Hati-hati! Cek Email Bisnis Sepulang Kerja Berdampak Buruk Bagi Kesehatan


SURATKABAR.ID – Berdasarkan penelitian yang dilakukan Universitas Virginia Tech, ternyata mengecek e-mail yang berhubungan dengan pekerjaan bisa membahayakan kesehatan. Terbukti, karyawan yang biasa melakukan hal ini memiliki tingkat kecemasan yang berbahaya bagi kesehatan mereka. Mereka yang bekerja di malam hari atau akhir pekan juga cenderung mengeluhkan kesehatannya.

Melansir laporan Republika.co.id, Sabtu (11/08/2018), studi tersebut menunjukkan bahwa “batasan yang fleksibel” antara urusan pribadi dan pekerjaan malah meningkatkan stress. Hal itu membuat seseorang jadi tak sadar dengan suasana sosial yang ada.

“Tuntutan kerja dan kehidupan non-kerja yang bersaing menghadirkan dilema bagi karyawan, yang memicu perasaan cemas dan membahayakan pekerjaan serta kehidupan pribadi,” ujar rekan penulis William Becker, profesor manajemen di Pamplin College of Business, sebagaimana dikutip dari Daily Mail.

Berdampak Buruk Bagi Kesehatan

Temuan ini menambah semakin banyaknya bukti bahwa “batasan kerja fleksibel” sering berubah menjadi “kerja tanpa batas”. Hal itu berkonsekuensi pada atasan menganggap staf tak akan pernah istirahat.

Baca juga: Tidur Lebih dari 8 Jam Bisa Picu Kematian Dini, Riset Ini Ungkap Penyebabnya

Kecemasan itu muncul dari jutaan karyawan yang membaca e-mail sebelum mereka pergi tidur dan pertama kali saat mereka bangun tidur. Studi Becker menemukan hal itu berdampak menimbulkan ketegangan dan kecemasan, bagi mereka dan pasangan mereka, atau anak-anak mereka.

Hasil itu adalah makalah pertama yang mengidentifikasi fenomena yang berimplikasi bagi pekerja kantor di seluruh dunia.

Riset sebelumnya telah menunjukkan tekanan dari tuntutan pekerjaan yang meningkat menyebabkan ketegangan dan konflik dalam hubungan keluarga.

Hal itu terjadi saat karyawan tak dapat memenuhi peran non-kerja di rumah.

“Seperti ketika seseorang membawa pekerjaan ke rumah untuk menyelesaikannya,” ujar Dr Becker.

Becker menambahkan, dampak berbahaya dari budaya organisasi ‘yang harus selalu siap sedia’ sering tak diketahui atau disamarkan sebagai manfaat. Hal itu juga sering dianggap sebagai peningkatan kenyamanan atau otonomi yang lebih tinggi dan kontrol atas batas-batas kehidupan kerja.

“Penelitian kami mengekspos realitas, (bahwa) “batasan kerja fleksibel” sering berubah menjadi “kerja tanpa batas,” mengorbankan kesehatan, dan kesejahteraan karyawan dan keluarga mereka.”

Kurangi Memantau Gadget

Dia menuturkan, kebijakan yang mengurangi pantauan komunikasi elektronik di luar pekerjaan akan ideal. Saat hal itu bukan pilihan, solusinya mungkin adalah dengan menetapkan batas-batas komunikasi elektronik yang dapat diterima selama di luar jam kerja.

Penelitian sebelumnya menemukan bahwa mengecek e-mail kerja di rumah atau menerima telepon dari bos saat akhir pekan dapat merusak kesehatan. Penelitian lain terhadap 57 ribu orang menemukan bahwa lebih dari separuh orang bekerja di luar jam normal mereka.

Para periset ini menemukan bahwa mereka yang bekerja di malam hari dan akhir pekan lebih cenderung mengeluhkan insomnia, sakit kepala, kelelahan, kecemasan dan masalah perut.

Masalah kardiovaskular dan otot juga berhubungan dengan bekerja di luar jam normal. Dengan demikian, para ilmuwan menyerukan aturan yang jauh lebih ketat untuk menghentikan pekerjaan menyerang kehidupan rumah tangga orang.