Buwas Sebut Gudang Beras Penuh, Kepala Bulog Sumbar Ungkap Fakta Mengejutkan


SURATKABAR.ID – Direktur Utama Bulog Budi Waseso menegaskan bahwa Indonesia tak memerlukan impor beras. Sebab, gudang-gudang Bulog sudah penuh dan telah mencukupi untuk memenuhi kebutuhan konsumsi beras nasioanl.

Bahkan, pria yang akrab disapa Buwas ini meminta Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita untuk menggunakan Kantor Kementerian Perdagangan sebagai gudang beras untuk menampung beras impor.

Lantas, benarkah gudang-gudang beras Bulog telah penuh? Kepala Bulog Divisi Regional Sumatra Barat (Sumbar), Suharto Djabar mengungkapkan fakta mengejutkan soal ini.

Ia menjelaskan, secara menyeluruh cadangan beras di seluruh Sumbar berjumlah 21 ribu ton. Dari total jumlah itu, 11.500 ton diantaranya merupakan beras serapan lokal, termasuk dari Lampung.

Baca juga: Janji Serap Gabah Petani, Buwas Akan Jadikan Kantor Mendag Sebagai Gudang

Selain itu, seluruh gudang telah dinyatakan full capacity. Meski begitu, Bulog masih harus menampung 4.000 ton beras yang dijadwalkan tiba pada akhir September 2018 mendatang. Artinya, Sumbar harus menyimpan 25 ribu ton beras.

“Memang kondisinya demikian. Pak Dirut (Buwas) tentu menyampaikan kondisi di lapangan. Ketersediaan gudang Bulog sangat terbatas. Bahkan kami kami sewa gudang swasta. Biaya tentu membengkak,” ujar Suharto, Kamis (20/9/2018), dilansir republika.co.id.

Bahkan, di Kota Padang Bulog terpaksa menyewa dua unit gudang di kawasan pergudangan Contindo milik swasta. Untuk menyewa gudang tersebut, Bulog dikabarkan harus membayar biaya sewa ratusan juta rupiah per bulan.

Sementara itu, untuk menyediakan ruang penyimpanan 4 ribu beras yang akan tiba akhir September ini, pemerintah menyepakati akan mempercepat bantuan sosial beras sejahtera (rastra).

Bulog diberi izin untuk menyalurkan rastra pada keluarga miskin untuk tiga bulan sekaligus. Sehingga, sekali penyaluran akan dibagikan rastra selama September-Oktober 2018. Dengan begitu, akan disalurkan 6.900 ton beras sekaligus.

“Dengan percepatan ini gudang kita ada space untuk tampung 4.000 ton dari Jawa tadi. Rata-rata gudang di Jawa penuh terisi beras impor. Sehingga di ‘movenas’ artinya dipindah ke daerah yang masih bisa menampung,” lanjut Suharto.

Ia pun menyayangkan keputusan Kementerian Perdagangan mengenai impor beras. Meski begitu, pihaknya mengaku tunduk pada ketetapan pemerintah.

Namun, jika memang impor tetap dilakukan, Bulog harus menyewa gudang-gudang tambahan. Dengan begitu, pemerintah juga harus siap menerima kenyataan bahwa biaya pengelolaan beras bakal membengkak.

“Kalaupun itu (impor) terlaksana, kami harus susah payah cari gudang swasta. Artinya kalau sewa ada cost yang dikeluarkan oleh Bulog. Karena selama ini semua impor diperhitungkan masuk gudang Bulog,” terangnya.