Allahuakbar! Wafat Saat Salat Sunah di Raudhah, Jenazah Nenek Zulbaidah Bikin Takjub Petugas


SURATKABAR.ID – Sudah bukan rahasia lagi bahwa untuk memasuki kawasan Raudhah di Masjid Nabawi merupakan perkara yang begitu sulit. Ketika jamaah sedang membludak, seperti pada beberapa hari belakangan ini, antrean menuju area berkarpet hijau tersebut bisa mengular begitu panjang.

Hanya pada waktu-waktu tertentu saja, lokasi yang terletak antara tempat tinggal Rasulullah dan mimbar lama dari Masjid Nabawi tersebut dikhususkan untuk kaum wanita.

Dilansir dari laman Republika.co.id, Rabu (19/9/2018), pada Sabtu (15/9), sekitar pukul 20.00 waktu setempat, Zulbaidah Mak Abad (61) menjadi salah satu jamaah perempuan yang beruntung dapat menginjakkan kaki di wilayah tersebut setelah sempat berhimpitan di tengah kerumunan jamaah lain.

Jamaah asal Aceh Selatan tersebut lantas bersiap-siap melaksanakan salat sunah di dalam Raudhah. Namun batas umur manusia tidak ada yang bisa menduga. Ketika baru mengangkat tangan bertakbiratul ihram, ia tiba-tiba kehilangan kekuatan.

“Padahal menurut teman-teman serombongannya, sebelumnya jamaah tersebut baik-baik saja, ndak ada tanda-tanda sakit,” ungkap Kepala Seksi Perlindungan Jamaah Daker Madinah Maskat Ali Jasmun ditemui di Madinah, pada Senin (17/9).

Baca Juga: Miliki Firasat dan Tinggalkan Wasiat, Imam Masjid Ini Meninggal Ketika Sholat Jumat

Maskat mengungkapkan bahwa ia menerima laporan dari salah seorang petugas yang berada di lapangan yang menyebutkan setelah Zulbaidah roboh, sejumlah askar perempuan di Masjid Nabawi dengan bantuan petugas pendukung PPIH Arab Saudi sudah berupaya memberikan pertolongan.

Namun demikian nyawa Zulbaidah tak dapat diselamatkan. Menurut data PPIH Arab Saudi, pihak rumah sakit menyatakan nenek berusia 61 tahun itu meninggal dunia pada pukul 20.15.

Bagi umat Muslim yang wafat di antara lokasi kediaman Rasulullah dan mimbarnya, menurut Shahih Bukhari dan Muslim, disebut Rasulullah terdapat sepetak taman di surga Allah.

Lebih lanjut, Maskat mengungkapkan, tepat dua minggu sebelumnya, suami Zulbaidah yang bernama Muhammad Hasan Amin telah terlebih dahulu berpulang menghadap Sang Pencipta. Muhammad Hasan meninggal setelah sempat menjalani perawatan di rumah sakit Arab Saudi di Makkah.

Berdasarkan catatan dari PPIH Arab Saudi, suami Zulbaidah meninggal dikarenakan penyakit pernapasan yang memang dideritanya.

Rekan-rekan Zulbaidah, diungkapkan Maskat, mengatakan bahwa Zulbaidah kerap menunjukkan raut wajah penuh duka. Wanita paruh baya tersebut terlihat tidak khusyuk menyempurnakan ibadah umrah di Masjidil Haram lantaran terus teringat sang suami yang sedang dirawat.

“Dia mengeluh karena nggak bisa menemani sampai akhirnya suami meninggal,” ujar Maskat.

Sementara itu, salah satu petugas sektor khusus Masjid Nabawi Jasaruddin, membenarkan pengakuan Maskat. Kepada tim Media Center Haji (MCH) di Madinah, Jasaruddin memaparkan Zulbaidah yang merupakan jamaah Kloter 09 BTJ itu meninggal saat tengah melaksanakan salat sunah di kawasan Raudhah, tepatnya ketika takbiratul ihram.

“Hanya saja menurut pengakuan teman satu kamarnya yang juga ikut membantu memberikan pertolongan, saat diangkat perempuan tersebut sudah tidak tertolong lagi,” ujar Jasaruddin, pada Senin (17/9) lalu.

Jasaruddin mengungkapkan, ia dibantu Tim Gerak Cepat (TGC) bergegas ke lokasi begitu mendapat kabar ada jamaah yang pingsan. Mereka segera membantu evakuasi Zulbaidah ke mobil ambulans.

“Subhanallah, almarhumah terlihat putih bersih, muka bercahaya dan tersenyum,” sebut Jasaruddin.

Dan sesuai dengan peraturan Kerajaan Saudi, jenazah Zulbaidah langsung dikebumikan di Makam Baqi, kompleks pemakaman yang terletak di bagian timur Masjid Nabawi. Makam Baqi sendiri merupakan lokasi makam sejumlah keluarga serta sahabat Rasulullah. Sedangkan sang suami telah terlebih dahulu dikuburkan di Makkah.

Mengintip data Siskohat Dirjen PHU Kemenag, Muhammad Hasan Amin dan Zulbaidah bertempat tinggal di Cot Muling Kedai Panjang, Kluet Utara, Aceh Selatan. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, keduanya melaut sebagai nelayan.

Dari hasil dari melaut tersebutlah mereka berhasil melunasi biaya haji pada 23 April 2018 lalu. Seharusnya Kloter 09 Banda Aceh dijadwalkan pulang ke kampung halaman pada Sabtu (22/9) melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdulaziz, Madinah.