Geliat ‘Partai Wong Cilik’ PDIP Demi Memikat Suara Milenial


SURATKABAR.ID – Demi citra yang lebih menyentuh benak kaum muda masa kini, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) harus pandai-pandai memoles diri jika tak ingin pangsa suaranya tergerus menjelang pemilihan umum 2019. Menyadari hal itu, mereka menggunakan jurus baru demi memikat pemilih dari generasi milenial. Mereka lantas meluncurkan atribut dan slogan untuk Pemilihan Umum 2019. Partai berlambang moncong putih tersebut mencoba beranjak dari citra partai ‘kaum tua’ dan wong cilik.

Mengutip laporan CNNIndonesia.com, Minggu (23/09/2018), cara mereka untuk menggaet pemilih muda diperkuat dengan langkah nyata. Mereka meluncurkan atribut pakaian yang akrab dengan generasi milenial. Jaket bertudung (hoodie), kaus, tas kanvas, hingga botol minum (tumblr) berlogo banteng hitam bermoncong putih pun dirilis.

Mereka pun menggelar peragaan busana untuk memamerkan ‘koleksi’ atributnya. Mereka memilih hal itu karena muda-mudi saat ini dikenal gemar bergaya dalam berbusana.

Para caleg artis dari PDIP seperti Krisdayanti, Kirana Larasati, Angel Karamoy dan vokalis Band Radja, Ian Kasela, tampak hadir dan ikut ambil bagian dalam peragaan busana atribut milenial tersebut.

Tak hanya itu, Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto juga turut melakukan peragaan busana. Dia berjalan bak model dengan mengenakan hoodie merah berlambang PDIP, kacamata hitam, sambil membawa tumblr.

Baca juga: Luncurkan Atribut Milenial, Megawati: Masak Sih PDIP Tak Menang Pemilu? Pastilah Menang

Menurut Hasto, segala tingkah dan atribut serba anak muda itu bertujuan untuk menarik minat para pemilih milenial.

“Jadi di sini hari ini kita luncurkan sebagai apresiasi PDIP terhadap kaum milenial. Bung Karno mengatakan ‘berilah 10 pemuda maka saya bisa mengubah dunia’,” terang Hasto di Kantor DPP PDIP, Jakarta, Kamis (20/09/2018).

Senada dengan Hasto, Pengamat Politik Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Adi Prayitno menilai langkah yang dilakukan PDIP ialah untuk menarik suara kaum milenial di Pemilu 2019.

“Itu ingin mengikuti tren politik saat ini yaitu tren politik milenial,” tutur Adi saat dihubungi tim pers, Kamis (20/09/2018).

Adi menambahkan, mata PDIP mulai terbuka melihat potensi jumlah pemilih milenial yang sangat besar, sehingga mau tak mau harus bisa memikat hati mereka. Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umun (KPU) jumlah pemilih pemula Pemilu 2014 berusia 17-20 sekitar 14 juta orang dan usia 20-30 sekitar 45,6 juta jiwa.

Jumlah itu bahkan meningkat untuk Pilpres 2019. Menurut data Badan Pusat Statistik, jumlah pemilih pemula mencapai 60 juta orang sementara pemilih pemuda yakni yang berumur di bawah 35 tahun mencapai 100 juta orang.

“Itu didasarkan pada satu argumen didasarkan pada satu temuan bahwa bahwa pemilih dan jumlah milenial kita cukup signifikan hampir 50 persen kalau dipersentase,” demikian ia menjelaskan.

Belum Tentu Berhasil

Pendapat Adi, asumsinya, siapapun yang bisa menarik suara milenial kemungkinan besar dapat memenangkan Pemilu 2019. Itulah yang mendasari PDIP latah mencitrakan diri sebagai partai milenial dengan segala atribut dan gimmick-nya.

Padahal langkah PDIP jadi milenial ini belum tentu menguntungkan. Adi menambahkan, meskipun jumlahnya banyak, pemilih milenial ini tidak begitu tertarik dengan politik. Pandangan Adi, milenial yang jumlahnya begitu banyak itu justru mengabaikan politik.

“Anak muda itu agak sedikit jarang, anak muda itu agak sedikit alergi bicara tentang politik,” tukas Adi.

Senada, menurut Peneliti Politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Siti Zuhro langkah PDIP mencitrakan diri sebagai partainya anak muda ini belum tentu berhasil menarik suara para milenial.

“Perilaku pemilih milenial yang harus dipahami apa aspirasinya mereka apa yang membuat mereka bangga, jadi partai politik ndak terus latah enggak jelas begitu,” beber Siti.

Kembali ke Akar

Kata Adi, daripada memaksakan diri menjadi milenial, PDIP harusnya fokus pada slogan-nya yakni ‘Partainya Wong Cilik’. Sebab, PDIP menjadi besar seperti saat ini karena kesetiaan para pemilihnya yang berasal dari kalangan ‘wong cilik’.

“Suka enggak suka, PDIP itu besar karena membela kelompok lemah petani dan seterusnya mestinya itu yang pertama kali ditonjolkan,” tuturnya.

Adi kemudian melanjutkan, PDIP seharusnya tak perlu mencitrakan diri berlebihan sebagai partainya anak muda demi menggaet milenial. Hal itu dikhawatirkan dapat mengubah citra PDIP menjadi partai yang karakteristik dan ideologinya tak jelas dan hanya mengikuti arus.

“PDIP kan garis perjuangannya jelas, jangan karena hanya arah mata angin yang sekarang generasi milenial berkembang kemudian partainya dirubah janganlah latah berpolitik itu,” tandasnya.