Prajurit Marinir Tewas di Markas, Pihak Keluarga Beberkan Kejanggalan pada Jenazahnya


SURATKABAR.ID – KLK Achmad Halim Mardyansyah dilaporkan meninggal karena gantung diri di tempat dinasnya, Detasemen Perbekalan Pangkalan Marinir (Denbek Lanmar) Karang Pilang, Surabaya.

Pria 29 tahun tersebut, ditemukan tak bernyawa pada Senin (10/9/2018) lalu. Ia disebut gantung diri di sebuah pohon bambu. Namun, pihak keluarga meyakini bahwa Halim tak meninggal karena gantung diri, melainkan sengaja dihabisi saat jam piket.

Hingga Sabtu (15/9/2018), kematian Halim juga masih menjadi misteri. Tim dari Pomal Lantamal V juga diterjunkan untuk mengungkap misteri dibalik kematian Halim.

Sementara itu, di rumah duka ayah Halim Peltu (Purn) Sukiman (59), ibunya Istiatin (54), dan istrinya Aisyah Syafiera (23) mengaku tak percaya Halim nekat b***h diri. Sebab, selama ini Halim tak pernah neko-neko.

Baca juga: Tergoda dengan Bule yang Tidur Tanpa Busana, Petugas Kebersihan Hotel Lakukan Hal Bejat

Istiatin mengungkapkan, banyak kejanggalan pada kematian Halim. Menurutnya, peristiwa tersebut telah direncanakan dengan matang. Mulai dari ketika pihak keluarga dipanggil ke markas pada Minggu (9/9/2018) malam, hingga jenazah Halim ditemukan pada Senin (10/9/2018) pagi.

“Dari awal seharusnya orang-orang yang ada di sana (markas) tahu kalau ada jenazah anak saya di pohon bambu. Pas saya mau pamit pulang, mereka justru mencegah saya masuk ke dekat pohon bambu. Baru besoknya ngasih kabar anak saya gantung diri,” ujar Istiatin, Kamis (13/9/2018), dilansir jawapos.com.

Selain itu, kejanggalan lain juga nampak ketika jenazah Halim divisum di rumah sakit. Saat itu Sukirman sempat memotret jenazah anaknya. Terlihat, ada luka lebam di wajah Halim, lengan dan pahanya juga memar merah.

“Mata anak saya juga berdarah,” terang Sukirman.

Menurut Istiatin, setelah dilakukan penyidikan oleh tim dari Pomal Lantamal V Surabaya hasil visum juga menunjukkan kejanggalan jika kematian Halim disebut gantung diri.

“Sudah dikasih tahu beberapa hal. Mereka (penyidik) bilang memang ada yang janggal,” katanya.

Kejangalan pertama adalah bekas lilitan di kepada. “Mereka bilang kalau lilitannya itu di atas telinga,” ujarnya.

Padahal, jika gantung diri seharusnya bekas lilitan akan terlihat di bagian leher atau bawah telinga. Muncul dugaan, bekas tali itu sengaja dibuat ala kadarnya.

Kedua mengenai pohon bambu. Diketahui, pohon tersebut tingginya hanya 2 meter, rantingnya pun kecil dan tak sebanding dengan berat badan Halim. “Anak saya tingginya 191 cm. Di situ posisi bambu yang ada di bawah juga undak-undakan. Semestinya kaki Halim itu masih bisa menapak ke tanah,” lanjutnya.

Selain itu, kondisi tangan Halim juga terus menggenggam saat divisum. “Jadi kalau orang b***h diri itu walaupun tangannya menggenggam, lama-lama akan terbuka sendiri. Tapi tangan anak saya tidak. Kemungkinan karena merasakan sakit yang luar biasa,” tukasnya.