Ritual Kedewasaan dan Kebiasaan Minum Darah Suku Masaai di Kenya, Unik atau Ngeri?


SURATKABAR.ID – Pernahkah Anda mendengar tentang Suku Masaai? Suku Maasai di Tanzania, Afrika, terkenal sebagai suku yang terkuat. Mereka ahli berburu, bahkan buruannya pun tak main-main, mereka memburu singa. Maasai merupakan kelompok suku asli dari Afrika yang memiliki pola hidup semi-nomaden di Kenya dan Tanzania. Meski begitu, ada hal lain yang terbilang unik dari suku ini. Setiap anak laki-laki suku Masaai usia 9-15 tahun di Kenya harus melewati ritual upacara tertentu sebagai tanda bahwa mereka sudah memasuki usia dewasa.

Dilansir dari laporan CNNIndonesia.com, Minggu (02/09/2018), anak-anak laki-laki ini akan menghabiskan waktu semalaman di hutan sebagai bagian dari ritual yang unik tersebut. Setelah berhasil melewati semalaman di hutan sebagai ujian inisiasi tersebut, barulah mereka dapat disambut bak pahlawan oleh orang-orang desa.

Menggigit Hati Banteng

Rambut mereka juga akan diwarnai merah yang didapatkan dari tanah liat. Sementara itu, mereka yang terpilih sebagai pemimpin di masa depan untuk suku tersebut akan ditambahi dengan cat putih di bagian wajahnya.

Selanjutnya, para kepala suku akan memasangkan cincin yang terbuat dari kulit banteng pada jemari anak-anak ini di upacara inisiasi tersebut.

Baca juga: 5 Suku dengan ‘Kekuatan Super’ yang Hidup di Bumi, Salah Satunya Ternyata dari Indonesia!

Selain itu, seekor banteng juga dikorbankan dalam upacara ini. Dagingnya dipanggang untuk kemudian dimakan beramai-ramai. Bisa dilihat di foto, seorang anak tengah menggigit hati banteng dalam upacara pemberkatan.

Yang bertugas untuk membagikan daging banteng yang dikorbankan kepada anak-anak itu adalah sang tetua dari suku tersebut.

Anak-anak yang mengikuti upacara akan meniup terompet saat acara inisiasi tersebut berlangsung. Di sesi akhir ritual, pendeta akan menyiram mereka dengan campuran bir dan susu sebagai lambang pemberkatan.

Berikut adalah foto keluarga Suku Masaai yang sedang mengenakan pakaian tradisional mereka dalam upacara ritual tersebut. Foto diambil di Kota Bisil, Kajiado, Kenya, Kamis (23/08/2018).

Minum Darah Hewan

Melansir laporan TribunNews.com, ada juga ketidaklaziman lain yang dijalani dalam kehidupan sehari-hari suku ini. Setiap harinya mereka mengenakan pakaian berwarna merah yang disebut Shuka. Ada juga yang menyebutnya Kanga. Warna merah pada Shuka/ Kanga ini melambangkan darah.

Warna merah dalam keseharian mereka rupanya tak berhenti sampai di situ. Pasalnya, suku ini juga memiliki kebiasaan misterius yang mengerikan, yakni meminum darah hewan. Anggota suku ini percaya darah hewan mampu membantu meningkatkan sistem kekebalan tubuh mereka. Selain itu, mereka menganggap darah hewan bisa meminimalkan efek dari mabuk.

Bagi mereka, hewan adalah segalanya. Hal ini dikarenakan 4 dari 6 makanan pokok mereka yang keseharian menggembala ternak ini memang berasal dari hewan ternak. Keenam makanan pokok tersebut adalah susu, lemak, daging, darah, madu dan kulit pohon.

Mayat Tidak Dikubur

Selain makanan darah, kebiasaan misterius mereka adalah membiarkan warga yang meninggal dalam keadaan terbuka. Mereka tidak mengubur mayat- mayat itu dan membiarkan hingga membusuk sendiri.

Sementara itu, mengutip laporan JawaPos.com, rupanya jumlah orang Maasai—yang kadang-kadang ditulis Masai ini—diperkirakan ada 900 ribu jiwa, baik di Kenya dan Tanzania. Mereka hidup terpisah-pisah secara berkelompok dan nomaden alias tidak menetap. Layaknya suku Bajo yang tinggal berpindah-pindah di pesisir pantai dan tersebar di sejumlah wilayah.

Orang Masai paling senang mendirikan perkampungan di kawasan pegunungan. Ada yang tinggal di sekitar pantai, tetapi hanya untuk mencari nafkah dengan berjualan cenderamata kepada turis. Setahun sekali mereka pulang ke kampung kelompok mereka untuk mengantarkan uang dan kebutuhan sehari-hari.

Membunuh Singa

Anak laki-laki alias pria Maasai yang sudah berusia 15 tahun akan berkelana ke hutan. Tapi, mereka tidak sendiri. Pergi secara berkelompok,  mereka biasanya terdiri dari 7–12 orang. Tujuannya agar mereka belajar survival. Makan dan minum dari apa yang ada di hutan.

Biasanya selama dua minggu hingga sebulan mereka pergi berkelana. Mereka baru boleh pulang saat sudah berhasil membunuh singa jantan. Kepala singa itu dibawa pulang sebagai barang bukti. Pertempuran melawan singa tersebut dilakukan menggunakan pisau belati dan tombak.

Setelah berhasil membunuh singa, mereka diresmikan sebagai prajurit Masai. Jika gagal? Berarti mereka tidak layak menjadi prajurit Maasai. Meski begitu, mereka boleh mencoba lagi di kemudian hari.

Apakah tidak merusak populasi singa? Mereka mengaku tidak akan merusak populasi singa lantaran yang diburu mereka hanyalah singa jantan saja. Dilarang keras untuk membunuh singa betina atau binatang buas lain. Apalagi bila singa betina itu sedang hamil.

Yang mereka percaya, singa jantan adalah raja hutan. Sehingga dengan membunuhnya, berarti mereka telah berhasil menaklukkan hutan. Artinya, mereka bisa hidup dari hutan itu. Orang Maasai sendiri sangat peduli pada kelestarian hutan dan habitatnya. Hal ini dikarenakan mereka mengandalkan hidup dari hutan tersebut.