Viral Permen Diet a la Kim Kardashian, Tak Disangka Ada Kandungan Ini di Bahan Pembuatannya


SURATKABAR.ID – Berbeda dengan produk penahan nafsu makan yang umumnya berupa minuman seperti jamu, teh, atau berbentuk pil. Sebuah brand diet malah meluncurkan produk penahan nafsu makan berbentuk permen lolipop.

Flat Tummy Co., seperti yang dilansir dari laman Detik.com, pada Kamis (2/8/2018), memasarkan permen diet yang disebut ‘lolipop penahan nafsu makan’. Permen bergagang ini diklaim mengandung Satiereal, bahan aktif hasil ekstraksi tumbuhan bunga yang dapat menghasilkan rempah-rempah saffron.

Satiereal sendiri dipercaya dapat membuat perut terasa penuh dan kenyang meski tak banyak makan. Flat Tummy Co. mengklai hal tersebut dalam situs resmi mereka, “Jadi kalau kamu ngemil ini saat lapar, akan menahan nafsu makan selama beberapa jam!

Pasca di-endorse selebriti papan atas Kim Kardashian melalui akun Instagram miliknya, lolipop diet ini sempat viral. Kim mengunggah foto dirinya tengah mengulum lolipop. Ia menambahkan caption yang menyebut daftar keunggulan permen diet yang memiliki berbagai pilihan rasa ini.

You guys… @flattummyco just dropped a new product. They’re Appetite Suppressant Lollipops and they’re literally unreal. They’re giving  the first 500 people on their website 15% OFF so if you want to get your hands on some… you need to do it quick! #suckit,” tulis Kim, seperti dikutip dari Detik.com.

Baca Juga: Dahsyatnya Diet Militer, 10 Kilogram Bisa Turun Hanya 3 Hari! Tertarik Coba?

Namun setelah menuai reaksi negatif dari kalangan netizen lantaran postingannya dinilai dapat menyebabkan munculnya gangguan pola makan, Kim langsung menghapus caption tersebut dan menggantinya dengan emoji lolipop.

Salah satu yang mengkritik unggahan Kim adalah Jameela Jamil,. Aktris asal Inggris yang populer melalui komedi situasi (sitcom) ‘The Good Place’ ini menyebut Kim telah membawa pengaruh buruk kepada seluruh gadis muda.

MUNGKIN jangan konsumsi penahan nafsu makan dan makan yang cukup untuk memberi energi bagi otakmu dan kerja keras dan jadilah sukses. Dan bermainlah dengan anak-anakmu. Dan bersenang-senang dengan temanmu. Dan punya sesuatu untuk diceritakan tentang kehidupanmu di usia senja, ketimbang bilang, ‘Aku punya perut rata’,” tulis Jameela di akun Twitter miliknya.

Permen lolipop kontroversial ini hadir dalam empat varian rasa, anggur, semangka, apel, dan berry. Flat Tummy Co. menyarankan untuk mengonsumsi produk tersebut maksimal dua buah per hari, yakni menjelang siang atau sore untuk menekan hasrat mengemil.

Kandungan Perlen Diet

Meski disebut mengandung bahan aktif yang diklaim dapat menekan nafsu makan, namun sebenarnya lolipop diet Flat Tummy Co. ini tetap saja tinggi gula. Seperti yang dikutip dari Women’s Health Mag, terdapat dua kandungan pertama yang tercantum dalam daftar bahan-bahan pembuatannya.

Kedua kandungan tersebut adalah gula tebu dan gula merah. Dengan demikian, terbukti bahwa dalam permen yang ramai dipromosikan sebagai lolipop diet ini tinggi kandungan gula dibandingkan bahan aktif Satiereal.

Pakar nutrisi Katherine Brooking R. D., mengungkapkan bahwa sejumlah bukti menunjukkan kandungan Satiereal memang dapat mengurangi nafsu makan. Ia merujuk pada hasil penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nutrition Research pada tahun 2010.

Dalam jurnal disebutkan, dengan mengonsumsi Satiereal dapat membantu program diet dan menurunkan berat badan. Penelitian tersebut menunjukkan, wanita dengan berat badan berlebih yang rutin mengonsumsi 176 miligram Satiereal setiap hari, mengalami penurunan berat badan signifikan.

Satu hal yang menjadi perdebatan, Flat Tummy Co. tidak secara pasti menyebutkan dosis Satiereal di dalam produk tersebut. Jadi belum terbukti apakah benar lolipop diet mereka dapat memberikan hasil secara efektif.

Terkait hal tersebut, Beth Warren R. D., sama sekali tidak menyarankan pemakaian produk penahan nafsu makan apapun, baik itu dalam bentuk suplemen, obat, maupun permen seperti yang diviralkan Kim Kardashian tersebut.

“Saya selalu ragu merekomendasikan suplemen sejenis ini karena belum ada bukti yang kredibel untuk mendukung klaim efeknya, efek samping atau interaksi terhadap berbagai kondisi medis dan pengobatan juga belum teridentifikasi,” ujar Beth tegas kepada Women’s Health Mag.