Kecanduan Gadget Bahayakan Kondisi Mental Anak, Kemdikbud Beberkan Fakta Mencengangkan


    SURATKABAR.ID – Penggunaan gadget sekarang ini tidak hanya oleh dewasa atau orang tua. Anak-anak pun sudah mengenal gadget sejak usia yang sangat kecil. Bila dilihat dari komposisi usia, persentase pengguna gadget yang termasuk kategori usia anak-anak dan remaja di Indonesia cukup tinggi, yaitu 79,5 persen. Survei yang dilakukan oleh Kementerian Informasi dan Unicef tahun 2014 itu menggambarkan pula bahwa anak menggunakan gadget sebagian besar untuk mencari informasi, hiburan, serta menjalin relasi sosial.

    Adapun survei yang dilakukan oleh Indonesia Hottest Insight (liputan6.com, 17/3/16) di tahun 2013 bahkan menunjukkan bahwa 40 persen anak di Indonesia sudah melek teknologi, atau disebut juga dengan active internet user.

    Secara spesifik, 63 persen anak telah memiliki akun facebook, yang digunakan update status, bermain game online, serta mengunggah foto-foto; 9 persen anak telah memiliki akun Twitter; dan 19 persen anak terlibat secara aktif bermain game online di internet dari gadget-nya.

    Dampak negatif dari penggunaan  gadget pun mulai dirasakan oleh orang tua. Gadget telah merubah perilaku anak menjadi mudah emosional dan mengabaikan etika. Anak-anak lebih peduli dengan HPnya daripada mendengarkan nasehat orang tua dan membaca buku pelajaran.

    Baca Juga: Waspada! Cahaya Gadget Bisa Picu Masalah Fatal Ini, Peneliti Klaim Belum Ada Obatnya

    Haris Iskandar Direktur Jendral Pendidikan Anak Usia Dini dan Pendidikan Masyarakat (Dirjen PAUD dan Dikmas) Kemdikbud menegaskan pembatasan penggunaan gadget bagi anak-anak harus dimulai dari orang tua.

    Banyak orang tua yang mengeluh karena anak-anaknya kecanduan gadget. Meskipun baru berusia 2 tahun tapi sudah bisa berselancar mencari konten yang disukainya. “Penggunaan gadget di kalangan anak-anak sekarang menjadi masalah dunia,” kata Haris saat membahas rencana peringatan Hari Aksara Internasional di Kantor Kemdikbud, Selasa (4/9/2018) dilansir dari kelanakota.surabaya.net.

    Menurut Haris, kecanduan gadget tersebut sampai sekarang belum ada terapinya. Karena itu orang tua harus menjadi bagian terpenting dalam membatasi penggunaan gadget. Orang tua harus mengarahkan pada anaknya agar digunakan dengan benar yakni untuk berkomunikasi yang baik bukan untuk keperluan lain yang dapat merusak tumbuh kembang anak.

    “Sebab konten yang menjadi favorit anak-anak tersebut sebagian besar produk luar negeri yang tidak sesuai dengan kepribadian dan alam pikiran anak-anak. Ini sebenarnya dampak negatif yang membahayakan bagi anak-anak,” kata Dirjen Paud dan Dikmas.