Ma’ruf Amin Sebabkan Golkar Kecewa dan Tak Solid Menangkan Jokowi


SURATKABAR.ID – Sejauh ini, sebanyak 9 partai koalisi telah sepakat mendukung pasangan calon presiden dan wakil presiden Joko Widodo-Ma’ruf Amin dalam pemilu 2019. Mereka adalah Partai Golkar, PDIP, Partai Nasdem, Partai Hanura, PKB, PPP, PSI, Perindo dan PKPI. Namun, meski Golkar sudah memutuskan memberikan dukungannya kepada Jokowi-Ma’ruf, namun rupanya support tersebut belum sepenuhnya solid. Pasalnya, Golkar ingin kader merekalah yang dijadikan cawapres oleh Jokowi.

Ditukil dari laporan Tirto.ID, Sabtu (25/08/2018), sebagian kader Golkar mengalami kekecewaan atas keputusan Jokowi yang menjadikan Ma’ruf Amin sebagai cawapres. Dan sebagai imbasnya, kader akan lebih fokus memenangi pemilu legislatif (pileg) ketimbang pemilu presiden (pilpres).

“Tidak ada perpecahan. Tapi kami juga fokus ke perolehan suara. Karena pilkada, pileg, dan pilpres diadakan hampir bersamaan, membuat partai berkonsentrasi dalam ranah internal,” ujar politikus senior Golkar M.S Hidayat saat dihubungi pada Rabu (22/08/2018).

Dukungan Golkar untuk menjadi presiden dua periode sudah diputuskan sejak Musyawarah Nasional Luar Biasa (Munaslub) 2017 lalu. Namun Hidayat mengungkapkan pemilihan Ma’ruf sebagai cawapres Jokowi tidak menjadi kesepakatan resmi partainya. Sehingga Golkar merasa lebih baik berfokus memenangi pemilu legislatif.

“Sekarang kami konsentrasi ke pemilu legislatif,” jelas Hidayat.

Baca juga: Politikus Senior Golkar Tuding Cak Imin yang Membuat Airlangga Gagal jadi Cawapres Jokowi

Keinginan Golkar memperoleh posisi cawapres bukan tanpa alasan. Dengan mengambil cawapres dari Golkar, mesin partai akan bekerja secara solid dalam pemenangan pilpres.

“Itu harus imbang [meraih suara di daerah tertentu] karena berefek pada perolehan suara Golkar,” imbuh mantan Ketua Kamar Dagang Indonesia (KADIN) ini.

Wakil Ketua Dewan Pakar DPP Golkar Mahyudin mengaku masih gamang apakah akan mendukung pasangan Jokowi–Ma’ruf atau Prabowo-Sandiaga di Pilpres 2019 nanti.

“Belum ada yang ajak bergabung ke mana,” ujar Mahyudin kepada Tirto, Kamis (23/08/2018).

Mahyudin bahkan menuturkan saat ini kader Golkar terbelah dalam tiga kubu yang terdiri dari pendukung Jokowi–Ma’ruf, Prabowo—Sandi, dan terakhir belum mendukung keduanya.

“Menurut Pak Fadel kan terbelah 2… saya tambahkan 1 jadi 3,” beber Mahyudin.

Karena Bukan Airlangga Hartarto

Mahyudin tak bisa memastikan alasan mengapa ada kader yang tidak taat dengan keputusan partai mendukung Jokowi–Ma’ruf. Namun, ia menduga sikap itu karena Airlangga Hartarto selaku ketua umum gagal menjadi cawapres Jokowi. Kendati demikian, Mahyudin mengaku bersama keluarganya sampai saat ini masih mungkin untuk mendukung Jokowi.

Fadel Muhammad selaku Sekretaris Dewan Pertimbangan DPP Partai Golkar sempat mengatakan di Universitas Brawijaya, Kota Malang, bahwa kader partainya kecewa dengan keputusan Jokowi. Kadernya kecewa karena Jokowi lebih memilih Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden (cawapres). Kekecewaan kader muncul lantaran selama ini Golkar sudah total membela kebijakan pemerintah di DPR dan mensosialisasikan Jokowi sebagai capres di berbagai daerah.

Disebutkan Fadel, para kader ingin Jokowi memilih Ketua Umum Golkar Airlangga Hartarto menjadi cawapres. Namun, karena tak dipilih, para kader yang kecewa menurutnya tidak akan membantu pemenangan Jokowi di Pilpres 2019.

“Ya sudahlah kalau dia ambil Ma’ruf silakan. Tapi Golkar sekarang jadi pecah. Pecah setengahnya itu, sudahlah kita urus legislatif sendiri dan kita tidak dapat keuntungan dari Jokowi,” bebernya.

Diungkapkan oleh Direktur Eksekutif Lingkar Kajian Komunikasi Politik (LKKP) Adiyana Slamet, kekecewaan kader Golkar atas keputusan Jokowi memilih Ma’ruf Amin sebagai cawapres harus segera dibenahi para elite DPP Golkar. Menurutnya, Golkar punya tanggung jawab politik sebagai partai pengusung.

“Perpecahan dukungan kepada Jokowi-Ma’ruf bisa diminimalisasi dengan cara menyelaraskan dan mengetatkan konsolidasi secara nasional,” ungkap Adiyana.

Sikap mendua kader Golkar di pilres bukan baru kali ini terjadi. Saat Pilpres 2014 lalu sejumlah kader Golkar memilih mendukung pasangan Jokowi-Jusuf Kalla saat keputusan resmi partai mendukung pasangan Prabowo-Hatta. Jika tidak segera dibenahi, bukan tak mungkin kekecewaan kader berpotensi menggembosi suara Jokowi-Ma’ruf.

Menurut Adiyana, Ma’ruf juga harus mampu meyakinkan seluruh elemen Golkar. Hal itu bertujuan agar seluruh elemen Golkar percaya bahwa lelaki yang menjabat sebagai Rais ‘Aam Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) itu layak sebagai pendamping Jokowi dan menjawab keresahan internal Golkar, serta menjaring kesimpatikan konstituen kepada Ma’ruf.

“Harus ada proses dialogis dari Pak Ma’ruf kepada internal Golkar, mulai dari tingkat bawah hingga pusat, dari elit politik hingga konstituen. Ini proses meyakinkan bahwa ia simbol peredam isu politik identitas,” ujarnya.

Sementara itu, melansir laporan Viva.co.id, Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad sempat membeberkan kekecewaannya kepada awak media.

“Saya kira dinamika politik terkini yang pertama di Golkar. Golkar telah menentukan ke Jokowi. Kita sebenarnya mengharapkan dan berusaha agar (Ketua Umum) Golkar diambil (dipilih) jadi wapres (oleh Jokowi),” ujar Dewan Pembina Partai Golkar Fadel Muhammad di Malang, Jawa Timur, pada Selasa (21/08/2018).

“Kita sudah bikin gerakan besar-besaran ke seluruh Indonesia, ongkosnya mahal, supaya ketua Golkar yang diambil. Tapi tidak, ternyata kita kecewa. Saya sebagai Dewan Pembina Golkar dan selama ini kita di DPR sudah mati-matian bela Jokowi, kita bela PDIP, saya berani bantah-bantahan soal ini,” tukasnya.