Mengapa Orang India Menggerakkan Kepala Saat Berbicara? Intip Alasan Uniknya     


SURATKABAR.ID – Industri film Bollywood kini semakin digandrungi oleh banyak orang dari berbagai belahan dunia. Kultur dan pesona India yang eksotis dengan ciri khas nyanyiannya tak pernah mengecewakan para penggemarnya. Selain itu, plot yang dibuat kerap dengan suksesnya meninggalkan kesan mendalam bagi para penonton yang menyimak film-film mereka. Salah satu keunikan yang dapat dijumpai adalah cara orang India yang gaya bicaranya sering sambil menggerakkan kepala mereka.

Keunikan ini akan disuguhi kepada penonton yang tentu sudah tak asing lagi dengan nuansa film Bollywood. Biasanya, setiap pemeran film India tersebut selalu menggerakkan kepala saat mereka berbicara kepada orang lain. Sehingga tak heran jika hal ini juga menjadi salah satu ciri khas dari Bangsa India.

Setiap orang di belahan bumi ini selalu memiliki kebiasaan-kebiasaan tersendiri. Ada yang unik, ada yang lucu. Sedangkan sebagian lainnya malah mengganggap kebiasaan tersebut sebagai sesuatu yang tak wajar. Begitu juga dengan India, kebiasaan yang sudah melekat kepada kebanyakan mereka adalah menggeleng-gelekan kepada lawan bicaranya saat sedang berdialog. Pernahkah Anda berpikir mengapa mereka melakukan hal itu?

Melansir laman TribunNews.com, Selasa (07/08/2018), Yoechua Blog mengulas alasan mengapa mereka melakukan hal tersebut.

Gesture Khas

Kebiasaan orang India menggeleng-gelengkan kepada saat berbicara merupakan sebuah gesture yang khas saat mereka berinteraksi. Karena telah menjadi kebiasaan sejak lama, maka hal ini tak bisa serta merta dihilangkan begitu saja.

Baca juga: 5 Phobia Teraneh Sedunia, Salah Satunya Malah Takut Surga

Bahkan karena kebiasaan ini jugalah maka film-film India tak lepas dari ciri khas bahasa tubuh tersebut. Bagi orang India, gerakan kepala juga dapat menunjukkan ekpresi saat sedang senang, sedih, suka ataupun sedang marah disertai mimic wajah mereka.

Tak hanya sebatas itu saja. Keunikan lainnya orang India adalah saat mereka sedang berpapasan dengan seseorang yang dikenalnya. Jika orang Indonesia biasanya mengatakan apa kabar, lain halnya dengan orang India. Hanya dengan menggoyangkan kepala dan tanpa berkata-kata saja, orang lain yang berpapasan dengan mereka sudah dapat mengerti komunikasi tersebut.

Orang yang melihatnya akan menjawab dengan sendirinya seperti “baik” sambil menggoyangkan kepala seraya tersenyum.

Tentu saja kebiasaan ini tak umum jika diterapkan oleh orang Indonesia mengingat hal ini tak lazim dilakukan di negeri kita. Sebagaimana sebuah peribahasa berbunyi “lain ladang lain belalang, lain lubuk lain ikannya,” yang bermakna “satu aturan di suatu daerah bisa berbeda dengan aturan di daerah lain. Setiap negeri atau bangsa berlainan adat kebiasaannya.”

Demikian juga dengan budaya dan kebiasaan India dan Indonesia yang memiliki keunikannya masing-masing. Ada perbedaan besar dalam cara kita mengucapkan salam kepada sesama di awal perjumpaan mengingat kita dibesarkan dengan budaya dan juga kebiasaan yang berbeda.

Budaya Unik Khas India

Lebih lanjut mengenai Indianegara di benua Asia yang sarat budaya dan warna dalam tradisinya, yuk simak beberapa budaya khas yang unik dan tak ditemukan di negara lain. Banyak pihak, khususnya dari negara Barat, melihat kultur budaya ini menjadi suatu daya tarik yang mengundang mereka untuk menengok Negeri Bollywood tersebut. Apa saja? Simak liputannya seperti dikutip dari reportase OkeZone.com.

1. Namaste (Budaya Salam di India)

Banyak kepala negara atau beberapa pihak menggunakan budaya salam Namaste ini, namun setiap orang yang melihatnya pasti tahu bahwa ini adalah cara salam di Negeri Bollywood.

Namaste atau namaskar adalah satu dari lima bentuk tradisional cara salam yang  disebutkan dalam kitab kuno di Hindu yang bernama Vedas.

Secara harfiah, Namaste berarti ‘Saya menunduk kepada Anda’ lalu mengucap salam kepada satu sama lain dengan mengatakan ‘semoga pikiran kita dapat menyatu (bertemu)’ yang diindikasikan dengan menangkupkan tangan di dekat dada.

Kata dasar ‘Namaha’ dari Namaste bisa diartikan ‘bukan Saya’ yang dilihat sebagai pengurangan ego di diri masing-masing yang sedang bertemu.

Dilaporkan, Presiden Amerika Serikat Barack Obama pernah menggunakan salam namaste di beberapa pertemuan, bahkan Sekjen PBB Ban Ki-moon menyapa orang-orang yang merayakan internasional Yoga di Time’s Square New York, AS, dengan menggunakan salam khas India ini.

2. Seni dari Kuil India

Negara India sangat erat kaitannya dengan kuil-kuil berbentuk khas yang dibangun berdasarkan budaya Hindu. Namun, ternyata kuil ini dibangun tak sembarangan karena harus mengikuti garis gelombang magnet bumi. Hal ini dipercaya dapat membantu meningkatkan energi positif yang berada di dalam kuil tersebut.

Pelat tembaga yang dinamakan Garbhagriha atau Moolasthan ditanam di bawah patung dewa yang berada dalam kuil. Dikabarkan, pelat tembaga ini berfungsi untuk menyebarkan energi yang ada di sekitar kuil.

Warga negara India percaya jika kerap pergi ke kuil maka seseorang akan memiliki pikiran positif serta mendapat banyak energi positif. Dengan demikian, individu itu dipercaya akan memiliki kesehatan yang lebih baik.

Seperti mendatangi Masjid, jika ingin masuk ke kuil di India, setiap orang harus membuka alas kaki karena agar tidak mengotori kuil yang dianggap suci.

3. Atithi Devo Bhavah

Di India, ada istilah ‘Atithi Devo Bhava’ yang berarti tamu sama seperti dewa atau disamakan seperti dewa. Istilah ini diambil dari bahasa Sansekerta yang berasal dari tulisan di Hindu dalam tata cara menjamu tamu.

Dalam praktiknya, ini terdapat lima tahap dalam menyambut tamu berdasarkan ‘Atithi Devo Bhava’ yakni:

  • Dhupa, jika orang India menerima tamu maka tuan rumah harus mengondisikan ruangan penerima tamu harum. Karena warga India percaya aroma yang harum dapat menyebabkan tamu yang datang memiliki humor yang bagus,
  • Dipa, jika tamu datang maka lampu ruangan yang di dekat tuan rumah dan tamu harus menyala, agar bahasa tubuh dan ekspresi lebih terlihat jelas. Karena dengan penerangan, maka tamu dan  tuan rumah dianggap tidak memiliki gapatau batasan,
  • Naivedya, buah-buahan dan permen yang terbuat dari susu dijadikan sebagai jamuan untuk menyambut tamu,
  • Akshata, ini adalah tradisi penerimaan tamu. Tilakyang biasanya terbuat dari pasta merah terang dan satu butir beras ditaruh di kening dari tamu. Penyambutan ini dipercaya sebagai penyambutan paling terhormat di keluarga India yang beraliran Hindu,
  • Pushpa, bunga diberikan kepada tamu oleh tuan rumah sebagai bentuk iktikad baik. Bunga ini menjadi simbolisasi ingatan yang indah dari tamu saat ia tinggal selama beberapa hari di rumah tuan rumah.
4. Negara Festival

India selalu mengadakan beragam festival yang cukup banyak setiap tahunnya. Selain festival dari Hindu, India juga merayakan perayaan dari banyak agama lain yang berada di negara tersebut.

Muslim di India dihormati saat mereka mengadakan Idul Fitri. Kristen juga dihormati saat merayakan Natal dan Paskah. Namun, ada juga perayaan dari agama Sikh yakni Baisakhi (perayaan hasil panen). Selain itu, ada juga ulang tahun dari Sang Guru Sikh yang selalu dirayakan.

Hindu di India memiliki perayaan Diwali, Holi, Makar Sakranti. Agama Jains memiliki Mahavir Jayanthi, agama Buddha di sana juga merayakan kelahiran Sang Buddha di perayaan yang dinamakan Buddha Poornima dan masih banyak lagi.

Jaina sendiri bermakna ‘penaklukan’. Agama Jaina bermakna agama penaklukan. Dimaksudkan penaklukan kodrat-kodrat syahwati di dalam tata hidup manusiawi. Agama Jaina itu dibangun oleh Nataputta Vardhamana, hidup pada 559-527 sM yang beroleh panggilan Mahavira yang berarti pahlawan besar.

Karena India cukup terkenal di mata dunia sering mengadakan banyak perayaan, akhirnya banyak yang melihat Negeri Bollywood ini sebagai negara festival.

5. Pakaian Tradisional India

Mungkin di Indonesia pakaian ini sudah tak asing lagi dengan hal ini. Pakaian dari para perempuan India dinamakan ‘sari’. Kain sari sendiri sebenarnya adalah kain panjang yang tidak perlu dijahit dan selalu mudah dibuat serta nyaman untuk digunakan.

Namun, satu hal yang pasti, sari harus terbuat sesuai dengan etika beragama. Tradisi Sari ini berasal dari tradisi Hindu dan mulai menyebar di beberapa agama lain di India akibat akulturasi.

Prinsip dari sari juga diterapkan dengan ‘Kurta-Pyjama’, dan pakaian seremonial dari ‘Sherwani’ yang digunakan oleh pria di India dari berbagai agama. Terdapat beberapa kunci dari pakaian tradisional dan budaya unik di masyarakat India. Kunci ini harus sesuai dengan kesopanan, beradab dan saling menghormati. Namaste.