Kisah Mohammad Sarengat, Manusia Tercepat Indonesia yang Buat Bung Karno Terkesima


SURATKABAR.IDDalam tinta sejarah olahraga Indonesia, nama Mohammad Sarengat akan tetap terpatri dan tak akan pernah terlupakan. Sprinter kelahiran 28 Oktober 1939 di Kedunguter, Banyumas, Jawa Tengah, ini tercatat merupakan manusia tercepat. Ia juga meraih medali emas pertama bagi Indonesia di ajang Asian Games dan mempunyai tempatnya tersendiri di hati Bung Karno—Presiden Pertama RI.

Melansir laporan SindoNews.com, Minggu (05/08/2018), Mohammad Sarengat meraih medali emas pada nomor bergengsi lari 100 meter pada Asian Games 1962 yang digelar Stadion Senayan, Jakarta. Sarengat yang saat itu berusia 21 tahun mencatatkan waktu waktu 10,4 detik, sekaligus memecahkan rekor lama milik sprinter Pakistan, Abdul Khalik (10,6 detik).

“Pada malam hari sebelum final (nomor lari 100 meter putra Asian Games), 22 Agustus 1962, saya berdoa kepada Tuhan, mohon pada Allah SWT. Kalau aku memang Engkau ridhai, berilah aku kemenangan. Bila tidak, biarlah apa adanya. Ternyata doa saya dikabulkan,” kata Mohammad Sarengat saat bincang-bincang dengan Peter Gontha dalam acara Impact yang unggah ulang di akun YouTube pada 3 Oktober 2007.

Bung Karno Terkesima

Prestasi yang ditorehkan Mohammad Sarengat membuat Presiden Soekarno terkesima. Sampai-sampai presiden pertama Republik Indonesia ini membuat gurauan bahwa Stadion Gelora Senayan yang megah ini dibangun untuk jadi saksi kehebatan Mohammad Sarengat.

Baca juga: Menpora Soal Polemik Bendera Indonesia Terbalik: Tidak Ada Asap Tanpa Api

Prestasi ini membuat nama Mohammad Sarengat tercatat sebagai atlet pertama dari Indonesia yang meraih medali emas di ajang Asian Games. Sebab, dalam tiga kali keikutsertaan Indonesia pada ajang Asian Games 1951, 1954, dan 1958 -sebelum Asian Games 1962- pretasi tertinggi yang dicapai atlet Indonesia adalah meraih medali Perunggu.

“Setelah sampai finish saya lihat di tribun semua orang sorak-sorai, tepuk tangan, dan saya masuk ke lapangan, terus sujud. Bersujud kepada Allah SWT, berterima kasih atas ridha-Nya. Meski telah menang, kita tak bisa besar kepala, karena sebagai manusia saya tetap Sarengat dengan sikap-sikap yang nakal dan sering bergurau,” ujar Sarengat mengenang saat-saat bersejarah itu.

Catatan waktu 10,4 detik yang dibukukan Mohammad Sarengat juga menjadikannya sebagai manusia tercepat di Asia. Hebatnya lagi, rekor tersebut bertahan selama 22 tahun. Rekor tersebut dipecahkan sprinter Indonesia lainnya, Purnomo M Yudhi dengan catatan waktu 10,3 detik pada Olimpiade 1984 di Los Angeles.

2 Medali Emas dan 1 Perunggu

Yang menakjubkan, Mohammad Sarengat pada ajang Asian Games 1962 mempersembahkan dua medali emas dan satu medali perunggu.  Mohammad Sarengat mempersembahkan medali emas kedua pada nomor lari gawang 110 meter. Waktu yang dibukukan 14.3 detik merupakan rekor  Asia.

Sedangkan pada nomor lari 200 meter, Mohammad Sarengat yang saat itu berusia 21 tahun meraih medali Perunggu.

“Saat itu saya tulus tak ada pikiran apa-apa selain berbuat untuk bangsa dan Negara. Tak ada pikiran kalau menang dapat hadiah, bahkan uang saku pun saat itu tak dapat,” kenangnya.

Prestasi Mohammad Sarengat ini juga diperoleh atas kecintaannya pada olahraga dan kegigihannya berlatih, bahkan sampai mengorbankan pendidikannya. Ketika ikut pelatnas untuk Olimpiade 1960, membuatnya tidak lulus SMA pada 1959 dan baru lulus SMA pada 1961, setelah tiga kali ujian.

“Pada 1959 sempat nggak lulus SMA, padahal sudah diterima di AMN (Akademi Militer Nasional),” imbuhnya.

Berawal dari Frustrasi

Usai Lulus SMA, Mohammad Sarengat masuk dinas TNI Angkatan Darat (AD), karena ketiadaan biaya untuk melanjutkan pendidikan ke universitas. Beruntung, dia mendapat beasiswa dari TNI AD sehingga bisa melanjutkan pendidikan di Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Indonesia (UI).

Namun lagi-lagi, pendidikan beliau tersendat karena kesibukan sebagai atlet. Pada tahun pertamanya di UI tidak naik tingkat karena ikut Asian Games IV tahun 1962 di Jakarta. Pada akhirnya beliau berhasil lulus dan meraih gelar dokter dari FK UI pada tahun 1971.

Uniknya, pilihan Mohammad Sarengat menekuni cabang atletik, sebetulnya berawal dari rasa frustasi. Anak pertama dari 10 bersaudara ini awalnya menekuni olahraga tenis, mengikuti ayahnya, Prawirosuprapto. Namun, tenis yang ditekuni sejak SD-SMP, tak membuahkan hasil.

Mohammad Sarengat pun berpindah ke sepak bola, saat SMA mengikuti pamannya, Mursanyoto, Kiper Timnas Indonesia era 1950-an. Bermain sebagai kiper, Mohammad Sarengat akhirnya direkrut Klub Indonesia Muda Surabaya.

Awalnya bangga, namun sepakbola kembali membuatnya frustasi, karena lebih sering duduk di bangku cadangan. Tak ingin frustasi kembali berlarut, Mohammad Sarengat kembali pindah haluan mengkuti olahraga lari, hingga akhirnya memenangi kejuaraan nasional di Surabaya. Sarengat pun dipilih mengikuti pelatnas Olimpiade 1960. Kemampuannya terasah dan berbuah prestasi fenomenal di Asian Games 1962.

Setelah meraih medali Emas di ajang Asian Games, Mohammad Sarengat juga mempersembahkan medali Perak pada nomor lari gawang 110 meter saat Ganefo Games 1963 di Jakarta. Mohammad Sarengat kalah cepat dari pelari asal China Gao Jiqiao.

Setelah mundur sebagai atlet, Mohammad Sarengat pernah menjadi dokter pribadi Wakil Presiden Sultan Hamengkubuwono IX dan Adam Malik. Dia juga pernah menjabat sebagai Sekjen KONI, Direktur Operasi Gelora Bung Karno, dan Kepala Bidang Pembinaan Pengurus Besar Persatuan Atletik Seluruh Indonesia (PB PASI).

Pada 13 Oktober 2014, Sarengat meninggal setelah menjalani perawatan di Rumah Sakit Pondok Indah, Jakarta Selatan, selama seminggu karena suhu badannya tinggi dan sulit bernapas. Sebagai penghormatan atas jasa dan prestasi yang dicapai, nama Mohammad Sarengat diabadikan sebagai nama stadion sepak bola di Kabupaten Batang di Jawa Tengah.