Wapres Jusuf Kalla Juga Minta Agar Suara Azan Masjid Jangan Terlalu Keras


    SURATKABAR.ID – Setelah vonis dijatuhkan bagi warga Tanjung Balai, Medan, Meiliana yang dihukum penjara oleh pengadilan selama 18 bulan, Wakil Presiden Jusuf “JK” Kalla pun angkat bicara. Meski belum mengetahui dengan benar duduk perkaranya, JK menilai seharusnya Meiliana tidak harus sampai dipenjara hanya gara-gara meminta agar suara azan dikecilkan.

    “Apa yang diprotes oleh ibu Meiliana, saya tidak paham apakah pengajiannya atau azannya (yang jadi masalah). Tapi, tentu apabila ada masyarakat yang meminta begitu ya tidak seharusnya dipidana. Tapi, kita akan melihat kejadian sebenarnya apa,” tutur JK yang ditemui di Kantor Wapres di Jalan Merdeka Utara, Jakarta pada Kamis (23/08/2018). Demikian sebagaimana ditukil dari laporan IDNTimes.com, Jumat (24/08/2018).

    Lantas apa komentar JK soal pengeras suara azan tersebut? Menurut JK, permintaan Meilina mengenai pengeras suara dinilai wajar. Meski pun sebagian orang menilai permintaan Meiliana agar suara azan dikecilkan adalah tidak pantas dan berpotensi melecehkan agama, namun JK menilai justru sebaliknya.

    Permintaan yang Wajar

    JK menilai permintaan tersebut adalah wajar. Dewan Masjid Indonesia (DMI) pernah meminta agar suara masjid jangan terlalu keras.

    “Itu wajar saja. Dewan Masjid saja pernah meminta agar jangan terlalu keras (suara azan) dan jangan terlalu lama. Dan itu tidak boleh pakai tape, tetapi harus mengaji langsung,” tukas JK.

    Baca juga: Kronologi Lengkap Kasus Keluhan Suara Azan yang Berujung Penjara

    Selain itu, dewan masjid juga sudah menyerukan agar waktu pengajian dan azan dibatasi. JK mengatakan Dewan Masjid sesungguhnya sudah pernah menyerukan dan meminta mengenai hal ini.

    “Azan itu cuma 3 menit, tidak lebih dari itu. Sementara, pengajian jangan lebih dari 5 menit dan azannya juga begitu. Jadi semua (dengan azan) berkisar 8-10 menit lah,” demikian JK mengemukakan.

    Lagipula, jarak antara masjid di beberapa wilayah di Indonesia, menurut JK, hanya 500 meter. Di samping itu, jarak antara rumah warga dengan masjid juga tidak jauh.

    “Jadi, tidak perlu terlalu lama (suara azan), karena orang jalan kaki dalam waktu 5 menit kurang lebih sudah sampai. Jadi, tidak perlu panjang sampai setengah jam,” imbuh JK kemudian.

    Belajar dari peristiwa Meiliana, JK pun meminta agar suara azan masjid jangan terlalu keras.

    “Karena kalau terlalu keras, mengganggu azan pengajian di masjid lain, karena itu jangan terlalu keras efeknya,” ujarnya lagi.

    Sementara itu, dalam kasus Meiliana, yang bersangkutan dan kuasa hukumnya akan mengajukan banding usai resmi menerima salinan putusan dari majelis hakim. Meiliana menganggap vonis 18 bulan penjara tidak memenuhi rasa keadilan.

    Media Asing Ikut Soroti

    Rupanya kasus ini tak hanya diamati oleh media Tanah Air semata. Mulai dari negara tetangga hingga media Eropa juga ikut menyorotinya. Sebelumnya, Meiliana dinyatakan bersalah karena dianggap menista agama usai ia memprotes kerasnya suara azan masjid di lingkungan tempatnya tinggal.

    Sejumlah media negara tetangga seperti New Strait Times dari Malaysia serta The Straits Times dari Singapura turut memberitakan kasus ini dengan membuat artikel serupa terkait kasus Meiliana.

    New Strait Times membuat artikel berjudul Indonesian Buddhist Jailed for Blasphemy After Complaining Mosque ‘Too Loud’.

    Sedangkan The Straits Times membuat artikel berjudul Woman Jailed in Indonesia for Complaining about Volume of Mosque’s Speakers.

    Sejumlah media asing kenamaan Eropa, seperti The Guardian dan Daily Mail juga turut membuat artikel tentang kasus yang terjadi pada 2016 silam.

    Dalam artikel berjudul Woman jailed in Indonesia for complaining that call to prayer is too loud, The Guardian menyoroti kasus tersebut dalam sudut pandang kebebasan berekspresi yang seharusnya ada di Indonesia. Media asal Inggris itu juga mengungkapkan, kasus yang dialami Meiliana serupa dengan yang dialami oleh Mantan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

    Serupa dengan Guardian, Daily Mail juga menyoroti kasus Meiliana. Dalam laporannya, Daily Mail juga menyoroti latar belakang Indonesia dengan mayoritas penduduk Muslim.

    Selain media-media tersebut, abc.net.au yang berbasis di Australia juga ikut menurunkan artikel berjudul mirip, Indonesian Buddhist Woman Imprisoned After Complaining Mosque is Too Loud.

    Selain menjelaskan kasus yang menjerat Meiliana, abc.net.au juga mengutip pernyataan Bonar Tigor Naipospos dari Setara Institute, “Apa yang dilakukan Meiliana tidak bisa dikategorikan sebagai penistaan agama,” papar Bonar.

    Dianggap Sebagai Pemicu Kericuhan

    Meilina yang berusia 44 tahun itu divonis penjara karena Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan menilai protes yang ia lontarkan merupakan bentuk penistaan agama Islam. Hasil sidang di Pengadilan Negeri Medan menilai Meiliana terbukti telah menodai agama Islam. Ketua majelis hakim menjatuhkan vonis 18 bulan atau 1,5 tahun penjara.

    “Menyatakan terdakwa Meiliana terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang pada pokoknya bersifat permusuhan, penyalahgunaan atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia. Menjatuhkan pidana terhadap terdakwa selama 1 tahun dan 6 bulan, dikurangi masa tahanan,” demikian disampaikan oleh Hakim Ketua, Wahyu Prasetyo Wibowo saat memimpin sidang pada Selasa (21/08/2018).

    Majelis hakim juga menilai protes dari Meiliana memicu terjadinya kericuhan di enam vihara dan kelenteng di Tanjung Balai pada 29 Juli 2016. Vihara tersebut dibakar oleh beberapa orang. Polisi sudah mengamankan tujuh orang, karena diduga merupakan pelaku pembakaran dan perusakan tempat ibadah (wihara).