Ditolak dan Diprotes di Bangka Belitung, Ratna Sarumpaet Ketus: Ini Rekayasa Karena…


SURATKABAR.ID – Ratna Sarumpaet angkat bicara terkait penolakan diskusi Gerakan Selamatkan Indonesia (GSI) dan #2019GantiPresiden yang digelar di Kota Pangkalpinang, Kepulauan Bangka Belitung (Babel). Ia menuding aksi penolakan tersebut merupakan rekayasa politik yang digembongi intelijen.

Ratna Sarumpaet, seperti yang dilansir dari laman Viva.co.id pada Sabtu (25/8/2018), mengungkapkan bahwa pihak penyelenggara acara diskusi tersebut sejatinya sudah berupaya memindahkan lokasi acara ke beberapa tempat berbeda. Namun tetap saja masih mendapat penolakan dari aparat setempat.

“Ini aksi penolakan politik yang direkayasa oleh pihak intelijen. Direkayasa, disutradarai. Masa spanduk penolakan bisa banyak begitu di setiap sudut kota?” tukas Ratna ketika dihubungi untuk dimintai konfirmasi lebih lanjut, Sabtu (25/8).

“Kan dari kemarin sudah dilarang, dipindah-pindah. Semua resto yang di-booking panitia digagal-gagalkan. Ini rekayasa, karena enggak ada rakyat menolak. Bahasa-bahasa yang mereka pakai itu bahasa intelijen,” tambah wanita kelahitan 16 Juli 69 tahun yang lalu ini.

Ia bahkan mengaku sempat dibuntuti beberapa mobil aparat ketika akan menemui sejumlah kelompok masyarakat nelayan di lokasi. Hal tersebut menyebabkan upayanya berkomunikasi dengan para nelayan tersebut harus gagal.

Baca Juga: Tak Diizinkan Isi Diskusi dengan Rocky Gerung di Bangka, Ratna Sarumpaet Sinis Jawab Begini

“Setelah kelompok penolak itu saya temui, lima menit kemudian mereka nunduk-nunduk, enggak protes apa-apa. Terus saya dibuntuti polisi bermobil-mobil di tempat nelayan. Itu orang-orang mau berkumpul sama saya malah dibubar-bubarin,” seloroh Ratna.

Hak bebas berserikat, berkumpul, dan menyampaikan pendapat seperti yang sudah dijamin dalam undang-undang, menurutnya, kini tak lagi berarti. “Ini acara diskusi paling-paling seratus-dua ratus orang, lalu kenapa sekarang orang ngobrol dilarang-larang? Semua dilabrak sekarang, dan itu saya enggak happy banget itu.”

Dalam jumpa pers yang digelar di Pangkalpinang, Bangka Belitung pada Sabtu (25/8), seperti diwartakan Detik.com, Sabtu (25/8/2018), Ratna mengungkapkan dirinya sangat memahami karakter intelijen. Bukan hal mengejutkan, pasalnya ia sudah terjun sebagai aktivis sejak tahun 1994.

“Atas penolakan saya menggelar diskusi di Pangkalpinang ini, saya sendiri tidak bisa menyalahkan siapa pun yang demo tadi, termasuk masyarakat. Saya sudah menjadi aktivis sejak 94, karakter intelijen saya tahu betul. Jadi tidak bisa saya salahkan masyarakat Pangkalpinang atas penolakan ini,” tuturnya.

Terkait aksi penolakan tersebut, Ratna mengimbau kepada aparat untuk menghentikan upaya rekayasa intelijen. Pasalnya hal-hal semacam ini dapat menghancurkan keutuhan bangsa dan negara Indonesia. Apalagi ia mengunjungi Pangkalpinang hanya dalam rangka dialog.

“Ini akting apa? Kenapa saya dilarang berdiskusi dengan masyarakat? Saya terus terang, tidak bisa menyalahkan siapa pun, kecuali ini semua rekayasa intelijen. Yang seperti ini tolong disetop yang kayak ginian. Negeri ini sudah hancur siapa yang mau bertanggung jawab kalau benar-benar hancur?” ujarnya.

[wpforms id=”105264″ title=”true” description=”true”]