Sandiaga Sebut Tempe Setipis ATM, Ekonom: Oposisi Jangan Manfaatkan Pelemahan Rupiah


SURATKABAR.ID – Nilai Rupiah yang kini tengah merosot tajam akhirnya memunculkan perdebatan ramai di media sosial (medsos). Perdebatan tersebut terjadi antara pelaku politik, baik dari kubu oposisi maupun pemerintah. Perdebatan seputar merosotnya nilai tukar mata uang Indonesia di medsos ini dinilai turut  memberi sentimen negatif terhadap Rupiah. Namun, mau tak mau perdebatan mengenai hal ini di dunia maya tampak akan sulit dihentikan jelang tahun politik.

“Kita memang tidak bisa mengalahkan sosial media, karena itu bagian dari demokrasi,” ujar Bhima Yudhistira selaku ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) dalam diskusi Polemik Radio MNC Trijaya bertema Jurus Jagain Rupiah di Cikini, Jakarta, Sabtu (08/09/2018). Demikian mengutip laporan SindoNews.com petang ini.

Menurut penilaian Bhima, perdebatan tentang pelemahan nilai tukar Rupiah di media sosial justru hanya akan menebar ketakutan. Buntutnya, dunia usaha dan investor bisa terpengaruh sentimen negatif ini.

Dalam kesempatan itu, Bhima juga mengkritisi sikap oposisi yang kerap mengkritik pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) sebagai dalang melemahnya nilai tukar Rupiah. Bhima meluruskan, pelemahan nilai tukar Rupiah kali ini akibat masalah fundamental dan struktural ekonomi Indonesia yang belum tuntas.

“Oposisi kita ingatkan jangan menari-nari di atas penderitaan Rupiah. Kalau digoreng terus kemudian disusupi isu bahwa ini salah Pak Jokowi. Kalau terus mengibasi bara api, jika nanti oposisi menang di 2019 apa enak berkuasa saat Rupiah di Rp 15.000,” ungkap Bhima.

Baca juga: Sanggah Pernyataan Fadli, PDIP: Jokowi Jaga Rupiah Tak Seanjlok Negara Lain

Bhima mendorong agar oposisi mengirimkan kritik melalui masukan yang sifatnya konstruktif. Hal itu sejatinya akan membawa ketenangan bagi rakyat.

Sandiaga: Tempe Jadi Setipis Kartu ATM

Sebelumnya, sebagaimana dilansir dari laporan Liputan6.com, bakal Cawapres Sandiaga Salahuddin Uno menyebutkan mendapat banyak keluhan masyarakat terkait kondisi ekonomi saat ini. Menurut pengakuannya, ia dan Prabowo Subianto, pasangan politiknya, telah banyak turun ke berbagai daerah untuk menampung aspirasi masyarakat belakangan ini.

Sandi menuturkan, keluhan masyarakat bertambah sewaktu nilai Rupiah sempat anjlok dan menembus angka Rp 15.000 per dollar Amerika. Menurutnya, kondisi ini berpengaruh banyak khususnya terhadap pengusaha. Salah satunya pengusaha tahu dan tempe.

“Tempe sekarang sudah dikecilkan. Dan tipisnya sama kayak kartu ATM. Tahu Ibu Yuli di Duren Sawit, jualan tahu dikecilin karena tidak bisa menaikkan harga karena enggak akan laku karena daya belinya,” beber Sandiaga saat konferensi pers di kediaman Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara Nomor IV, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (07/09/2018) malam.

Kondisi seperti ini membuat Sandiaga dan parpol koalisi pengusung Prabowo-Sandi menjadi khawatir. Itulah sebabnya mengapa petinggi parpol berkumpul di Kertanegara dan menghasilkan pernyataan sikap yang berisi tujuh poin. Menurutnya, apa yang tertuang dalam pernyataan itu merupakan cerminan keinginan masyarakat.

“Koalisi Prabowo-Sandi ingin bersatu dengan rakyat dalam bahu membahu memperkuat ekonomi kita. Karena saya yakin apa yang di benak rakyat sekarang masalah ekonomi,” sebutnya kemudian.

[wpforms id=”105264″ title=’true” description=”true”]