PDIP: Ini Abad 21 Kerja Pakai Data Bukan Mitos, Sindir Kubu Lawan?


SURATKABAR.ID – Politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Budiman Sudjatmiko menyampaikan bahwa untuk sukses dan berdiri di barisan depan dalam menghadapi revolusi industri, maka  Indonesia harus sanggup memanfaatkan segala potensi yang dimiliki.

Pernyataan tersebut, seperti yang dilansir dari laman JawaPos.com pada Kamis (20/9/2018), diungkapkan Budiman di tengah acara deklarasi Inovator 4.0 yang digelar di Menteng, Jakarta Pusat kemarin malam.

“Dalam revolusi industri, Indonesia harus memilih, mau jadi penumpang atau memimpin di depan? Sebab negeri ini punya potensi,” tutur Budiman, Kamis (20/9) malam.

Politisi PDIP ini menyampaikan, potensi besar tersebut semakin jelas terlihat pada saat sebanyak 200 inovator yang berasal dari berbagai disiplin keilmuan, mulai dari politisi progresif, tenaga pendidik, hingga wirausahawan sosial, bersedia bergabung dalam gerakan Inovator 4.0.

“Mereka banyak yang berasal dari desa dan kota, dan bahkan warga Indonesia yang studi di luar negeri. Kami bangga karena mereka mau berkumpul tanpa bertanya dapat apa,” ujarnya lebih lanjut.

Baca Juga: Hasil Sementara Polling Pilpres 2019 Mata Najwa, Tak Disangka Prabowo Sukses ‘Pecundangi’ Jokowi

Anggota Komisi II DPR RI ini menjelaskan bahwa Inovator 4.0 merupakan kelompok yang sangat menyadari bahwa perkembangan alat dapat sangat jauh lebih cepat daripada ide. “Makanya kita tak mau manusia sebagai makhluk yang punya ide ini tertinggal,” jelas Budiman.

“Ingat Amerika punya Silicon Valley, China ada Alibaba. Lalu apa ekspresi perkembangan teknologi dari Indonesia? Nah, Inovator 4.0 mau mencari tahu soal itu,” imbuhnya.

Adapun kehadiran Inovator 4.0 ini, jelas Budiman, merupakan modal paling penting dalam mewujudkan pembangunan berlandaskan data-data yang akurat. Pasalnya, menurutnya, membangun Indonesia dengan data baru dapat terwujud setelah menguasai ilmu pengetahuan lalu menggabungkannya dengan jaringan sosial.

“Ini sudah abad 21, kerja harus pakai data bukan mitos. Karena data adalah data, dirangkai jadi cerita. Mereka yang mencerdaskan individu dan perkakas harus bersatu,” tegasnya.

Acara deklarasi Inovator 4.0 juga menyinggung peran penting RUU Pengelolaan Pemerintahan Kecerdasan Buatan sekaligus juga meluncurkan tagar #2019WarasBareng yang bertujuan mengingatkan Indonesia akan kebutuhan bangsa pada sosok pemimpin yang memiliki visi serta berpihak pada kemajuan, juga politisi yang pro revolusi digital maupun biologi di segala tingkatan.

Jelang peristiwa politik Pemilihan Umum (Pemilu) 2019, kata Budiman, merupakan momen bersejarah dan menjadi ujian akhir bagi Indonesia dalam menemukan pemimpin bervisi yang dekat dengan seluruh rakyat, bukan hanya sosok pemimpin yang datang dari klan politik dan bisnis di masa lalu.

“Kami memilih untuk berpihak pada kemajuan Indonesia. Ini bukan hal yang mudah tapi juga bukan mustahil, karena kami percaya bahwa saat ilmu pengetahuan dan teknologi menyatu dengan jejaring sosial, tak ada perbuatan besar yang tak mungkin,” ujar Budiman, dikutip dari Liputan6.com, Rabu (19/9).

Turut hadir sebagai pemateri diskusi dalam acara deklarasi Inovator 4.0 adalah Sabda PS selaku founder Zenius Education, Mariya Mubarika penggagas revisi UU Pendidikan Kedokteran, Cyril Raoul Hakim seorang pengusaha sekaligus pegiat sosial.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]