‘Getih Getah’-nya Disebut Mirip Kecebong Berharga Fantastis, Joko Avianto Sang Seniman Menjawab


SURATKABAR.ID – Instalasi bambu ‘Getih Getah’ yang terlihat menghiasi kawasan Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat, karya seorang seniman asal Jawa Barat bernama Joko Avianto memang tengah menjadi topik perbincangan hangat di kalangan masyarakat.

Nama ‘Getih Getah’ yang sengaja dipilih pria kelahiran 1976 di Cimahi, Jawa Barat ini memiliki arti yang sangat nasionalis, yakni merah putih. Dan dilansir dari laman Kompas.com pada Senin (20/8/2018), nama tersebut terinspirasi dari keberanian yang dimiliki pasukan Majapahit.

“Pasukan datang dari kapal yang ada di utara menuju ke selatan. Saya ngebayangin atlet kita siap bertempur kayak Majapahit itu yang tidak gentar,” jelas pria yang sudah menggeluti dunia seni bambu sejak tahun 2003 silam, ketika dihubungi pada Minggu (19/8).

Karya instalasi bambu dengan dimensi 12 X 4 X 5,5 meter ini disebut menghabiskan sekitar 1.500 batang bambu. Untuk mengerjakannya, ia hanya membutuhkan waktu sepekan saja dengan dibantu orang. Terdapat 73 bambu penyangga sebagai simbol Kemerdekaan ke-73 Republik Indonesia.

Joko mengaku mendapat inspirasi dari bentuk windsock alias penunjuk arah mata angin. Pada bagian ujung dibuat menyerupai ikatan tambang yang menjadi lambing persatuan dari bangsa dan negara Indonesia yang terdiri dari bersuku-suku dan agama.

Baca Juga: Menengok Seni Instalasi Bambu di Bundaran HI yang Dibanggakan Anies Baswedan

Meski banyak pujian yang ia terima berkat karya buatannya tersebut, Joko mengaku mendapat cukup banyak kritikan pedas. Terutama terkait interpretasi bentuk ‘Getih Getah’ yang disebut-sebut mirip kecebong. Bahkan ada pula yang menyebut mirip posisi berhubungan suami istri.

Sementara yang memuji menilai karya instalasi bambu tersebut tidak pantas diletakkan di tengah Bundaran HI. Pasalnya lokasi tersebut sudah terdapat air mancur serta Patung Selamat Datang yang berdiri tegak sebagai ciri khas tempat itu.

Ada juga hujatan yang menyinggung biaya yang ia habiskan, di mana sampai menyentuh angka Rp 550 juta hanya untuk instalasi karyanya. Terlebih lagi, ‘Getih Getah’ hanya bakal bertahan selama enam bulan saja. Angka tersebut diklaim terlalu mahal.

Namun demikian, Joko tetap santai menanggapi beragam reaksi negatif yang diterimanya. Ia hanya berharap dengan adanya kesempatan ini, peluang seni instalasi di Indonesia semakin terbuka di masa mendatang.

“Kalau di negara lain yang punya empat musim dibongkar 3 bulan terus diganti winter karya yang lain. Ruang-ruang itu tuh, ruang kreatif yang dibuka, difasilitasi pemprov dan mungkin saya jadi case pertama karena kebetulan memang menghadapi Asian Games dan 17 Agustus,” paparnya.

Lalu terkait nama serta karyanya yang saat ini turut dilibatkan dalam diskusi politik menyoal Gubernur Anies Baswedan, Joko justru menganggap hal tersebut sebagai keuntungan yang diterimanya. “Ini keuntungan sih, buat saya sebagai seniman ya. Maksudnya diangkat terus diceritakan,” ujarnya.

Untuk membuat karya instalasi bambu ‘Getih Getah’, Joko sebagai seniman bambu mengaku bambu Indonesia memiliki keistimewaan dibanding bambu-bambu negara lain. “Itu saya pernah pakai bambu Jepang, bambu Jepang itu gagal treatment dari saya, enggak kepake itu bambu dari Jepang dari China.”

Sebelum ‘Getih Getah’, karya-karya alumni Institut Teknologi Bandung (ITB) ini sudah pernah berdiri menghias kota-kota di berbagai belahan dunia dan panggung pertunjukan seni internasional. “Pertama yang internasional ya, di 2012 di Art Jog, Yogyakarta,” ujarnya.

Pada kesempatan tersebut, jalinan bambu Joko berbaris di halaman Taman Budaya Yogyakarta. Selanjutnya di tahun 2013, di mana sebanyak 3.000 batang bambu menutupi Balai Kota di George Town, Penang, Malaysia.

Berikutnya, karya instalasi bambu ‘Big Trees’ Joko membuat Frankfurt Kunstverein, Jerman terpukau. Di tahun 2017, rakitan bambu Joko Avianto berpose indah di Yokohama Triennale. Saat itu karyanya bersanding dengan karya-karya seniman beken lainnya. “Karya saya disandingkan dengan karya penting lainnya di dunia, Ai Weiwei,” ungkap Joko.