Kebenaran Terkuak! Bukan Hanya Karena Gunung Es, Tak Disangka Ini Sebenarnya Penyebab Karamnya Titanic


SURATKABAR.ID – Siapa yang tidak kenal dengan Kapal Titanic. Kemegahan kapal mewah berbobot 52 ribu ton ini disajikan dengan begitu luar biasa dalam film berjudul ‘Titanic’ yang dibintangi oleh Leonardo Dicaprio dan Kate Winslet.

Fakta sejarah terkait penyebab tenggelamnya Titanic pada tahun 1912 ini juga dapat disaksikan di film tersebut. Termasuk insiden bongkahan es raksasa di Samudera Atlantik yang merobek lambung kapal ini di tengah perjalanan dari Southampton, Inggris menuju New York City, Amerika Serikat.

Namun para ilmuwan serta sejarawan mulai menyangsikan sebab karamnya Titanic. Menurut mereka, Titanic tenggelam bukan hanya karena menubruk bongkahan es raksasa, melainkan adanya faktor human error yang turut berperan dalam kecelakaan besar tersebut.

Apa saja? Berikut ini beberapa faktor penyebab kapal mewah Titanic yang disebut-sebut tak dapat tenggelam ini akhirnya menjadi penghuni dasar lautan nan gelap dan dingin, seperti yang dihimpun dari laman Grid.ID pada Kamis (16/8/2018):

Tenggelam Karena Api

Seorang jurnalis bernama Sena Molony, yang sudah begitu fasih mempelajari serta mendalami sebab tenggelamnya Titanic selama 30 tahun mengaku dibuat terperangah ketika meneliti satu per satu foto-foto Titanic sebelum mengangkat jangkar dan berangkat dari Pelabuhan Southampton.

Baca Juga: Kisah Violet Jessop, Selamat dari Titanic dan Hampir Tenggelam 3 Kali dalam Kecelakaan Kapal Lain

Di salah satu foto, ia menemukan noda hitam besar pada lambung bagian kanan Titanic. Noda tersebut terbentuk karena tungku api yang menjadi penghasil daya gerak baling-baling kapal. Fakta mengerikan pun terkuak, di mana tungku tersebut selama 3 minggu tanpa henti memanasi lambung kanan kapal.

Hal itulah yang menyebabkan material besi pada lambung menipis sampai menggerogoti kepadatan metal hingga 75 persen. Dipastikan, jika tidak ada kasus yang disebabkan oleh tungku api, besar kemungkinan lambung kanan Titanic dapat bertahan dari benturan dengan bongkahan es.

Keberadaan Teropong

Sebagai informasi, pada tahun 1912 di dunia perkapalan belum ada sistem sonar yang dapat mendeteksi anomaly di sekitar kapal. Dan untuk mengisi peran sistem sonar, harus ada awak kapal menggunakan ‘darto’ atau Radar Moto (mata) mengawasi keadaan sekeliling dengan teropong.

Fakta mengejutkan lain adalah, berbeda dengan apa yang ditunjukkan dalam film ‘Titanic’, pada kenyataannya di kapal Titanic sesungguhnya tidak ada teropong. Lebih tepatnya teropong yang ada tak dapat digunakan sebagaimana semestinya.

Usut punya usut, seorang pelaut bernama David Blair, awak Titanic batal ikut dalam pelayaran maut tersebut. Blair sendiri adalah petugas yang bertanggung jawab akan ruangan berisi teropong bagi awak kapal.

Rupanya Blair baru diketahui tidak hadir dalam pelayaran di detik-detik akhir kapal akan berangkat. Dan parahnya lagi, ia lupa untuk menyerahkan kunci ruangan teropong kepada awak kapal lainnya. Dan walhasil, Titanic berlayar tanpa mata hanya mengandalkan intuisi Kapten Edward Smith.

Jumlah Sekoci Penyelamat yang Minim

Ada satu lagi kesalahan fatal yang menyebabkan banyaknya korban jiwa dalam insiden mengerikan di malam musim dingin ini. Dan itu adalah jumlah sekoci penyelamat yang terlalu sedikit untuk mengangkut seluruh penumpang Titanic dalam keadaan bahaya.

Perancang Titanic, Alexander Carlisle sebenarnya sudah menyebut bahwa Titanic yang akan membawa begitu banyak penumpang seharusnya diimbangi dengan banyaknya sekoci penyelamat. Carlisle menyebut, setidaknya Titanic harus membawa minimal 60 sekoci penyelamat.

Namun apa? Titanic hanya memiliki 20 buah sekoci saja. Alasan pengurangan jumlah sekoci penyelamat pun benar-benar bikin hati teriris. Disebutkan, jika Titanic membawa 60 buah sekoci maka nilai estetika kapal akan jatuh karena sekoci terlihat berjejalan di badan kapal.

Jadi penyebab karamnya Titanic yang mendapat julukan sombong, yakni ‘Bahkan Tuhan Sekali pun Tak Dapat Menenggelamkannya’ bukanlah karena faktor alam, melainkan karena faktor keangkuhan manusia yang terlalu menganggap remeh fakta penting di hadapan mereka.