Takut Ganggu Kenyamanan, Batik Air Turunkan Bayi Penderita Tumor Mata. Faktanya Bikin Geram


SURATKABAR.ID – Warganet baru-baru ini dihebohkan dengan berita penumpang pesawat Batik Air yang diturunkan hanya karena takut mengganggu kenyamanan penumpang yang lain. Parahnya lagi penumpang tersebut adalah bayi penderita tumor mata.

Murniati Sumila Dewi harus mengalami insiden tak menyenangkan karena membawa anak (PA) yang menderita sakit tumor pada mata menaiki Bati Air dengan rute Soekarno Hatta-Kualanamu pada Jumat (10/8), seperti yang diwartakan Tribunnews.com, Sabtu (11/8/2018).

“Saya tahu anak saya sakit, anak saya bau, apa tidak bisa anak saya ini pulang ke Medan? Kami sudah ada di pesawat, tetapi kami harus diturunkan lagi,” tutur Dewi ketika ditemui di rumah singgah di kawasan Senen, Jakarta Pusat, Jumat malam.

Ia kemudian mengisahkan, dirinya bersama sang buah hati dan Yuni, seorang relawan dari tempat usaha ‘Pempek Funny’-lah yang membiayai pengobatan PA. Yuni pula yang memesan penerbangan menuju Sumatera Utara dengan maskapai Batik Air pada Jumat, pukul 06.05.

Tepat pukul 03.00 dini hari, ketiganya berangkat menuju bandara. Saat check in, sama sekali tidak ada kejanggalan. Namun begitu masuk ke pesawat, salah satu pramugari menanyakan kondisi PA. Kembali Yuni membantu menjelaskan bagaimana kondisi PA.

Baca Juga: Kejam! Didorong Temannya dari Atas Kembatan, Remaja 16 Tahun Harus Alami Hal Menyeramkan

Sekitar 4 pramugari berulangkali bertanya hal yang sama. Hingga salah seorang petugas Batik Air meminta mereka bertiga untuk turun dan menemui pihak karantina. Tindakan ini terpaksa diambil untuk memastikan kondisi PA layak terbang atau tidak.

Dewi mengungkapkan bahwa buah hatinya layak terbang usai menjalani pemeriksaan. Ia bahkan sudah memegang surat rekomendasi dokter yang menjelaskan kondisi kesehatan PA. Namun pihak maskapai menolak memberikan izin terbang kepada mereka.

Anehnya, ketika Dewi menuntut surat keterangan PA ditolak terbang, petugas menolak. Selain itu, surat rekomendasi yang dikeluarkan pihak karantina juga diambil pihak maskapai. Meski uang tiket dipotong biaya travel dikembalikan manajemen Batik Air, namun tetap tak menyembuhkan sakit hati Dewi.

“Di situ saya enggak bisa ngomong apa-apa lagi. Kami kecewa, harusnya tinggal ngeng (berangkat). Kami pilih keberangkatan pagi karena supaya enggak terlalu bau. Waktu itu penumpangnya juga tidak terlalu banyak,” jelas Dewi.

Yang menyesakkan adalah, Dewi sempat mencuri dengar salah seorang petugas mengomeli petugas lainnya karena sudah membiarkan PA masuk ke dalam pesawat. “Kita lihat ada petugas, kayaknya bosnya, marah-marah,” tambah Dewi yang terpaksa kembali ke rumah singgah di Jakarta Pusat bersama PA dan Yuni.

Batik Air Beri Penjelasan

Corporate Communication Strategic of Batik Air, Danang Mandala Prihantoro angkat bicara menanggapi hal tersebut. Ia menegaskan bahwa pihaknya sudah menjalankan tindakan sesuai prosedur standar operasional yang berlaku.

Ia mengungkapkan bahwa petugasnya sudah terlebih dahulu menanyakan kondisi PA dan meminta ketiga penumpang tersebut turun untuk melapor ke bagian customer service. PA juga dinyatakan sudah diperiksa di karantina.

Danang membenarkan bahwa Dewi memberikan surat keterangan kelaikan terbang dan pihaknya juga sudah memeriksa surat tersebut. Meski demikian, maskapai tetap tak dapat menurunkan izin kepada PA untuk ikut dalam penerbangan tersebut.

“Batik Air menjelaskan, berdasarkan pertimbangan faktor kenyamanan penerbangan, maka tidak bisa memberangkatkan kembali oada penerbangan berikutnya,” ungkap Danang menjelaskan pengalaman pahit yang dialami Dewi dan PA.