Blak-Blakan! Yenny Wahid Ungkap Sosok Ma’ruf Amin di Mata NU


SURATKABAR.ID – Putri Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Yenny Wahid blak-blakan soal sosok Ma’ruf Amin. Terlebih, belakangan Ma’ruf tengah disoroti karena diduga mengancam Jokowi untuk memilih kader NU sebagai cawapres.

Sebagai cicit dari KH Hasyim Asyari yang dikenal sebagai pendiri NU, Yenny mengungkapkan pandangannya mengenai sosok Ma’ruf. Yenny mengemukakannya ketika menjadi bintang tamu di Mata Najwa, Rabu (15/8/2018) malam.

Dilansir tribunnews.com, Kamis (16/8/2018), awalnya Najwa Shihab selaku pemandu acara menanyakan soal arah dukungan Yenny, apakah pada Joko Widodo (Jokowi) atau tidak.

Mendapat pertanyaan to the point dari Najwa, Yenny awalnya menanggapi dengan tertawa. Setelah itu, ia memberikan jawaban bijak dengan alasan tersendiri.

“Kalau orang NU itu ada mekanisme dalam memberikan keputusan, ada namanya dlil aqli dan dalil naqli. Kalau secara rasional, kita berpikir, kita lihat semua calon yang ada kalau kami tidak melihat orang perorang, tapi nilai yang diusung serta gagasan dan rekam jejak beliau untuk menata indonesia ke depan. Jadi kita mencoba melepaskan diri dari emosi, kita melihat secara jernih melihat rekam-rekam jejak,” tutur Yenny.

Baca juga: Heboh Penyataan Mahfud MD Tentang KH Ma’ruf Amin, Kapitra Keluarkan Komentar Nyelekit

Ia juga menegaskan bahwa sebelum mengambil keputusan tentu harus berserah diri pada Yang Maha Esa.

“Kedua, tentu harus meminta petunjuk dari yang Di Atas (Allah SWT). Jadi itu akan menjadi keputusan akan berlabuh ke mana suara dari barisan kader Gus Dur,” imbuhnya.

Setelah itu, Najwa pun menanyakan soal sosok Ma’ruf Amin yang dipilih sebagai cawapres Jokowi.

“Kiyai NU, ulama besar, ahli fiqih, punya kemampuan orator yang baik, beliau juga mengabdi lama di NU, jadi kami hormat,” jawab Yenny lagi.

Namun, ketika Najwa menanyakan mengenai rekam jejak Ma’ruf, Yenny mengaku NU punya pandangan yang sedikit berbeda. Terutama, ketika Ma’ruf merilis fatwa sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).

“Memang ada beberapa fatwa yang bertentangan dengan nilai-nilai yang selama ini kami perjuangkan,” ungkapnya.

Meski begitu, menurut Yenny pertentangan ini merupakan hal yang wajar. “Namun kami menyadari ketika Maruf Amin bukan berada dalam ruang kosong beliau menjadi pemimpin sebuah organisasi bernama MUI, dimana ada banyak sekali kepentingan organisasi-organisasi islam lainnya,” lanjutnya.

Oleh karena itu, hingga saat ini NU masih mencoba mengkritisi sejumlah fatwa yang dianggap kurang tepat.

“Fatwa-fatwa hal-hal yang bertentangan mengenai kebhinnekaaan, hal-hal yang bertentangan dengan toleransi, kita tetap kritisi sampai sekarang, Kita tetap berjuang agar itu tidak menjadi narasi publik di dalam ruang publik,” paparnya.

[wpforms id=”105264″]