Kontroversi Penyebutan Ulama, MUI Beberkan 3 Tahap Yang Harus Dilalui Sandiaga


SURATKABAR.ID – Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Hidayat Nur Wahid menyatakan Sandiaga Uno layak disebut ulama karena ilmunya di bidang ekonomi.

Sebelumnya, Hidayat mengatakan Sandiaga sudah pada level ulama, berdasarkan pedoman surat As Syura dan Al Fatih dalam Alquran.

“Kedua-duanya justru ulama itu tidak terkait dengan keahlian ilmu agama Islam. Satu tentang ilmu sejarah yaitu dalam surat As Syura, dan surat Al Fatir itu justru science, scientis. Jadi kalau kemudian Pak Sandi, menurut saya sih Pak Sandi itu ya ulama, dari kacamata tadi,” kata Hidayat di Gedung DPR RI, Selasa (18/9/18) dilansir dari idntimes.com.

Menurut Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI) Amirsyah Tambunan, ada tiga tahap yang harus dilalui untuk meloloskan pernyataan tersebut.

Baca Juga: PKS Sebut Sandiaga Sebagai Ulama. PSI: Ini Menggelikan dan Menyebalkan

“Kasus ini harus dilihat dari sisi akademis. Secara akademis, orang bisa disebut ulama setelah melalui tiga tahap, yaitu identifikasi, kualifikasi, dan uji kompotensi,” kata Amirsyah, Rabu (19/09/18) dilansir dari tempo.co.

Tahap identifikasi dilakukan untuk mengetahui latar belakang seseorang. Lalu, tahap kualifikasi ialah menilai apakah benar calon ulama ini mendalami ilmu tertentu secara spesifik dan mempunyai pengetahuan mendalam di bidang agama. Selanjutnya, tahap uji kompetensi ialah gong untuk membuktikannya.

Dosen Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta itu berujar bahwa pihak yang berhak mengawal tiga tahap tersebut adalah perguruan tinggi dengan domain keagamaan. “Tidak bisa sembarangan perguruan tinggi atau lembaga,” ujarnya.

Terlepas dari nuansa politik, kata dia, Amirsyah membenarkan bahwa anggapan sebagian orang yang menyatakan Sandiaga adalah ulama mungkin saja sah. Sebab, merujuk pada makna katanya, ulama adalah seseorang yang berilmu tinggi dan takut kepada Allah. Namun, harus dibuktikan.

“Konteks penyebutan ulama pada kasus Sandiaga Uno itu tercetus karena ia memiliki kompetisi, keilmuan, kepahaman yang mendalam, dan komprehensif di bidang ekonomi,” ujarnya.

Adapun ulama sebenarnya bisa dikategorikan dalam dua hal, yakni ulama perorangan dan kelembagaan. Perorangan berarti seseorang kudu melalui tiga tahap akademis seperti yang dijelaskan Amirsyah. Sedangkan, secara kelembagaan berarti seseorang harus bergabung dengan lembaga keulamaan resmi seperti MUI. Ulama yang dinaungi oleh lembaga keulamaan resmi ini memiliki surat keputusan dan pengesahan dari lembaga hukum dan HAM.