Diminta Tak Sebarkan Hoax 100 Juta Warga Indonesia Miskin, Ternyata Ini Hitungan yang Dipakai SBY


SURATKABAR.ID – Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) selaku Ketua Umum Partai Demokrat memberikan penjelasan mengenai data kemiskinan yang sempat disampaikannya. Diketahui, data yang disampaikan oleh SBY kemudian menjadi perbincangan di linimasa, dan mendapat sejumlah tanggapan dari para tokoh. Bahkan ada yang meminta SBY untuk tidak main menyebarkan hoax.

Salah satunya diungkapkan oleh Politisi PSI Guntur Romli dan Ketua Progres 98 Faizal Assegaf sebagaimana dikutip dari laporan Wow.TribunNews.com, Kamis (02/08/2018) sebagai berikut:

“SBY Sebut Ada 100 Juta Orang Miskin, Istana Minta Lihat Data Tanpa, Pak @SBYudhoyono jangan main hoax, yuk cek data & bandingkan angka kemiskinan di periode awal SBY & Jokowi,” tweet Guntur Romli melalui akun Twitternya.

“SBY klaim dirinya dgn Prabowo selama 2 jam berbicara scr jernih & jujur utk memutuskn berkoalisi.

Kpd pers, SBY mlempar isu panas bhw angka rakyat tdk mampu & miskin kini mencapai 100 juta.

Tolong @SBYudhoyono buktikn data valid agar bpk tdk dituding “Dalang Politik Hoax”

*FA*,” demikian kicau Ketua Progres 98 Faizal Assegaf.

Baca juga: Hal-hal yang Disepakati dalam Pertemuan SBY-Prabowo

Melalui laman Twitternya yang diunggah pada Rabu (01/08/2018), SBY mengaku banyak yang salah paham dengan apa yang ia sampaikan.

Berikut pernyataan SBY:

“Teman-teman, saya perlu berikan klarifikasi menyangkut pernyataan saya ttg perlunya kita memperhatikan “the bottom 40” *SBY*

Banyak yg salah mengerti arti “the bottom 40%”, kemudian langsung berikan sanggahan ~ “Tak benar jumlah penduduk miskin 100 juta org” *SBY*

Ada pejabat negara yg mengatakan menurut BPS yg miskin hanya sekitar 26 juta.

Tentu saya SANGAT MENGERTI angka itu *SBY*

Istilah “the bottom 40%” digunakan oleh World Bank Group ~ yaitu 40% penduduk “golongan bawah” di masing-masing negara *SBY*

Di negara berkembang yg “income perkapitanya” belum tinggi, mereka termasuk kaum sangat miskin, kaum miskin & “di atas miskin” (near poor) *SBY*

Dunia tetapkan sasaran kembar (twin objective) dlm pembangunan berkelanjutan ~ “hilangkan kemiskinan ekstrim” & “capai kemakmuran bersama” *SBY*

Ketika saya jadi Ketua HLP PBB (bersama PM Inggris & Presiden Liberia) susun bahan “SDGs”, “the bottom 40%” jadi perhatian utama *SBY*

Kelompok inilah yg mesti dibebaskan dari kemiskinan & ditingkatkan taraf hidupnya, dgn meningkatkan pendapatan (income) mereka *SBY*

Kelompok ini sangat rawan & mudah terdampak, jika ada kemerosotan ekonomi, terutama jika ada kenaikan harga, termasuk sembako *SBY*

Dgn melemahnya ekonomi, “the bottom 40%” alami persoalan. Ini saya ketahui dari hasil survey & dialog saya dgn ribuan rakyat di puluhan kab/kota *SBY*

Inilah yg harus jadi perhatian pemerintah, baik sekarang maupun yg akan datang. Pendapat saya, justru inilah yg harus jadi prioritas *SBY*

Saya juga percaya bahwa angka kemiskinan sekarang sekitar 26 juta org, atau 9,82%. Saya juga tahu tak mudah turunkan angka kemiskinan *SBY*

Pemerintahan SBY-JK & SBY-Boediono (10 th) berhasil turunkan kemiskinan sebesar 6%. Ini kami capai (a.l) dgn “program pro-rakyat” yg masif *SBY*

Pemerintah sekarang dlm waktu 3 th berhasil turunkan kemiskinan sebesar 1%. Mudah-mudahan hingga akhir 2019 bisa mencapai 3% *SBY*

Saya dengar pemerintah akan tunda sebagian proyek infrastruktur, guna selamatkan ekonomi kita. Hal ini sudah lama saya sarankan *SBY

Keputusan & kebijakan pemerintah tsb (kalau benar) TEPAT. Saya ikut mendukung. Karena berarti negara UTAMAKAN RAKYAT *SBY*

Biasanya dlm musim pemilu, kalau berbeda posisi langsung DIHAJAR. Saya bukan tipe manusia seperti itu. Kalau benar harus saya dukung *SBY*,” tulis SBY.

Angka Kemiskinan Terendah dalam Sejarah Indonesia

Diberitakan dalam reportase Kompas.com, Wakil Ketua Komisi XI DPR dari Fraksi Partai Demokrat Marwan Cik Asan memastikan, angka yang disebut SBY pada saat berkunjung di kediaman Prabowo itu sudah berdasarkan perhitungan yang matang.

Menurut penjelasan Marwan Cik Asan, SBY menggunakan data Bank Dunia dalam menentukan batas kemiskinan. Menurut Bank Dunia, seseorang dapat dikategorikan miskin jika pendapatannya berada di bawah 2 dolar per hari. Dengan asumsi kurs 1 dollar sama dengan Rp 13.000, maka diperoleh angka Rp 26.000 per hari atau Rp 780.000 per kapita per bulan.

“Maka, penduduk miskin Indonesia masih sangat tinggi, yaitu diperkirakan mencapai 47 persen atau 120 juta jiwa dari total populasi,” ujar Marwan saat dihubungi, Selasa (31/07/2018).

Menurutnya, SBY tidak menggunakan data Badan Pusat Statistik (BPS) karena standar batas kemiskinan yang terlalu rendah. Angka kemiskinan yang dirilis BPS per Maret 2018 sebesar 25,95 juta jiwa. Angka kemiskinan yang mencapai 9,8 persen dari total penduduk itu merupakan yang terendah dalam sejarah Indonesia.

Namun, Marwan menambahkan, patokanegi/ patokan garis kemiskinan yang ditetapkan adalah Rp 401.220 per kapita per bulan, atau sekitar Rp 13.374 per hari. 

“Artinya, jika masyarakat di Indonesia punya pendapatan di atas dari batas yang ada per Maret 2018, maka tidak tergolong sebagai orang miskin,” ucap Marwan.

Sebelumnya, Menteri Sekretaris Negara Pratikno meminta SBY untuk tidak berasumsi soal jumlah penduduk miskin di Indonesia. Ia meminta SBY merujuk pada data yang dirilis BPS.

Adapun SBY bicara soal jumlah penduduk miskin yang mencapai 100 juta ini saat berkunjung ke kediaman Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto. SBY yang mendukung Prabowo sebagai capres berharap mantan Danjen Kopassus itu bisa mengatasi masalah kemiskinan di Indonesia jika kelak memenangi pemilu.