Jadi Rebutan Kubu Jokowi dan Prabowo, Rizal Ramli Tegas Mengaku Ingin Berdiri di Posisi Netral


SURATKABAR.ID – Mantan Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli tegas menyatakan sudah menentukan sikap untuk berada di posisi tengah dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019 mendatang. Bahkan meski dibujuk rayu untuk masuk tim sukses oleh kedua kubu, Rizal mentah-mentah menolak.

Rizal, diwartakan Detik.com Selasa (28/8/2018), mengaku bahwa dirinya menerima banyak pertanyaan terkait siapa calon presiden (capres) yang akan didukung. Dan terkait hal tersebut, ia menegaskan hingga saat ini belum menentukan sikap dengan tidak mendukung pasangan calon mana pun.

Hal tersebut disampaikan ketika konferensi pers yang digelar di Anomali Coffe Menteng, Jalan Teuku Cik Ditiro, Jakarta Pusat pada Selasa (28/8). Rizal mengungkapkan dirinya masih belum memutuskan akan mendukung pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno ataukah Joko Widodo (Jokowi)-KH Ma’ruf Amin.

“Banyak pemberitaan dan pertanyaan, Rizal Ramli itu dukung capres yang mana. Ada yang dikatakan Rizal Ramli, dukung capres, bagian dari timses ini itu. Kami ingin katakan pada titik ini kami belum menentukan sikap apa-apa. Dan kami tentukan posisi di tengah, tidak dukung paslon ini apa itu,” ujarnya.

Lebih lanjut Rizal menyampaikan, dengan posisinya yang ada di tengah, ia bakal mereview program-program kedua pasangan calon tersebut. Menurutnya, ia akan melabuhkan pilihan pada pasangan capres dan cawapres yang sanggup memperbaiki dan memajukan ekonomi Indonesia.

Baca Juga: Gatot Disebut Bakal Jadi Ketua Timses Jokowi-KH Ma’ruf, Sekjen Perindo Bocorkan Hal Ini

“Hari ini memang ada calon presiden dan wakil presiden, tapi belum resmi, nanti tanggal 20 September baru resmi. Pada saat itu para capres harus ajukan programnya ngapain aja. Tugas kita untuk lakukan review terhadap program-program yang ingin dilakukan capres pada tahun 2019-2024,” ungkap Rizal.

“Nanti pada akhirnya kita akan keluarkan review resmi, apakah mereka akan jalan ekonomi konstitusi, atau mereka akan bawa kita ke arah neo-liberalisme yang gagal membawa ekonomi lebih maju. Kalau itu, nanti kita imbau masyarakat agar tidak memilih yang neo-liberalisme,” tambahnya kemudian.

Selain itu, Rizal juga mengungkapkan bahwa hingga saat ini sudah ada beberapa orang baik dari Timses Jokowi maupun Prabowo yang menemuinya dan memintanya untuk bergabung dalam koalisi mereka. Namun demikian, ia mengaku tegas menolak lantaran ingin berada di posisi netral sehingga dapat mengkaji program kedua paslon tersebut.

“Ya, memang banyak calon-calon presiden dan timnya yang hubungi kami, bujuk kami supaya jadi bagian dari timses mereka, dan itu wajar-wajar saja karena saya banyak temen di kedua belah pihak baik Pak Jokowi dan Pak Prabowo,” jelasnya.

“Tapi kami katakan, mohon maaf pada titik ini kami mau di tengah supaya kita bisa lakukan review dan kajian yang betul-betul, dan sungguh-sungguh capres mana yang punya program jelas mampu meningkatkan kemakmuran, kecerdasan bangsa,” tambah Rizal.