Kowani Ingin Istilah Emak-Emak Diganti Ibu Bangsa, Gerindra: Itu Apa Sih?


SURATKABAR.ID –  Ketua Umum Kowani (Kongres Wanita Indonesia) Giwo Rubianto mengkritik istilah the power of emak-emak yang sering disebut bakal cawapres Sandiaga Uno. Menurut Kowani perempuan memiliki peran yang besar dalam kehidupan bangsa.

Giwo menuturkan konsep tentang perempuan Indonesia hingga lahir terminologi ibu bangsa yang dirumuskan sejak Indonesia belum merdeka itu bukan tanpa tujuan ketika dibuat.

Ibu bangsa, kata dia, memiliki makna perempuan sebagai kaum yang memiliki tugas kehormatan untuk mempersiapkan generasi bangsa yang unggul dan berwawasan kebangsaan yang militan.

Menurut Gerindra, kritikan tersebut merupakan hal yang wajar.

Baca Juga: Tidak Setuju Disebut Emak-Emak, Kowani: Perempuan Indonesia Adalah Ibu Bangsa

“Ya, kan dalam berdemokrasi orang sepakat dan nggak sepakat kan biasa aja. Apalagi kalau pidato di depan Pak Jokowi, wajar dong, menolak the power of emak-emak,” kata Anggota Badan Komunikasi DPP Gerindra Andre Rosiade dilansir dari detikcom, Minggu (16/9/18).

Gerindra tak mempersoalkan kritikan tersebut. Sebab faktanya, istilah the power of emak-emak tetap diterima oleh masyarakat.

“Tetapi faktanya the power of emak-emak ini viral dan memang digandrungi oleh emak-emak,” terang Andre.

Giwo lebih memilih sebutan The Power of Ibu Bangsa. Andre sendiri mengaku baru mendengar istilah itu.

“Nggak tahu saya, nggak ngerti saya itu. Ibu Bangsa itu apa sih?” ujar Andre.

Giwo menyampaikan kritik terhadap istilah the power of emak-emak saat memberikan sambutannya dalam acara General Assembly International Council of Women ke-35 di Yogyakarta, Jumat (14/9). Acara juga dihadiri dan dibuka oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi).

“Kami memperhatikan pernyataan Bapak (Jokowi) pada waktu peringatan Hari Ibu yang lalu pada tanggal 22 Desember 2017 di Papua perihal peran Ibu Bangsa. Sesungguhnya peran Ibu Bangsa bukan sebuah beban melainkan suatu kehormatan, yakni berupa tugas mempersiapkan generasi muda yang unggul, berdaya saing, inovatif, kreatif, dan memiliki wawasan kebangsaan yang militan,” ujar Giwo, dilihat detikcom dari video yang dipublikasikan Kementerian Sekretariat Negara, Sabtu (15/9/18).