Takut Berbahagia? Hati-hati, Mungkin Kamu Kena Penyakit Cherophobia!


SURATKABAR.ID – Bagaimana jadinya jika seseorang mengalami rasa takut berbahagia? Rupanya, tidak semua orang di dunia ini mengharapkan kebahagiaan. Dalam dunia medis, orang-orang yang tak ingin merasakan bahagia disebut “Cherophobia”. Istilah “Cherophobia” berasal dari Yunani—chairo—yang artinya “bersukacita”. Namun jika disandingkan dengan kalimat Phobia, itu berarti, “takut untuk berpartisipasi dalam suka cita”, atau dengan kata lain “takut bahagia”.

Meski termasuk dalam kategori gangguan kesehatan, namun Cherophobia tidak terdaftar dalam kamus besar Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang merupakan salah satu buku besar acuan diagnosis kesehatan mental dalam kedokteran, demikian dikutip dari laporan Viva.co.id, Kamis (06/09/2018).

Jadi jika misalkan Kamu mengalami rasa takut dan khawatir terus-menerus, jangan abaikan kondisimu. Karena bisa jadi kemungkinannya Kamu sedang mengidap penyakit mental bernama Cherophobia atau mungkin depresi.

Bentuk Kecemasan

Orang yang mengidap cherophobia sering kali merasa kalau mereka berbahagia, nantinya bakal terjadi hal buruk. Mereka memang tidak melulu merasa sedih atau mengurung diri. Meski begitu, mereka akan menghindari aktivitas dan acara yang berkemungkinan bisa membawa kebahagiaan pada diri mereka.

Baca juga: 5 Phobia Teraneh Sedunia, Salah Satunya Malah Takut Surga

Beberapa ahli kejiwaan mengklasifikasikan Cherophobia sebagai sebuah bentuk kecemasan. Ada beberapa gejala Cherophobia yang bisa diperhatikan:

  • Cemas jika diundang ke acara kumpul-kumpul,
  • Tak mau ambil berbagai kesempatan positif karena takut kalau hal buruk akan terjadi,
  • Tak mau bergabung dan terlibat dengan aktivitas “menyenangkan”,
  • Punya pemikiran kalau kebahagiaan itu bakal berujung kesialan,
  • Merasa jadi orang jahat kalau dirinya merasa bahagia,
  • Merasa kalau bahagia itu hanya akan menghabiskan waktu dan sangat sia-sia.

Mengutip laman Healthline, beberapa ahli medis mengkategorikan Cherophobia sebagai bentuk kecemasan. Meski takut bahagia, namun penderita Cherophobia tidak mengalami sedih sepanjang waktu. Hanya saja mereka berusaha menghindari hal-hal yang membuat mereka merasa bahagia.

Penderita Cherophobia mempunyai beberapa ciri dan gejala, salah satunya yang paling terlihat adalah timbulnya rasa cemas saat diundang ke pertemuan sosial.

Selain itu, mereka juga kerap merasa takut dan khawatir saat kehidupannya berjalan terlalu baik. Mereka seringkali merasa “sangat tidak mungkin hidup saya bisa berjalan sebagus ini, demikian dikutip dari reportase Hai.Grid.ID.

Selain itu, penderita Cherophobia juga melewati peluang yang dapat menyebabkan perubahan kehidupan yang positif karena rasa takut sesuatu yang buruk akan terjadi.

Mereka juga berpikir menjadi bahagia itu artinya akan ‘segera’ mengalami sesuatu yang buruk, bahkan mereka juga menilai, bahagia akan mengubah pribadi mereka menjadi ‘buruk’.

Penyebab Cherophobia

Psikiater Carrie Barron dalam postingan blog di Psychology Today membahas beberapa alasan mengapa seseorang bisa mengidap Cherophobia.

“Ada begitu banyak pembicaraan tentang mengejar kebahagiaan hari ini. Mungkin tampak tidak biasa bagi seseorang untuk takut pada emosi positif ini. Jika itu karena kaitan kebahagiaan atau hukuman di masa kecil, bisa dibayangkan phobia ini bisa jadi lebih umum daripada yang kita pikirkan,” tuturnya.

Cherophobia—sebagai contoh—bisa berasal dari ketakutan akan konflik dengan orang yang dicintai, atau pengalaman buruk yang Anda kaitkan dengan peristiwa tertentu.

Dalam sebuah wawancara dengan situs berita Metro, blogger Stephanie Yeboah menggambarkan bagaimana rasanya hidup dengan Cherophobia.

“Pada akhirnya, itu adalah perasaan putus asa total, yang mengarah ke perasaan cemas atau waspada untuk mengambil peran dalam keluarga, atau secara aktif melakukan hal-hal, yang mempromosikan kebahagiaan ketika Anda merasa bahwa itu tidak akan bertahan lama,” imbuhnya.

Dipicu Trauma

Ia menambahkan, rasa takut akan kebahagiaan tidak selalu berarti bahwa seseorang terus menerus hidup dalam kesedihan. Dalam kasusnya hal itu  sering dipicu oleh peristiwa traumatis.

“Bahkan hal-hal seperti merayakan kemenangan suatu kampanye, menyelesaikan tugas yang sulit atau menggaet klien saja bisa membuat saya merasa gelisah dan tidak nyaman,” ungkapnya.

Mengobati cherophobia kadang-kadang dapat disalahartikan untuk mengobati perasaan depresi, yang menurut Yeboah tidak terlalu membantu.

Secara khusus, dia mengatakan perawatan seperti psikoterapi berorientasi wawasan dan terapi perilaku kognitif berguna untuk memahami penyebab dan membatalkan hubungan negatif yang dimiliki orang antara kesenangan dan rasa sakit. Pada akhirnya, mengatasi Cherophobia mengubah cara berpikir pengidapnya.

Selama ini, mengatasi Cherophobia seringkali disamakan seperti mengatasi depresi. Padahal tidak harus seperti itu. Menurut Yeboah, metode yang sama justru malah tidak akan mempan. Karena belum ada perawatan spesifik yang bisa dilakukan, jadi Yeboah hanya bisa mencoba untuk menerimakan kondisinya dan tak terlalu sering memikirkan hal itu.

Penyembuhan Cherophobia

Carrie Barron, M.D., Psikiater yang disebutkan di atas mengatakan, pengidap bisa mulai dengan menggali masa lalu untuk menyembuhkan Cherophobia yang diidapnya. Dengan menggali masa lalu, pengidap bisa belajar bertoleransi kepada hal-hal yang kita anggap hanya membuang waktu namun menyenangkan. Dengan demikian, kita bisa merasakan kebahagiaan dan tak perlu takut jika ke depannya akan terjadi hal negatif setelahnya.

Selain itu, pengidap juga bisa mengikuti perawatan terapi perilaku kognitif. Terapi ini berguna untuk memahami penyebab cherophobia yang dialami. Terapi ini juga berguna untuk menghancurkan hubungan negatif yang ada antara kebahagiaan dan rasa sakit yang diderita.

Intinya, menangani cherophobia bisa dengan mengubah pola pikirmu. Ketakutan untuk berbahagia yang Kamu rasakan bisa Kamu anggap sebagai sebuah mekanisme pertahanan yang terbangun akibat konflik di masa lalu atau trauma pribadi. Dan katakan pada diri sendiri dengan kalimat peneguhan (afirmasi) yang positif bahwa ini tidak apa-apa, Kamu boleh merasa nyaman untuk berbahagia dan ini bukan dosa karena Tuhan juga menginginkan umatnya berbahagia, dsb.