Heboh Bambu Diolok-olok di Jakarta, Padahal Seluruh Dunia Memujanya


SURATKABAR.ID – Bambu, tanaman serba guna ini tentu terdengar tak asing lagi di kuping Bangsa Indonesia. Tak hanya diolah menjadi manuskrip, bambu pun diolah menjadi bahan bangunan. Namun memang di Tanah Air sendiri, bambu kerap diidentikkan dengan kampung dan kemiskinan. Jika hendak menilik hal viral di media sosial baru-baru ini, bambu bahkan malah diolok-olok dan ditertawakan. Pasalnya, di Jakarta, ada banyak bendera negara-negara peserta Asian Games yang dipacak dengan tiang dari belahan bambu.

Melansir reportase Tirto.ID, Senin (20/08/2018), Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan mengizinkan pemasangan bambu yang dilakukan pada 17 Juli tersebut. Yang menjadi masalah, tiang bambu yang dibelah dua itu dianggap tidak estetis, sehingga melahirkan banyak ejekan dan kritik. Apalagi setelah belakangan diberi tambahan bumbu politis.

Lantaran ramai di media sosial, petugas Penanganan Prasarana dan Sarana Umum (PPSU) melepas tiang-tiang bambu itu pada sore hari. Namun, Anies memerintahkan agar bendera dan tiang bambu kembali dipasang.

“Saya berharap tiang bambu dan bendera sederhana inisiatif warga ini malah akan jadi inspirasi bagi warga kampung lainnya untuk mempercantik lingkungannya, menyambut tamu-tamu yang datang ke Jakarta yang ikut mereka rasakan sebagai rumah besar milik mereka. Lewat memo ini saya instruksikan untuk dipasang kembali. Harap pastikan keamanan dan kerapiannya,” tulis Anies, sebagaimana dikutip dari laporan Antara.

Citra Bambu yang Tak Estetik

Kemudian, kasus ini kembali menyeret bambu ke gelanggang percakapan publik Tanah Air. Di sana, citra bambu tetap tak berubah: identik dengan sesuatu yang tak estetik, miskin selera dalam artian seolah tidak eksklusif, maupun miskin logistik. Citra itu bertahan sejak dulu.

Baca juga: Menengok Seni Instalasi Bambu di Bundaran HI yang Dibanggakan Anies Baswedan

Sebagai contoh, rumah dari gedek alias anyaman bambu, selalu diidentikkan dengan kemiskinan. Carilah berbagai berita yang menyoroti kemiskinan, pasti salah satunya akan menggambarkan hunian dari gedek. Asumsi bahwa rumah gedek identik dengan kemiskinan ini tak muncul dengan instan. Setidaknya pola pikir seperti itu sudah muncul sejak 1970an.

Waktu itu, bata dan semen mulai banyak dipakai sebagai bahan bangunan untuk rumah. Bambu yang murah dan mudah didapat, dilupakan. Rumah dari bata dan semen yang tampak kokoh dianggap sebagai perlambang hunian modern.

Perlahan tapi pasti, rumah berbahan bambu mulai ditinggalkan. Tak hanya itu, rumah bambu mulai dianggap ketinggalan zaman, plus mulai dicitrakan sebagai rumah orang miskin. Imelda Akmal dalam Bambu Untuk Rumah Modern (2013) menyoroti fenomena ini.

“Ironisnya, muncul pandangan bahwa rumah bata mampu menaikkan status sosial dan ekonomi pemiliknya, sementara rumah bambu dianggap murahan dan kampungan. Akhirnya berkembang anggapan bahwa rumah bambu hanya untuk orang miskin,” tulis Imelda.

Tanaman dengan Nilai Filosofis Tinggi

Namun sesungguhnya, bambu merupakan tanaman yang sering disebut di banyak literatur lampau. Ia dianggap sebagai tanaman dengan filosofis tinggi. Di Indonesia, salah satu literatur populer tentang bambu bisa ditengok di komik Kung Fu Boy. Di manga rekaan Takeshi Maekawa itu, Chinmi, seorang bocah yang belajar kungfu di Kuil Dairin, mendapat intisari ilmu toya dari bambu.

Riki, sang guru toya yang buta, punya gerakan luwes yang sukar ditiru. Chinmi berusaha menduplikasi gerakan itu, tapi gagal. Hingga suatu hari hujan badai datang. Karena angin kencang, bahkan pohon besar berakar dalam pun tumbang. Namun, Chinmi memperhatikan sesuatu yang berbeda: bambu sama sekali tak patah meski badannya kecil dan ramping.

Alih-alih melawan angina, bambu berputar mengikuti ke mana angina bertiup. Luwes dan lentur pun menjadi kekuatan unik dan besar dari bambu.

Menelusur lebih lanjut, Cina menjadi negara yang identik dengan bambu. Bahkan julukannya pun Negeri Tirai Bambu. Saat ini, ada sekitar 400 spesies bambu di Cina. Sekitar 1/3 spesies bambu masyhur juga ada di negeri panda itu. Di sana, bambu sudah digunakan sejak ribuan tahun lalu, diperkirakan sejak era Dinasti Shang (1600-1046 SM). Selain untuk bahan bangunan, bambu juga dipakai sebagai medium untuk menulis.

Di era Dinasti Zhou, yang kemudian dikenal sebagai zaman saat negeri-negeri saling berperang (“Warring States”, 481-222 SM), bambu banyak dipakai untuk alas manuskrip. Di dalam salah satu kuburan tentara terakota yang diperkirakan berasal dari era 300 SM, ditemukan 804 gulungan bambu. Sebanyak 730 di antaranya sudah ditulisi.

Menurut Dirk Meyer dalam Philosophy on Bamboo: Text and Production of Meaning in Early China (2012), era Warring States adalah masa penting bagi perkembangan literasi Cina. Itu adalah masa ketika budaya bercerita melalui oral, berpindah ke medium tulisan.

“Biasanya teks ditulis di lembaran bambu, dan secara sporadis di kayu, bahkan sutera,” tulis Meyer.

Bambu di Cina dianggap sebagai tanaman yang luhur. Ia selalu diasosiasikan dengan sifat-sifat apik: integritas, ketahanan, elegan, keanggunan, kebijaksanaan, hingga loyalitas. Ada banyak sekali lukisan yang menampilkan bambu. Beberapa pelukis klasik Cina, misalnya Wen Tong (1018-1079), Wang Fu (1362-1416), atau Xia Chang (1388-1470), terkenal karena lukisan-lukisan bambunya.

Saat ini diperkirakan ada sekitar 1.500 spesies bambu di seluruh dunia yang tergolong dalam tiga suku besar: Arundinarieae dengan sekitar 546 spesies, Bambusae dengan 546 spesies, dan Olyreae dengan 124 spesies.

Bambu juga penting bagi ekologi. Ia dikenal sebagai tanaman yang bisa menyimpan air tanah dalam jumlah besar. Bambu juga tanaman yang punya banyak fungsi. Ia bisa jadi bahan makanan ketika masih berbentuk rebung, bisa jadi alat musik, jadi joran pancing, galah, hingga dipakai sebagai senjata untuk bertempur.

Efek Wow Bambu

Anggapan bahwa bambu ialah bahan bangunan rumah orang miskin jelas sudah ketinggalan zaman. Kini, saat banyak orang menyerukan untuk kembali ke alam, bambu jadi bagian penting di dalamnya. Termasuk soal arsitektur. Ini terjadi di banyak negara, mulai di kawasan Amerika, Eropa, dan tentu saja Asia.

Di Indonesia, ada banyak sekali arsitek yang mengandalkan bambu untuk fungsi ketahanan maupun estetika. Salah satu yang cukup populer adalah IBUKU, sebuah biro arsitektur di Bali yang fokus memakai bambu sebagai bahan utama bangunan.

IBUKU didirikan oleh Elora Hardy, yang sempat menjadi desainer untuk merek fesyen terkenal Donna Karan. Elora kemudian pindah, dari New York menuju Bali. Di sanalah ia kemudian mendirikan IBUKU. Ada alasan kuat kenapa bambu dipilih Elora sebagai primadona rancangannya.

“Bambu itu sangat luwes. Ia bisa jadi bintang, bisa menampakkan ruang luas, menghasilkan efek wow, sekaligus bisa tampak tak terlihat, alami, seperti sarang di sekitarmu, tampak seperti hal yang sama sekali tak didesain atau dibangun,” ujar Elora pada Vogue.

Elora berpendapat, manusia modern sudah lama memunggungi bambu. Maka IBUKU pun punya misi mengembalikan kejayaan bambu dalam dunia arsitektur. Namun sebagai bahan bangunan, bambu bukannya tanpa cela. Jika tak dirawat, bambu rawan keropos atau rapuh dilahap serangga. Elora menuturkan bahwa IBUKU punya cara khusus untuk merawat bambu agar tahan lama.

“Kami merawat bambu dengan garam alami Boron, yang melindungi bambu secara permanen. Perawatan itu adalah kunci dari apa yang kami lakukan. Tanpa perawatan itu, bambu tidak bisa dianggap sebagai material bangunan permanen,” imbuh Elora dalam wawancara bersama Inhabitat.

Hingga saat ini, IBUKU sudah mendesain sekitar 60 bangunan dari bambu yang tersebar di penjuru Asia. Ada Tri Restaurant di Hong Kong, Como Markpetplace di Singapura, paviliun yoga di Four Season, dan banyak bangunan di Bali. Mulai dari Shama Springs Residence yang merupakan bangunan bambu tertinggi di Bali—enam tingkat dengan empat kamar—hingga Green School dan hotel butik Bambu Indah. Dua yang terakhir disebut didirikan oleh ayah Elora, John Hardy, dan ibu tirinya, Cynthia Hardy.

Selain untuk bangunan, banyak pula seniman yang memakai bambu sebagai medium karya seni. Salah satu yang paling populer sekaligus konsisten adalah Joko Avianto. Seniman yang menempuh pendidikan di Institut Teknologi Bandung ini sudah belasan tahun menjajaki medium bambu.

Joko pernah membuat Infinity, pilinan bambu yang menjelma serupa keranjang buah berukuran 10x6x5 meter. Yang paling masyhur belakangan adalah karyanya yang dipajang sebagai fasad sementara di Frankfurter Kunstverein, Jerman. Karya itu berupa 1.500 batang bambu yang dibengkokkan sedemikian rupa dan berbentuk serupa naungan pohon. Karya yang digarap selama tiga minggu ini diberi nama The Big Trees.

Karya-karya Elora dan Joko adalah bukti bahwa bambu merupakan tanaman yang amat kuat sekaligus artistik.  Dengan visi yang terukur di tangan yang tepat, bambu bisa menjelma jadi bangunan atau karya seni nan megah, kuat, sekaligus indah dan anggun. Melansir ucapan Elora, bambu bisa menimbulkan efek “wow” bagi siapapun yang menyaksikannya.

Dalam kasus bambu Anies Baswedan, yang keliru jelas bukan bambunya. Di tangan yang salah, bambu tak hanya identik dengan kemiskinan ekonomi, tapi juga kemiskinan konsep—dan lebih buruk dari itu, kemiskinan imajinasi serta kemiskinan wawasan dan filosofi. Bukankah demikian?