Demi Tampil di Asian Games 2018, Yudha Sampai Resign dari Kantornya


SURATKABAR.ID – Ada kisah unik dari atlet senam trampolin yang mewakili Indonesia di Asian Games 2018. Dia adalah Yudha Tri Aditya.

Pria 28 tahun ini rela meninggalkan pekerjaannya demi mewakili Indonesia. Ia tak ingin melewatkan kesempatan membela negara dan memenuhi harapan almarhum ayahnya.

Dulunya Yudha merupakan pensenam artitik gymnastik. Namun, ia berhenti setelah gagal dan cedera saat mengikuti Pekan Olahraga Nasional 2016.

Setelah itu, Yudha pun bekerja di salah satu taman bermain di Bandung. Di tempat ini, ia bekerja sebagai badut, pemain sirkus, sekaligus penjaga wahana. Dari tempat kerjanya juga Yudha belajar senam trampolin dengan memanfaatkan wahana yang ada.

Baca juga: Tak Disangka! Bikin Cewek Histeris, Ternyata Begini Tipe Wanita Idaman Jonatan Christie

Tanpa pelatih, Yudha belajar secara otodidak dengan melihat tutorial video di Youtube. Berkat usaha kerasnya dalam belajar, Yudha kini mahir dalam cabor senam trampolin. Yudha juga berhasil meraih medali emas dan perak dalam perlombaan di Houbii, Jakarta Selatan.

Setelah menorehkan prestasi tersebut, Yudha berhasil masuk pelatnas untuk tampil di Asian Games 2018. Yudha dan rekannya, Sindhu Aji Kurnia, menjadi wakil Indonesia untuk cabor tersebut.

Namun, bukan hal yang mudah bagi Yudha untuk tampil di Asian Games. Pasalnya, manajer tempatnya bekerja tak memberikan izin padanya untuk tampil di ajang olahraga terbesar di Asia tersebut.

“Aku tidak dapat izin di tempat kerja itu, sampai akhirnya dia (manajer) memberi pilihan mau pekerjaan atau Asian Games. Dia bilang kerjaan tiap bulan ada (gaji) dan reguler juga ada, sedangkan Asian Games cuma sementara. Terus dia bilang Asian Games tidak penting juga,” terang Yudha, dilansir detik.com, Jumat (31/8/2018).

Yudha mengaku kecewa dengan apa yang dikatakan manajernya. Setelahnya, ia memilih untuk resign dan meninggalkan pekerjaannya.

“Aku kecewa dengan omongan manajer. Gila, dia bilang Asian Games tidak penting. Itu padahal ajang yang tidak mudah. Akhirnya aku ambil keputusan ikut Asian Games demi mimpi almarhum bapak aku,” lanjutnya.

Sambil meneteskan air mata, pria yang menjadi tulang punggung keluarga ini menceritakan kenangan masa kecilnya bersama sang ayah.

“Waktu tahun 1993 ada pembukaan olahraga gitu, aku digendong bapak nonton pembukaan. Masih ingat betul aku omongannya. Bapak bilang kapan ya anakku bisa bela kota, apalagi sampai bisa bela negara.” ujarnya mengenang.

Ia pun merasa Asian Games adalah tempat untuk mewujudkan impian sang ayah. “Waktu pembukaan Asian Games aku langsung merasakan bahwa mimpi itu terjadi. Tapi, aku di saat itu juga merasakan lagi kehilangan bapak.” aku Yudha.

Jika Asian Games berakhir nanti, Yudha tak tahu akan bekerja dimana. Saat ini, ia hanya mengisi hari dengan menjadi pelatih senam trampolin di Houbii dengan bayaran yang tak pasti.