Makassar Dihebohkan Perang Batu dan Sajam Selama 3 Hari, Penyebabnya Sungguh Tak Terduga


    SURATKABAR.ID – Dua kelompok warga di perbatasan Kecamatan Bontoala dan Kecamatan Tallo terlibat perang batu dan senjata tajam (sajam) selama hampir tiga hari.

    Perang tersebut beberapa kali terjadi pada siang hingga malam hari di Jalan Kandea 3 sampai Jalan Bungaejaya, sejak Selasa (28/8/2018) malam hingga Kamis (30/8/2018) siang.

    Dalam peperangan tersebut, warga yang terlibat terlihat menggunakan batu, sajam, hingga panah sebagai senjata mereka.

    Akibatnya, puluhan rumah warga yang berada di sekitar lokasi perang mengalami rusak akibat lemparan batu. Selain itu, sejumlah warga yang terlibat juga terluka. Bahkan, aparat kepolisian dari Polsekta Bontoala yang berusaha mengamankan situasi juga terluka karena lemparan batu.

    Baca juga: Bingung Dirinya Jadi Tersangka, Kadis SDA: Pengamanan Aset Itu Perintah Ahok

    Terkait peristiwa yang merugikan warga ini, Wakil Kepala Polrestabes Makassar AKBP Hotman Sirait buka suara. Menurutnya, perang antar warga ini dipicu oleh dendam lama. Ia juga menyebutnya sebagai penyakit lama masyarakat di daerah tersebut.

    Hotman melanjutkan, perang dan perseteruan antar warga ini hanya diawali oleh masalah sepele yang membesar. Akibatnya, perang pun pecah.

    “Itu sudah penyakit lama dan dilatar belakangi dendam lama juga. Jadi ketika ada persoalan sepele, ya langsung dibesar-besarkan dan akhirnya perang kelompok kembali pecah,” katanya, dikutip dari kompas.com, Kamis (30/8/2018).

    Sementara itu, perang kali ini, menurut Hotman terjadi karena ada kelompok motor yang suara knalpotnya keras dan dianggap mengganggu.

    “Dari informasi yang diperoleh di lapangan, ada kelompok motor yang tancap gas yang menimbulkan suara keras di daerah tersebut. Warga kesal kemudian mengejarnya hingga perselisihan pun terjadi yang berakhir perang kelompok,” terang Hotman.

    Untuk meredam perang tersebut, aparat kepolisian bersama tokoh masyarakat dan tokoh agama melakukan tindakan persuasif. Namun, pihak kepolisian juga siap melakukan tindakan hukum jika perang tak juga usai.

    “Selain tindakan persuasif, kami juga menyiagakan personel di daerah itu selama 24 jam. Jika dilihat kondisi penambahan personil, pasukan Sabhara Polrestabes Makassar akan diperbantukan. Kalau masih tidak bisa diselesaikan lagi dengan persuasif, kita terpaksa mengambil tindakan preventif dengan penegakan hukum,” tegasnya.