Pemerintah Malah Impor Gula Saat Stok Melimpah, Petani Tebu Kecewa


SURATKABAR.ID – Atas sikap pemerintah yang kembali mengeluarkan izin impor gula mentah, para petani tebu di Kabupaten Cirebon merasa kecewa. Disebutkan bahwa gula impor akan masuk ke Indonesia bulan depan. Mereka pun menilai keputusan pemerintah itu akan membunuh hidup mereka dan mengancam kelangsungan nasib pabrik gula.

“Saya nggak ngerti dengan sikap pemerintah. Saat petani sedang panen dan stok gula menumpuk, kok malah impor,” ungkap Sekretaris Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) Jabar, Haris Setiawan kepada pers, Selasa (28/08/2018). Demikian seperti dikutip dari laporan Republika.co.id.

Sebelumnya, Perum Bulog memperkirakan impor gula mentah (raw sugar) sudah masuk ke dalam negeri pada bulan depan. Perum Bulog melalui anak usahanya yang bernama Gendhis Multi Manis (GMN) menjadi salah satu perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang memperoleh izin Kementerian Perdagangan untuk mendapatkan jatah impor gula mentah.

Melalui GMM, Bulog memperoleh jatah sebanyak 60.170 ton dari total jatah impor gula mentah sebanyak 111 ribu ton. Sementara itu, panen/tebang tebu di Kabupaten Cirebon sudah berlangsung sejak beberapa bulan terakhir.

Saat ini, lelang gula pun sudah memasuki periode ketujuh. Sedangkan di lahan tebu, masih banyak tebu milik petani yang menunggu proses tebang.

Baca juga: Lihat Kepribadian dari 6 Cara Habiskan Uang, Kamu Termasuk yang Mana?

Diakui Wawan, gula petani telah dibeli Bulog dengan harga Rp 9.700 per kilogram. Hal itu sesuai dengan keputusan pemerintah. Namun, Wawan menyebutkan bahwa untuk gula milik BUMN, tidak boleh dibeli oleh Bulog.

Itulah sebabnya gula milik BUMN, dalam hal ini PG Rajawali II, hanya dibeli oleh sejumlah pedagang dengan kapasitas yang minim. Selain itu, harga jual gula milik PG Rajawali II yang dibeli oleh pedagang pun hanya di kisaran Rp 9.200 – Rp 9.300 per kilogram.

Menurut Wawan, minimnya gula yang dibeli oleh pedagang itu akhirnya membuat gula milik PG Rajawali II menumpuk di gudang pabrik gula (PG) Tersana Baru dan PG Sindanglaut, Kabupaten Cirebon. Perkiraan Wawan, stok gula milik PG Rajawali II yang menumpuk di dua gudang itu ada sekitar 5.000 – 7.000 ton.

“Gula itu masih menumpuk, belum laku terjual,” ujar Wawan.

Dampak dari kondisi tersebut, lanjut Wawan, pihak pabrik gula belum bisa membayar upah penebang tebu maupun sopir angkutan tebu hingga belasan hari. Akibatnya, para penebang maupun sopir angkutan melakukan mogok kerja.

“Ya akhirnya tebu tidak bisa ditebang dan pabrik gula pun kekurangan bahan baku. Jadi berdampak pada proses giling,” imbuhnya kemudian.

Sementara itu, kekecewaan pada sikap pemerintah yang kembali mengimpor gula juga disampaikan salah seorang petani tebu lainnya di Kabupaten Cirebon, Mae Azhar.

Menurutnya, petani tebu saat ini sedang mengalami keprihatinan akibat rendahnya harga gula dan rendemen. Sedangkan biaya produksi, justru mengalami kenaikan.

“Sikap pemerintah itu sama saja dengan membunuh petani tebu,” kata Mae.

Mae menambahkan, sikap pemerintah yang kerap mengimpor gula juga akan mengancam kelangsungan pabrik gula. Pasalnya, tak menutup kemungkinan para petani tebu akan semakin banyak yang meninggalkan komoditas tersebut dan beralih pada tanaman lainnya.

“Jika hal itu terjadi, maka pabrik gula akan tutup karena kekurangan bahan baku setelah ditinggalkan para petaninya,” tandas Mae.

Mae mengungkapkan, pabrik gula yang masih beroperasi di Kabupaten Cirebon kini hanya tinggal dua yakni, PG Tersana Baru dan PG Sindanglaut. Perkiraan Mae, jika pemerintah terus mengabaikan nasib petani tebu dan kelangsungan pabrik gula, maka pabrik gula yang kini masih beroperasi pun tak lama lagi bisa gulung tikar.

Harga Gula Anjlok

Diketahui, sebagaimana dilansir laman Kumparan.com, harga beli gula dari tangan petani terus anjlok menurun selama 3 tahun terakhir. Penyebabnya adalah karena stok gula yang membludak.

Sekjen Andalan Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) M Nur Khabsin menghitung harga rata-rata beli gula petani di tahun 2016 sebesar Rp 11.500 per kg. Di tahun 2017, harganya turun 17 persen menjadi Rp 9.800 per kg. Sedangkan di tahun 2018 ini (data sementara), harga beli gula rata-rata Rp 9.500 per kg. Menurut Khabsin, anjloknya harga gula disebabkan karena banjir impor gula rafinasi.