Fenomena Gaya Bahasa ‘Anak Jaksel’ jadi Trend, Perlukah Dikhawatirkan?


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini media sosial Tanah Air kian diramaikan dengan pembahasan gaya bicara anak Jaksel. Beberapa minggu terakhir, hal ini semakin hangat diperbincangkan. Gaya bahasa pergaulan yang mereka gunakan dalam berkomunikasi sehari-hari tersebut merupakan ‘gado-gado’ dari Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia. Berdasarkan catatan situs Spredfast, ada lebih dari 52.000 tweet mengenai ‘Anak Jaksel’ maupun dengan tagar #anakjaksel di Twitter.

Menukil laporan Sains.Kompas.com, Kamis (13/09/2018), sepanjang dua pekan pertama September pembahasan ini mewarnai medsos Tanah Air. Tapi, perlukah mengkhawatirkan munculnya gaya bahasa ini?

Risiko Kontak Bahasa

Bernadette Kushartanti, Pakar Linguistik dari Universitas Indonesia menjelaskan bahwa fenomena ini merupakan risiko dari kontak bahasa.

“Hal ini tidak bisa dihindari karena memang ada interaksi setiap bahasa. Ada bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Korea, bahasa gaul, bahasa macam-macam yang membuat perkembangan bahasa seperti ini tidak bisa dihindari,” ujar Bernadette saat dihubungi reporter.

Baca juga: Heboh Lucinta Luna jadi Trending Topic di Malaysia, Video Ini Penyebabnya!

Menurutnya, masyarakat perlu menilik fenomena ini dari dua sisi.

View this post on Instagram

Mall. Jakarta. ?? #overheardjkt by @rexyechi ??

A post shared by Overheard Jakarta (@overheardjkt) on

“Saya tidak mengatakan bahwa ini tidak mengkhawatirkan, tapi kita harus melihatnya dari dua sisi. Di satu sisi kita membutuhkan cara untuk tetap mengungkapkan bahasa dengan benar, tapi di sisi lain, bahasa juga punya fungsi. Kalau terlalu formal, maka pada situasi tertentu kita akan menjadi terasing,” papar wanita bergelar doktor tersebut menyampaikan.

Tugas para pengajar atau generasi sebelumnya adalah menjelaskan bahwa anak muda harus punya kemampuan membedakan konteks pemakaian bahasa. Pada konteks apa seseorang harus menggunakan bahasa baku, dan kapan boleh menggunakan bahasa gaul yang dicampur dengan bahasa asing, seperti Bahasa Inggris.

“Pendidikan tentang bahasa juga harus membicarakan soal kesantunan, cara menyampaikan pendapat, yang runut dan sebagainya. Itu adalah tugas pendidik untuk mengarahkan agar anak-anak muda tetap punya pengetahuan bahasa dengan struktur yang rapi,” ujarnya kemudian.

“Dalam keadaan informal kalau terlalu formal, aneh juga, kan. Kita pakai bahasa gaul biar akrab, bahasa ini sebetulnya yang mengkrabkan kita,” tukas Bernadette Kushartanti.

Bahasa asing juga dinilainya tidak menjadi faktor yang meningkatkan ancaman pada bahasa daerah.

“Ketika bahasa Indonesia muncul pun bahasa daerah sudah mulai ditinggalkan,” sebutnya.

Ia menambahkan juga, memang ada kekhawatiran bahwa bahasa daerah bisa luntur.

“Tapi tergantung bahasa yang mana,” imbuhnya melanjutkan.

Selama bahasa daerah tersebut masih punya sumber tertulis, ada penuturnya, dan ada kebanggaan terhadap bahasa daerah itu, kemungkinan besar bahasa itu masih akan bertahan.

“Yang perlu dikhawatirkan adalah bahasa-bahasa yang penuturnya sangat sedikit dan tidak ada sumber tertulisnya,” ungkapnya.

Netizen pun tak ketinggalan memberikan contoh penggunaan bahasa Inggris yang dicampur dengan bahasa daerah.

Kata Ivan Lanin

Penulis buku Xenoglosofilia, Kenapa Harus Nginggris?, Ivan Lanin, berpendapat bahwa pencampuran bahasa dilakukan sebagai usaha untuk menunjukkan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi.

“Kecenderungan menyukai sesuatu yang asing bukan hanya terjadi di bahasa, melainkan juga di segala hal lain. Dengan bicara dicampur, mereka berusaha menunjukkan tingkat intelektualitas yang lebih tinggi,” ujar Ivan kepada jurnalis.

Dia menerangkan, fenomena ini tak hanya terjadi akhir-akhir ini, tapi sudah sejak dulu.

“Sejak zaman penjajahan Belanda pun bahkan pendiri negara juga bicara bahasa campuran, tapi yang dicampur bahasa Belanda dan bahasa daerah,” sebutnya.

Ivan pun sepakat dengan pernyataan Bernadette bahwa pencampuran Bahasa Indonesia dengan bahasa lain belum masuk tahap mengkhawatirkan jika masih dipakai dalam ragam percakapan.

“Jika mereka mulai memakainya dalam ragam formal, baru kita boleh mulai khawatir,” ucap Ivan yang juga dikenal sebagai “aktivis” Bahasa Indonesia di media sosial.

Di media sosial, Ivan selalu menggunakan bahasa baku, sebab dia ingin menjadi contoh bahwa seseorang bisa berbahasa Indonesia dengan baik dan benar tanpa menjadi kaku.

“Tapi sebenarnya di Twitter bahasanya tertulis tapi menirukan model percakapan, jadi cara berbicaranya pun tergantung lawan bicara,” lanjutnya.

Dengan teman akrab atau sebaya, pengguna Twitter bisa saja menggunakan bahasa informal, tapi tetap bisa berbahasa formal dengan orang yang tak dikenal atau tokoh-tokoh terkemuka.

Orang Indonesia Rata-rata Bicara 3 Bahasa

Kata Ivan, orang Indonesia rata-rata bisa bicara setidaknya tiga bahasa.

“Ini berkah, tapi juga PR untuk menyeimbangkan ketiga bahasa tersebut,” tutur Ivan.

Jerome Wirawan, warga Jakarta yang lahir dan besar di kawasan Fatmawati, Jakarta Selatan, menyebutkan bahwa kebiasaan bicara yang dicampur dengan bahasa Inggris tak ada saat dia masih sekolah era 1980-an.

“Saya ingat bahwa ketika saya sekolah, tahun 80-an, saya satu-satunya anak di kelas yang tahu apa itu singkatan OPEC dan bisa mengucapkannya dengan jelas,” tandas Jerome.

Saat itu, Bahasa Inggris mulai diajarkan di sekolah menengah pertama, tapi tidak di Sekolah Dasar. Beberapa warganet beranggapan bahwa cara berbahasa seperti ini hanya dilakukan oleh para kelas menengah di Jakarta Selatan.

Kata Ekonom

Sedangkan menurut ekonom INDEF, Bhima Yudhistira, Jakarta merupakan pusat pertumbuhan ekonomi nasional, dan pusat pertumbuhan bisnis Indonesia.

“Sekitar 70 persen uang beredar di Jakarta. Jika ada perbaikan karena ekonomi nasional naik, maka dampaknya akan pertama terasa di Jakarta,” ucapnya.

Dari seluruh wilayah yang ada di Jakarta, sebenarnya Jakarta Selatan bukan pusat perekonomian. Jakarta Utara mendorong pertumbuhan dengan perdagangan, konstruksi, properti dan pelabuhan tersibuk di Indonesia, Tanjung Priuk. Di Jakarta Timur, pertumbuhan properti terus meningkat, ditambah dengan aktivitas industri di beberapa kawasan, termasuk Pulo Gadung. Jakarta Selatan justru bukan kawasan yang menjadi pusat ekonomi, tapi justru kawasan konsumtif.

“Profil ekonomi Jakarta Selatan memang sejak dulu terkenal dengan kawasan kelas menengah, dan ketimpangan sosialnya lebih rendah dibandingkan Jakarta Utara,” sebut Bhima.

Di Jakarta Utara, ketimpangan ekonomi sempat menimbulkan konflik dan menjadi bom waktu.

“Misalnya, kasus 4 November 2017 ketika ada demo yang berujung dengan penjarahan beberapa minimarket,” beber Bhima.

Sementara itu, di Jakarta Selatan berkembang bisnis leisure, yang mengutamakan gaya hidup, gaya berpakaian dan pergaulan.

“Meskipun kelas menengahnya sebenarnya begitu-begitu saja, tidak terlalu berkembang, tapi ketimpangannya antara kaya dan miskin tidak ekstrem, se-ekstrem Jakarta Utara,” paparnya menjelaskan.