ekonomi masih bagus. Tapi, masih menurut Hasanudin Abdurakhman, tak ada hal istimewa yang bisa dicatat sebagai prestasi menonjol pemerintahan Jokowi. Struktur APBN masih berciri gali lubang tutup lubang; menambah utang baru untuk menutup defisit. Salah satu sumber pengeluaran yang harus ditutup adalah cicilan utang masa lalu yang jatuh tempo.

    Soal ketenagakerjaan, ada sedikit penurunan angka pengangguran terbuka. Titik terendah di periode pemerintahan sebelumnya adalah 5,7%, dengan variasi naik turun di beberapa tahun, saat ini angkanya adalah 5,13%, turun 0,57%. Jika nilai perubahan angka yang dijadikan acuan, SBY membuat perubahan lebih drastis, menurunkan angka pengangguran dari 7,8% pada 2009 menjadi 5,7% tadi.

    Soal Ketenagakerjaan

    Soal tenaga kerja, ada catatan penting mengenai tenaga kerja asing. Tak ada tenaga kerja asing sebesar angka yang beredar di media sosial. Tapi, juga tak bisa dibantah bahwa pemerintah meloloskan buruh-buruh kasar dari Cina dengan fasilitas diskresi, melanggar ketentuan bahwa hanya tenaga ahli yang boleh didatangkan dari luar. Terlepas dari jumlahnya, ia melanjutkan, hal ini menimbulkan kecemburuan di tengah masyarakat.

    Angka kemiskinan turun hingga 9,8%, dengan kontroversi standar kemiskinan. Terlepas dari soal itu, ada hal yang agak luput dari perhatian khalayak, yaituhunger index atau indeks kelaparan. Angka untuk indeks ini adalah 22, jalan di tempat selama pemerintahan Jokowi. Angka ini masuk kategori “serious“. Di masa lalu angka ini pernah lebih tinggi, tapi juga pernah lebih rendah.

    Sebagai tambahan, angka ini termasuk buruk di Asia Tenggara. Kita hanya lebih baik dari Laos dan Myanmar, masih tertinggal dibanding Filipina dan Kamboja, dan jauh di belakang Vietnam, Thailand, dan Malaysia.

    Telaah Bidang Kesehatan

    Dalam soal kesehatan, justru belakangan ini muncul wabah campak dan rubela. Kasus campak meningkat 2 kali lipat selama 2 tahun, dari 2015 ke 2017. Penderita rubela meningkat 3 kali lipat selama periode yang sama. Padahal kasusnya sudah menurun pada 2013. Pemerintah sedang kesulitan memadamkan perlawanan kelompok antivaksin yang berbasis agama. Sebagai akibatnya, tingkat pelaksanaan vaksinasi di berbagai provinsi hanya berkisar 20%. Di provinsi tertentu bahkan ada yang hanya 4%.

    Sementara itu defisit dana BPJS juga makin parah, sehingga pemerintah harus jungkir balik untuk menutupinya. Terakhir dikabarkan bahwa defisit itu hendak ditutup dengan cukai rokok.

    Dalam Dunia Pendidikan

    Dalam dunia pendidikan, Hasanudin Abdurakhman mengungkap tidak ada hal khusus selama pemerintahan Jokowi. Ada 2 kali gagasan full day school hendak dipaksakan untuk diterapkan, dua kali pula gagasan itu ditolak masyarakat, sehingga pemerintah menghentikannya. Entah apa yang dianggap penting oleh pemerintah pada gagasan itu. Selebihnya tak ada yang istimewa.

    Program revolusi mental yang dulu sempat berkumandang saat kampanye, masih belum jelas wujudnya setelah Jokowi jadi Presiden.

    Demikian pula dengan riset dan pendidikan tinggi. Di awal masa kerja kabinet sempat terdengar keinginan untuk melakukan hilirisasi riset, memperkuat kaitan dengan industri, tapi yang terdengar di media adalah penjelasan-penjelasan konyol, menggambarkan mentahnya gagasan itu. Pada akhirnya yang terdengar hanyalah gebrakan Menristek Dikti terhadap perguruan tinggi abal-abal, yang juga hanya panas sesaat.

    Seperti diketahui, tinjauan seputar kinerja dan prestasi Jokowi saat ini tengah menjadi sorotan masyarakat sebagai tolok ukur—adakah alasan cukup kuat bagi rakyat untuk mengatakan bahwa Jokowi perlu dipilih kembali?

    [wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]