Mengenal Festival Meugang, Tradisi Membelah Kepala Sapi di Banda Aceh


SURATKABAR.ID – Bersama Yayasan Khadam Indonesia (YKI) dan Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh, Pemerintah Kota Banda Aceh akan menggelar Festival Meugang di Pasar daging tradisional Peunayong, Banda Aceh. Hal ini dilakukan untuk melestarikan tradisi meugang di Aceh yang sudah ditetapkan sebagai salah satu warisan budaya tak benda nasional.

“Festival Meugang yang digelar hari ini merupakan kali pertama dilakukan di Banda Aceh, dan ke depan akan dilaksakan setiap tahunnya saat hari meugang,” ungkap Wali Kota Banda Aceh, Aminullah Usaman kepada wartawan, Senin (20/8/2018). Demikian seperti dilansir dari reportase Kompas.com, Selasa (21/08/2018).

Aminullah menuturkan, meugang merupakan sebuah tradisi unik yang sudah ada sejak dulu dan hanya dimiliki masyarakat Aceh saat menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan, Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha. Meugang juga merupakan wujud rasa syukur kepada Allah sekaligus dijadikan sebagai momen untuk bersilaturrahmi bersama sanak keluarga.

“Meugang salah satu cara masyarakat Aceh untuk membesarkan hari besar Islam, kemudian hari meugang momennya untuk berbagi dan silaturrahmi dengan keluarga besar, karena saat hari meugang biasanya seluruh anggota kelurga baik dari perantauan akan pulang,” demikian ia menjelaskan.

Destinasi Wisata Muslim

Harapan Amin, dengan adanya Festival Meugang nantinya dapat menjadi salah satu destinasi wisata Muslim yang ada di Aceh dan Kota Banda Aceh, sehingga dapat menarik minat kedatangan turis dari mancanegara.

Baca juga: Heboh Bambu Diolok-olok di Jakarta, Padahal Seluruh Dunia Memujanya

“Ke depan kita berharap Festival Meugang dapat menarik minat kunjungan wisatawan mancanegara karena Aceh selama ini memang sudah terkenal dengan keindahan Masjid Raya, Museum Tsunami, serta keindahan laut dan alam,” ujarnya.

Di lain pihak, Irini Dewi Wanti yang merupakan Kepala Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Aceh menyebutkan, Festival Meugang ini dilaksanakan kali ini pertama di Banda Aceh sebagai bentuk tindak lanjut pelestarian tradisi meugang di Aceh yang sudah ditetapkan sebagai warisan budaya tak benda nasional sejak tahun 2016.

“Festival ini bentuk upaya tindak lanjut untuk melestarikan warisan budaya tak benda, ke depan akan kita lakukan setiap tahunnya,” tukasnya.

Dalam Festival Meugang yang pertama sekali digelar di Banda Aceh itu, tujuh orang peserta akan mengikuti lomba membelah kepala sapi (phok ulee leumo).

Juri akan menilai kecepatan peserta membelah kepala sapi hingga siap dimasak dan kebersihan hasil daging kepala sapi yang telah siap dibelah itu.

“Yang dinilai kecepatan peserta membelah kepala sapi dan kebersihan karena untuk membelah kepala sapi itu tidak mudah, harus ada ketrampilan dan kebiasaan,” beber Irini.