Cerita Tuan Guru Bajang Saat Gempa Dahsyat 7 SR Mengguncang Lombok

    SURATKABAR.IDGubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) Muhammad Zainul Majdi atau yang kerap disapa Tuan Guru Bajang (TGB) sedang berada di kota Mataram saat gempa berkekuatan 7 skala richter melanda Lombok.

    Gempa dengan kekuatan dahsyat yang berpotensi tsunami tersebut terjadi secara tiba-tiba pada pukul 18.00 WITA.

    “Terasa keras sekali guncangannya, dan dalam waktu cukup lama,” kata TGB dalam perbincangan dengan tvOne, dilansir Viva, Senin (6/8/2018) pagi.

    TGB yang pagi ini berada di RSUD Tanjung, Lombok Utara, menuturkan, saking kerasnya, banyak warga yang tidak sadar telah terjadi gempa.

    “Sampai tiba-tiba menimpa (reruntuhan), karena tidak ada gempa kecil sebelumnya. Langsung keras,” ujar dia.

    Baca juga: Terus Bertambah, Kini Ada 82 Korban Tewas dan Ribuan Orang Mengungsi Akibat Gempa Lombok

    Usai gempa, ia langsung melakukan koordinasi dan menuju Lombok Utara, lokasi yang paling parah terdampak gempa.

    “Saya tiba jam 1 malam, lewat jalan utama yang masih tersambung dengan Mataram, tapi harus hati-hati karena banyak batu besar yang menghalangi jalan,” katanya.

    Ia pun menuju RSUD Tanjung, Lombok Utara dan menemui sarana rumah sakit yang hancur sehingga pasien dievakuasi ke tenda darurat yang dibangun TNI.

    Gempa besar ini terjadi sehari setelah TGB memperpanjang tanggap darurat paska gempa pada 29 Juli 2018 lalu. Tanggap darurat berlaku hingga tujuh hari ke depan.

    “Karena paska gempa sebelumnya kondisi belum pulih, diperpanjang lagi tiga hari, tapi baru sehari sudah ada gempa lagi,” katanya.

    Saat ini upaya penyelamatan warga dengan melakukan penyisiran. Hingga kini masih banyak warga yang berada di perbukitan karena peringatan tsunami paska gempa.

    “Saya yakin siang ini akan kembali kecuali rumahnya hancur,” kata dia.

    Untuk warga yang tertimbun dievakuasi lewat cara manual maupun penggunaan alat. Sampai saat ini, katanya, tidak ada kendala.

    Sementara untuk turis asing yang sedang berada di Lombok, menurutnya, belum ada laporan spesifik ada yang menjadi korban. Dari pantauan di pintu ke luar Lombok, kata dia belum terjadi lonjakan.

    Apakah mereka akan dievakuasi, kata TGB, tergantung keinginan wisatawan asing itu sendiri. Jika ingin ke luar Lombok tentu akan difasilitasi.