Terkait Kunjungan Jokowi ke Korsel, Fahri Hamzah Blak-Blakan Unggah Definisi Kegilaan


SURATKABAR.ID – Wakil Ketua DPR RI Fahri Hamzah buka-bukaan berkomentar pedas terkait kegiatan kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Korea Selatan (Korsel). Semua uneg-uneg tersebut dituangkan dalam akun media sosial Twitter miliknya, @fahrihamzah.

Fahri, dilansir dari Tribunnews.com, Senin (10/9/2018), mengomentari postingan Twitter Jokowi, @jokowi, yang mengungkapkan dirinya akan bertemu Presiden Korsel Moon Jae-In dan membahas penguatan kerja sama kedua negara di tengah situasi ekonomi global yang sedang tak menentu.

Kemudian, Fahri memberikan jawaban kepada Jokowi untuk mempelajari sejarah Korsel dalam memberantas habis korupsi, khususnya melalui lembaga anti korupsi Korsel, KICAC (Korean Independent Commision Against Corruption) yang diganti ACRC (Anti Corruption and Human Right Commision).

Pak, Saya titip: Pelajari sejarah pemberantasan Korupsi di Korsel dan khususnya sejarah KICAC (Korean Independent Commision Against Corruption). LALU diganti ACRC (Anti Corruption and Human Right Commision). ACRC adalah gabungan Banyak lembaga termasuk Ombudsman,” tulis Fahri.

Bapak presiden @jokowi tidak boleh terlalu lama membiarkan negara dalam keadaan ‘darurat korupsi’ seperti tuduhan selama ini. Karena kalau ia, maka artinya presiden gagal memberantas korupsi. Presiden akan ditagih rakyat. Maka sekarang ambillah keputusan yang radikal.”

Baca Juga: Bertemu 4 Pengusaha Di Korsel. Inilah Yang Dibicarakan Jokowi

Lalu pada akhir surat terbukanya untuk Jokowi, Fahri menutupnya dengan mengunggah sebuah quoteInsanity: doing the same thing over and over again and expecting different result’ dari ilmuwan ternama Albert Einstein.

Pantaslah saya tutup dengan poster #AlbertEinstein di bawah ini tentang definisi kegilaan. “Gila itu: melakukan sesuatu dengan cara yang sama tapi berharap hasil yang berbeda”. Ini sudah 16 tahun bapak!” demikian bunyi caption Fahri Hamzah.

Fungsi dan Peran Lembaga KICAC

Lee Myung Bak, yang merupakan Presiden Korea Selatan dengan latar belakang pengusaha berperan dalam dibubarkannya KICAC dengan alasan keberadaan lembaga tersebut mengganggu hubungan antara pemerintah dengan pengusaha.

“Sebagai gantinya dibentuklah Anti Corruption and Civil Rights Commision (ACRC), yang merupakan gabungan dari KICAC, Ombudsman, dan Komisi Banding Administratif,” jelas Manager Riset Transparancy International Indonesia Wawan Suyatmiko, dikutip Tribunnews dari Kompas.com, Kamis (7/9).

Terkait lembaga anti korupsi di Indonesia, sebelumnya Fahri Hamzah pernah menyindir Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan menyebut lembaga antirasuah tersebut sebagai beban bangsa yang berisi sekelompok penipu.

KPK adalah beban bangsa ini, sebuah lembaga dan sekelompok orang yang menipu negeri ini. Tapi, aka nada akhir. Entah kapan, yang penting saya sudah sampaikan dan yang penting bapak sudah saya ingatkan. Agar tak ada sesal nanti. Flight Jakarta – Lombok, 4/9/2019,” cuit Fahri.

Berikut surat terbuka yang ditulis Fahri Hamzah teruntuk Joko Widodo: