Ilmuwan Ungkapkan Bukti Baru Lokasi Perahu Bahtera Nabi Nuh


 

SURATKABAR.ID – Para penjelajah evangelis mengungkapkan bahwa sisa-sisa perahu Nabi Nuh ditemukan di ketinggian 13 ribu kaki atau sekitar 3,9 kilometer di Gunung Ararat, Turki. Gabungan penjelajah evangelis dari Turki dan Cina tersebut menuturkan mereka menemukan sisa-sisa kayu dari perahu Nabi Nuh di Gunung Ararat di sebelah timur Turki.

Mengutip klaporan Tempo.co, Minggu (16/09/2018), kelompok penjelajah ini mengatakan, dari data karbon kayu tersebut diketahui usianya telah 4.800 tahun. Ini berarti, waktu tersebut sesuai dengan berlayarnya Perahu Nabi Nuh. Seperti diketahui sebelumnya, para evangelis dan sebagian peneliti sudah sejak lama menduga bahwa Gunung Ararat merupakan tempat terakhir berlabuhnya perahu Nabi Nuh.

Yeung Wing-Cheung, anggota tim peneliti Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh yang melakukan pencarian ini menyebutkan, “Itu bukan 100 persen bisa dinyatakan sebagai perahu Nabi Nuh. Tetapi kami rasa 99,9 persen itu merupakan perahu Nabi Nuh.”

Dalam beberapa dekade ini, ada berbagai penemuan yang diklaim sebagai perahu Nabi Nuh. Yang paling terkenal adalah penemuan arkeolog Ron Wyatt pada 1987. Wyatt mengklaim menemukan sisa perahu Nabi Nuh di Ararat. Saat itu, pemerintah Turki secara resmi mengumumkan kawasan penemuan Wyatt sebagai taman nasional.

Namun, kaum evangelis bersikeras penemuan terbaru mereka di Gunung Ararat merupakan artefak yang sesungguhnya. Untuk mengkonfirmasikan itu, tim telah memanggil peneliti dari Belanda, Gerrit Aalten.

Baca juga: Akhirnya! Setelah 21 Tahun Berlalu, Publik Diperbolehkan Melihat Makam Putri Diana

“Keutamaan dari penemuan ini adalah untuk pertama kali dalam sejarah penemuan perahu Nabi Nuh terdokumentasikan dengan baik dan diungkap ke khalayak di seantero dunia,” tukas Aalten saat jumpa pers penemuan tersebut.

“Ada banyak bukti-bukti akurat yang menunjukkan bahwa struktur yang ditemukan di Gunung Ararat di Turki bagian timur adalah perahu Nabi Nuh,” imbuh Aalten.

Perwakilan dari Kependetaan Internasional Masalah Perahu Nabi Nuh mengungkapkan struktur yang terkandung di beberapa bagian, beberapa balok kayu, diduga merupakan bagian dari perahu yang dipakai sebagai kandang bermacam hewan. Tim arkeolog evangelis juga menyatakan tidak mungkin ada permukiman di kawasan tersebut.

Anggota tim penjelajah, Panda Lee, mengatakan, “Pada Oktober 2008, saya memanjat gunung tersebut dengan tim dari Turki. Di ketinggian sekitar lebih dari 4.000 meter, saya melihat ada struktur bangunan yang terbuat dari papan seperti kayu gelondongan. Tiap papan memiliki ketebalan 8 inchi. Saya melihat tenons, bukti konstruksi kuno sebelum paku besi ditemukan.”

Dilindungi UNESCO WOrld Heritage

Pejabat lokal akan meminta pemerintah pusat Turki mengajukan penemuan itu masuk dalam UNESCO WOrld Heritage agar situs tersebut bisa dilindungi seiring dengan penggalian arkeologi secara besar-besaran.

Menurut beberapa kitab suci, Tuhan memutuskan untuk membanjiri bumi dengan air setelah melihat kondisi dunia yang buruk. Tuhan lalu meminta Nuh untuk membangun sebuah perahu besar dan mengisi perahu (bahtera) tersebut dengan manusia dan hewan.

Menurut kitab suci, setelah banjir surut, perahu Nabi Nuh terdampar di sebuah gunung. Banyak orang menduga Gunung Ararat, titik tertinggi di kawasan tersebut, sebagai tempat labuhan terakhir perahu Nabi Nuh.

Mengutip laman Dream.co.id, Peneliti Amerika Serikat, Profesor Paul Esperente, menyebutkan dirinya akan mengunjungi lokasi tersebut.

Sementara, profesor asal Istanbul, Oktay Belli, meyebutkan bahwa banjir pada masa Nabi Nuh bukanlah mitos belaka. Dia menyatakan terjangan air bah itu benar-benar terjadi.

Adapun laporan micetimes.asia menyampaikan sejumlah ilmuwan mencoba menjelaskan bagaimana banjir bandang bisa terjadi di sekujur Bumi pada masa itu. Mereka juga berusaha menjelaskan bagaimana hewan-hewan bertahan hidup selama 153 hari di atas bahtera itu.