Sekolah Sudah Tak Aman Bagi Anak. Unicef Ungkap Fakta Mencengangkan


SURATKABAR.ID – Unicef baru saja merilis laporan berdasarkan penelitian yang telah dilakukan di lebih 100 negara. Penelitian tersebut mengungkap fakta tentang kehidupan anak usia SMP di sekolah.

Sebanyak setengah siswa berusia 13-15 tahun atau setara 150 juta remaja di dunia pernah mengalami kekerasan berupa perkelahian fisik serta perundungan dari teman sebaya di sekolah. Siswa juga mengalami bentuk kekerasan lain seperti hukuman fisik dari guru mereka di sekolah.

Secara global, laporan UNICEF menemukan 720 juta anak usia sekolah tinggal di negara yang tidak melindungi mereka dari hukuman fisik di institusi pendidikan.

“Sekolah tidak menjadi tempat aman sebagaimana mestinya, karena perundungan, karena hukuman fisik oleh guru, dan serangan terhadap sekolah,” kata penasihat senior UNICEF, Claudia Cappa, dikutip dari CNN Minggu (9/9/18).

Baca Juga: Hati-Hati! Inilah Bahaya Unggah Foto Anak di Media Sosial

Laporan ini menganalisis data 122 negara yang mewakili 51 persen dari populasi remaja berusia 13-15 tahun.

Penelitian ini menemukan sebaran merata pada anak-anak yang mengalami kekerasan di seluruh dunia. Rata-rata setiap 50 persen remaja di setiap negara di dunia mengalami kekerasan di sekolah.

Sedangkan pada kekerasan yang terjadi akibat guru, laporan menunjukkan hal itu terjadi pada siswa yang lebih muda. Seperti di India, 78 persen siswa berusia 8 tahun mengalami kekerasan akibat hukuman daru guru dibandingkan 34 persen siswa berusia 15 tahun dengan hukuman serupa.

Selain itu, laporan juga menyoroti kekerasan seksual yang terjadi di sekolah antarteman sebaya. Di Kenya, misalnya, satu dari lima anak perempuan dan laki-laki dilaporkan mengalami kekerasan seksual sebelum usia 18 tahun. Rata-rata dari mereka mengaku kejadian itu pertama kali terjadi di sekolah.

Laporan juga memperkirakan biaya yang timbul akibat kekerasan pada remaja. Disebutkan biaya yang timbul mencapai US$57 triliun di seluruh dunia.

Di sisi lain, penelitian ini juga menemukan kesadaran anak pada kekerasan mulai meningkat.