Wajib Ditiru Orangtua, Ternyata Ini 6 Sebabnya Anak-Anak Asia Timur Berotak Encer


SURATKABAR.ID – Menurut survei yang dilakukan oleh Programme for International Student Assessment (PISA), negara-negara di Asia timur seperti China, Jepang, dan Korea menempati posisi teratas dalam peringkat pendidikan dunia.

Menukil laporan Liputan6.com, Minggu (02/09/2018), PISA menyebutkan bahwa anak yang masih sekolah dan berusia 15 tahun di Asia timur sering menunjukkan kemampuan luar biasanya dalam pelajaran matematika, membaca, dan sains daripada siswa lain dari seluruh dunia.

Tentunya, membesarkan anak yang berbakat, sukses, menghormati orangtua mereka dan budaya negerinya sendiri menjadi tujuan utama para orangtua di negara-negara Asia timur.

Tapi bagaimana negara-negara ini melakukannya? Untuk meraihnya, ada aturan unik tertentu di negara-negara Asia yang telah diikuti secara turun temurun selama beberapa dekade.

Dikutip dari laman Bright Side, berikut 6 rahasia mengapa anak-anak di Asia Timur cenderung tumbuh jadi orang yang pintar. Apa saja? Simak uraiannya berikut ini.

Baca juga: Tiap Orang Hanya Bisa Jatuh Cinta 3 Kali dalam Hidup, Ini Penjelasan Psikologinya

1. Pendidikan Bukan Hal Terpenting dalam Hidup

Kepercayaan seperti ini hanya berlaku untuk 2 tahun pertama. Pada periode tersebut, emosi sangat penting, itulah sebabnya anak-anak di Asia Timur selalu dikelilingi oleh cinta dan perhatian dari kedua orangtua mereka.

Kontak fisik juga sangat penting, seperti misal orangtua sering membawa anak-anak saat bekerja, bepergian, atau jalan santai.

Dalam kasus ini, kebanyakan orangtua di Asia Timur tak percaya bahwa sebelum usia tertentu, anak-anak masih belum mengerti apa-apa. Meskipun anak belum dapat menanggapi atau merespons, namun mereka mulai menerima dan menganalisis informasi jauh sebelum mereka lahir.

Itu sebabnya orangtua di Asia timur mencoba menjadi teladan yang baik, bahkan saat anak mereka masih sangat kecil.

2. Menghargai Pengalaman Pribadi

Tak seperti sistem pendidikan Barat, di Timur, orangtua tak melarang anak-anak mereka untuk melakukan hal baru saat usia dini.

Jika seorang anak melakukan sesuatu yang berbahaya atau buruk, orangtua hanya perlu mengalihkan perhatian mereka ke hal lain. Dalam sistem pengasuhan di Timur, diyakini bahwa sebuah larangan dapat menghentikan minat anak untuk mengeksplorasi.

Seorang anak boleh diberitahu tentang bahaya dan alasan mengapa dia harus menghindari beberapa hal, namun bukan untuk melarang.

Jadi tindakan ini juga berpengaruh bagi masa depan anak-anak dan akan membuat mereka jadi lebih kreatif, mereka dapat membayangkan solusi yang unik, mengikuti aturan penting, dan menghormati orang yang lebih tua.

3. Tidak Mementingkan Kepentingan Diri Sendiri

Sebagai contoh, orangtua Barat akan berkata, “Jangan sakiti dirimu”, sedangkan di Timur mereka akan berkata, “Jangan menyakiti orang lain”.

Sebelum usia 3 tahun, anak-anak diajarkan untuk menghormati orang lain, hewan, tumbuhan, mencari kebenaran, mengendalikan diri, dan peduli dengan alam.

Anak-anak dibesarkan di lingkungan seperti itu di Timur, sehingga mereka dapat bersosialisasi dan hidup bersama orang lain, saling menolong dan mempertimbangkan kepentingan bersama.

Di Jepang, orang percaya bahwa pendekatan seperti ini sangat penting untuk pengembangan masyarakat dan pemerintahan yang harmonis.

4. Ikut Kelas Pendidikan Anak Usia Dini dan Olahraga

Setelah anak-anak diajari dasar-dasar perilaku yang baik, perkembangan mereka akan tumbuh. Adalah sesuatu yang wajar bila seorang anak berusia 3 tahun mempunyai hari yang sangat sibuk.

Di kisaran usia 2-3 tahun, anak-anak dapat mengikuti pelajaran bahasa Inggris, matematika, menggambar, akting dan menyanyi pada saat yang bersamaan.

Berkat sistem ini, semua anak pada usia 4 tahun sudah lihai memainkan setidaknya satu alat musik dan mengetahui dasar-dasar matematika serta tata bahasa. Sedangkan pada usia 5 tahun, anak-anak siap untuk pergi ke sekolah dan mereka sudah disiplin.

  1. Berangkat Sekolah Sendiri

Di Jepang dan Korea, anak-anak berusia 6 tahun pergi ke sekolah sendiri. Mereka tak diantar oleh ibu atau ayahnya. Alasannya, agar mereka mandiri.

Pada saat anak-anak mulai bersekolah, mereka biasanya sudah pandai menghitung, menulis, dan membaca buku-buku sederhana. Di negara-negara Asia, banyak orangtua yang percaya bahwa mengajar berhitung kepada anak-anak pada usia dini dapat mengembangkan lobus frontal otak dan mengembangkan kemampuan kreatif mereka.

  1. Anak Tentukan Masa Depannya Sendiri

Pada sekitar usia 12-16 tahun, seorang anak di Asia Timur dianggap sudah memasuki fase dewasa. Mereka sudah bisa membuat keputusan sendiri dan bertanggung jawab atas segala perbuatan yang dilakukan mereka. Tak seperti di Barat, anak-anak di Timur tidak terburu-buru dalam memilih profesi jika mereka benar-benar belum siap.

Ikatan keluarga sangat penting dalam budaya Timur. Seorang anak dapat hidup dengan keluarga mereka selama yang mereka butuhkan. Namun seringkali, pada usia 14 tahun anak sudah tahu apa yang mereka inginkan dan dapat hidup mandiri.

Sistem ini telah ada selama ratusan tahun di Timur, sehingga memungkinkan para orangtua untuk membesarkan anak-anak yang cerdas dan berbakat yang menghargai tradisi, orang lain, dan bekerja dengan baik dalam sebuah tim.

Aturan paling penting dari sistem pengasuhan di Timur yakni penjelasan tentang keputusan, cinta, dan kepedulian terhadap orangtua. Disiplin dan kemandirian memungkinkan mereka mencapai hasil yang maksimal dalam pendidikan dan pekerjaan.