Terungkap! Salah Satu Penari Ratoeh Jaroe Bocorkan Kisah di Balik Layar Pembukaan Asian Games 2018, Ternyata…


SURATKABAR.ID – Kemegahan Opening Ceremony Asian Games 2018 masih terngiang di kepala. Jutaan pasang mata menjadi saksi begitu spektakulernya pertunjukan karya anak bangsa. Salah satu yang sukses bikin gagal move on adalah suguhan Tari Ratoeh Jaroe, tarian tradisional Aceh.

Tarian yang dibawakan oleh ribuan pelajar beruntung dari ibu kota, berhasil memukau tak hanya penonton langsung di Stadion Utama Gelora Bung Karno, namun juga penonton di negara-negara lain. Tak heran pembukaan pesta olahraga terbesar se-Asia ini langsung viral.

Dilansir dari laman Grid.ID pada Selasa (21/8/2018), sebanyak 1.500 penari yang tampil berasal dari 20 Sekolah Menengah Atas (SMA) di DKI Jakarta. Dikomandoi oleh Denny Malik dan Dede Syahputra, ribuan siswi tersebut membawakan gerakan demi gerakan dengan begitu kompak dan dinamis.

Eyegasm’ berhasil dirasakan para penonton adalah buah dari begitu beragamnya display yang ditampilkan. Mulai dari papan catur hingga bunga. Kesuksesan para pelajar tersebut menampilkan tarian tradisional Indonesia membuat banyak orang bertanya-tanya, bagaimana bisa?

Renita Setyowati, salah seorang penari Ratoeh Haroe, angkat bicara membagikan kisah mengenai pengalaman menariknya ikut ambil bagian dari ceremony Asian Games 2018 melalui rangkaian kalimat di akun Twitter @coketaeil.

Baca Juga: Catatan Kelam di Balik Keagungan Asian Games 2018, Puluhan Orang Sengaja Ditembak Mati

Secara begitu runtut, siswi dari SMA 78 Jakarta ini buka-bukaan menceritakan bagaimana kesannya menjadi satu dari 1.500 penari, hingga perjuangannya dijemur di bawah terik sinar matahari siang, sebelum akhirnya menerima riuh tepuk tangan di akhir penampilan mereka yang memukau.

Mula-mula, Renita mendaftar melalui form yang disebar ke sekolahnya. Bukan hal yang mudah. Ia harus mengikuti seleksi yang awalnya terdiri dari 100 orang, menyusut menjadi 81 orang. 75 orang akan berada di tim inti, sementara 6 orang mengisi kursi cadangan.

Akhirnya Renita lolos bersama 5-8 orang sesuai kriteria yang dibutuhkan. Latihan awal pun dimulai secara bertahap, di mana masing-masing peserta dari sekolah mengadakan latihan secara mandiri selama sebulan penuh seusai jam pelajaran.

Tak hanya hari biasa, para pelajar yang terpilih tetap harus berlatih meski sedang musim ujian. Bahkan di bulan puasa sekalipun. Yang dirasa cukup berat bagi Renita adalah, mereka tak hanya harus menghafal lagu, namun juga hitungan ketukan, sampai kapan waktunya pergantian gerakan.

Jadwal latihan dilaksanakan pada bulan April hingga Mei. Lalu mereka baru bisa bergabung dengan 750 orang lainnya dalam grup besar dan berlatih di bulan Juni. Latihan berat pun menjadi makanan sehari-hari mereka. Para penari harus berlatih dari pukul 13.30 WIB sampai 17.30 WIB.

Ketika latihan bersama grup besar inilah masing-masing peserta mendapatkan pakaian khusus yang menjadi penanda posisi mereka. Para penari juga diberi kostum sementara sebagai latihan ‘berganti baju’ di saat pentas nanti.

Masing-masing peserta mendapatkan lembaran yang berisi data posisi serta formasi mereka ketika nanti tampil. Renita mengaku, dari sekian banyak formasi ia memfavoritkan formasi terakhir, di mana mereka membentuk display bendera merah putih raksasa. Saat itu ia tak bisa menahan air matanya mengalir.

Jujur aja pas bagian ini aku udah mewek air mataku bleberan,” tulis Renita.

Setelah melalui satu bulan berlatih dalam grup besar, mereka baru memulai latihan di Dtadion Gelora Bung Karno. Ada kejadian tak terduga saat itu. Renita mengungkapkan dirinya sampai harus minta jam dispensasi dari sekolah lantaran waktu latihan bertepatan dengan jam belajar mengajar.

Ada satu hal yang paling tidak bisa dilupakan Renita. Tepat sesaat sebelum mereka tampil, ada salah seorang penari yang jatuh sakit. Penari tersebut sampai ahrus mendapatkan penanganan dari tim medis. Tak ingin menyerah, rekan-rekan satu timnya menyerukan kalimat penyemangat.

Menjalani hari-hari dan latihan yang begitu berat, bukannya Renita tidak pernah merasa lelah. Namun ketika Denny Malik mengaku bangga dengan kemajuan yang dialami para penari di hadapan awak media, semangat Renita dan rekan-rekan satu timnya langsung menggelora kembali.

Rangkaian kisah Renita dibagikan sehari usai Upacara Pembukaan Asian Games 2018. Dan sejak diunggah, kicauannya langsung viral di Twitter, dibagikan lebih dari 4.700 laki dan mendapat lebih dari 5.000 likes.

Tidak sedikit netizen yang mengaku tersentuh membaca pengalaman Renita. Mereka memberikan apresiasi kepada Renita dan seluruh rekan satu timnya yang begitu gigih dalam berlatih hingga berhasil menunjukkan tarian yang sangat mempesona.