Heboh Vonis Meiliana, Soal Pengeras Suara Masjid Sudah Diatur Kemenag Sejak 1978


SURATKABAR.ID – Baru-baru ini perhatian masyarakat, khususnya umat Muslim, tertuju pada kasus hukum yang menjerat Meiliana. Bermula pada bulan Juli 2016 lalu, di mana Meiliana memperkarakan volume suara azan dari masjid yang menurutnya terlalu keras.

Atas protes tentang polusi suara dari pengeras masjid yang disuarakannya, ia pun dijerat dengan Pasal 156 a huruf (a) tentang penistaan agama. Dan oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri Medan, Meiliana dijatuhi vonis hukuman penjara selama 1 tahun 6 bulan atau selama 18 bulan.

Seperti yang dilansir dari laman CNNIndonesia.com pada Selasa (23/8/2018), terkait penggunaan pengeras suara untuk masjid, langgar, maupun musala, sebenarnya sudah diatur oleh Kementerian Agama (Kemenag) sejak tahun 1978.

Peraturan tersebut dimuat dalam Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 mengenai Penggunaan Pengeras Suara di Masjid, Langgar, dan Mushalla. Namun sayangnya tidak disertakan sanksi kepada pelanggar di dalam aturan tersebut.

Dikutip dari laman resmi Kemenag, Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 telah mengatur beberapa hal terkait pengunaan pengeras suara di masjid, langgar, dan juga musala.

Baca Juga: Kronologi Lengkap Kasus Keluhan Suara Azan yang Berujung Penjara

Terdapat sejumlah poin di dalamnya. Salah satunya mengenai aturan bahwa pengeras suara (muazin, imam salat, pembaca Al-Qur’an, dan lain-lain) diharuskan memiliki suara yang tidak hanya fasih, tetapi juga merdu, enak didengar, tidak cempreng, tidak sumbang, atau tidak terlalu kecil.

Instruksi Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Nomor Kep/D/101/1978 bertujuan meminimalisir anggapan dari orang luar tentang tidak tertibnya suatu masjid. Dimuat juga beberapa syarat penggunaan pengeras suara, yakni dilarang terlalu meninggikan suara do’a, dzikir, dan salat.

Khusus di waktu azan, Instruksi Dirjen Bimas Islam tersebut menyatakan sebagai tanda masuk waktu salat, suara azan harus ditinggikan. “Yang perlu diperhatikan adalah agar suara muazin tidak sumbang dan sebaliknya enak, merdu, dan syahdu,” dikutip dari laman resmi Kemenag.

Syarat lain yang dimuat dalam aturan tersebut adalah ketentuan orang yang mendengar adalah dalam keadaan siap mendengarkannya. Artinya mereka tidak dalam keadaan sedang tidur, istirahat, beribadah, atau sedang upacara.

“Dalam keadaan demikian (kecuali azan) tidak akan menimbulkan kecintaan orang bahkan sebaliknya. Berbeda dengan di kampung-kampung yang kesibukan masyarakatnya masih terbatas, maka suara keagamaan dari dalam masjid, langgar, atau musala selain berarti seruan takwa juga dapat dianggap hiburan mengisi kesepian sekitarnya,” bunyi aturan tersebut.

Turut diatur juga penggunaan pengeras suara pada waktu-waktu tertentu. Pada waktu subuh misalnya. Penggunaan pengeras suara di waktu subuh diperbolehkan paling awal adalah 15 menit sebelum subuh. Untuk pembacaan Al-Qur’an dan azan boleh menggunakan pengeras suara keluar.

Sementara ketika pelaksanaan salat subuh, kuliah subuh, dan kegiatan keagamaan lainnya yang dilaksanakan pada waktu subuh, hanya diperbolehkan menggunakan pengeras suara ke dalam saja, tidak boleh menggunakan pengeras suara keluar.

Dan untuk waktu ashar, maghrib, dan isya’, suara azan diperbolehkan menggunakan pengeras suara baik ke dalam maupun keluar. Namun setelah azan, tidak diperbolehkan menggunakan pengeras suara keluar, dan hanya diperbolehkan memakai pengeras suara ke dalam saja.

Lalu untuk waktu zuhur dan salat Jumat, penggunaan pengeras suara diperbolehkan 5 menit menjelang azan zuhur dan 15 menit sebelum waktu salat Jumat dengan pembacaan Al-Qur’an dan azan menggunakan pengeras suara keluar. Ketika salat, pembacaan doa, pengumuman, dan khutbah hanya boleh memakai pengeras suara ke dalam.

Terdapat juga aturan penggunaan pengeras suara saat takbir, tarhim, dan ketika bulan Ramadan. Pada saat takbir Idul Fitri dan Idul Adha, diperbolehkan menggunakan pengeras suara ke luar. Namun untuk tarhim doa dengan pengeras suara ke dalam, dedang tarhim zikir tak diizinkan memakai pengeras suara.

Di bulan Ramadan, pada waktu siang dan malam hari, saat membacakan Al-Qur’an harus menggunakan pengeras suara ke dalam saja.

Peraturan terakhir, ketika digelar perayaan hari besar Islam dan pengajian, hanya diperbolehkan menggunakan pengeras suara ke dalam. Namun aturan berubah jika jamaah sampai meluber ke luar masjid, langgar, atau musala.

Sayangnya dari keseluruhan aturan tersebut, Instruksi Dirjen Bimas Islam Nomor Kep/D/101/1978 tak menyertakan sanksi bagi para pelanggar. Belum ada jawaban ketika Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama dihubungi untuk dimintai konfirmasi terkait aturan tersebut.