Setelah Indonesia, Kini Australia dan Selandia Baru yang Ribut Soal Bendera


SURATKABAR.ID – Selama beberapa minggu terakhir, topik bendera menjadi viral di media sosial lantaran hangat diperbincangkan. Persoalan berawal saat Muhammad Zohri, yang memenangkan kejuaraan lari 100 meter di Finlandia pada 10 Juli lalu, memakai bendera yang diduga merupakan pemberian seorang warga Polandia. Seperti diketahui, Bendera Indonesia dan Polandia memang memiliki motif yang sangat mirip. Jika Indonesia memiliki urutan warna merah kemudian putih, Polandia sebaliknya, putih kemudian merah.

Melansir laporan Tirto.ID, Kamis (02/08/2018), Kemenpora awalnya membantah. Ia menyatakan bahwa yang dibawa Zohri adalah bendera Indonesia, bukan bendera Polandia yang sengaja dibalik. Namun setelah berhari-hari menjadi perdebatan publik, pihak Polandia melalui Polski Związek Lekkiej Atletyki (Asosiasi Atletik Polandia/PZLA) akhirnya mengakui bahwa tim mereka meminjamkan bendera Polandia agar Zohri bisa merayakan kemenangannya.

Usai kontroversi bendera Zohri reda, giliran unggahan status foto di Instastory Amirul Ashrafiq, pemain timnas Malaysia U-16, yang mengundang kegaduhan. Pasalnya, dalam status bertanggal 28 Juli 2018 itu, Ashrafiq mengunggah foto timnas Malaysia U-16 yang disertai oleh permintaan restu untuk berlaga.

Ia menyematkan emoji bendera Indonesia dengan cara terbalik, layaknya bendera Polandia. Beberapa warganet Indonesia yang marah menilai Amirul sengaja menghina Indonesia. Sebagai catatan, ajang Piala AFF U-16 memang diadakan di Indonesia dan diikuti oleh 11 negara Asia Tenggara.

Setelah ramai menuai protes hingga ancaman pembunuhan, akhirnya permintaan maaf datang dari berbagai pihak, baik Amirul Ashrafiq, pelatih timnas, sampai Menteri Pemuda dan Olahraga Malaysia.

Baca juga: Pemain Timnas Malaysia Diserang Netizen Indonesia Karena Bendera Terbalik, Ini Kata Pelatihnya

Sebenarnya bukan kali ini saja pembalikan bendera Indonesia dilakukan oleh warga Malaysia. Tahun lalu, buklet Sea Games 2017 memuat gambar bendera Indonesia secara terbalik, sehingga mirip bendera Polandia.

Namun rupanya kontroversi ini tak hanya dialami oleh Indonesia saja. Pejabat Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters, menuduh Australia telah menjiplak desain bendera negerinya. Diketahui, keduanya merupakan bekas koloni Britania Raya.

Selandia Baru versus Australia

Dilansir dari The Guardian, pada 25 Juli silam, Pejabat Perdana Menteri Selandia Baru, Winston Peters, melayangkan kritik keras terhadap bendera Australia karena dianggap telah menjiplak bendera nasional Selandia Baru. Bendera Australia dengan Selandia Baru memang sangat mirip. Sama-sama berwarna dominan biru dan motif Union Jack khas bendera Britania Raya, hanya jumlah dan warna bintangnya saja yang berbeda.

“Kami sudah punya bendera ini sejak lama, lalu disalin oleh Australia. Mereka harusnya mengubah bendera dan menghormati fakta bahwa kamilah yang pertama kali memiliki desain ini, yang diputuskan oleh Perdana Menteri dan pewarisnya,” tandas Peters yang juga dikenal sebagai politikus pembuat sensasi.

Seruan Peters disokong hasil jajak pendapat yang diselenggarakan New Zealand Herald. Sebanyak 62 persen responden mendukung permintaan Peters agar Australia mengubah benderanya.

Tapi betulkah Selandia Baru negara yang pertama memakai desain tersebut? Jawabannya adalah ya.

Bendera Selandia Baru telah berkibar sejak 1902, menggantikan bendera Union Jack milik Britania Raya. Meski sudah memiliki desain baru, motif Union Jack tetap disematkan di pojok kanan. Penyematan Union Jack tak hanya dilakukan oleh Australia dan Selandia baru, tapi juga negara-negara bekas koloni Britania Raya di kawasan Oseania, misalnya Tuvalu dan Fiji.

Bendera Australia sendiri yang desainnya mirip dengan Selandia Baru memang baru disahkan belakangan, dan dipakai sejak 1954.

Bukan kali ini saja Selandia Baru mempermasalahkan bendera Australia. Pada 2016, sebuah referendum penggantian bendera Selandia Baru digelar. Namun hasilnya, sebanyak 56,6 persen atau mayoritas warga Selandia Baru merasa masih ingin mempertahankan bendera yang berlaku saat ini. Sedangkan 43,3 persen warga lainnya menginginkan pemerintah mengusulkan desain bendera baru dengan menyematkan gambar daun pakis perak.

Mengutip reportase Newshub, perdebatan tentang bendera Selandia Baru diprediksi bakal langgeng sampai tuntutan para aktivis pro-perubahan bendera terkabul.

Rivalitas Serumpun dan Identitas Bendera

Sebetulnya, protes Selandia Baru terhadap Australia mengenai bendera didahului oleh tindakan pemerintah Australia yang mendeportasi ratusan warga Selandia Baru tanpa proses peradilan. Kejadian ini memicu ketegangan antara kedua negara. Dalam sejarahnya, ada banyak warga Australia yang pindah ke Selandia Baru, begitu pula sebaliknya. Tak jarang, kaum imigran dari kedua belah pihak menduduki jabatan politik strategis di masing-masing negara.

Seperti dikabarkan oleh The New York Times, Selandia Baru yang wilayahnya berlipat-lipat lebih kecil dari Australia kerap diabaikan dalam percaturan politik dunia. Bahkan ada halaman Tumblr dan Reddit yang khusus menampakkan peta dunia tanpa wilayah Selandia Baru.

Pada 2016, seorang warga Selandia Baru mengalami kejadian tak mengenakkan saat berkunjung ke Kazakhstan. Petugas Bea Cukai setempat sempat menyangkal bahwa Selandia Baru adalah sebuah negara yang betul-betul eksis. Sang petugas justru bersikeras bahwa paspor yang dipakai pria Selandia Baru adalah palsu. Ia menganggap negeri Kiwi itu masih bagian dari Australia.

Selandia Baru memang berbagi sejarah dengan Australia. Sebelum 1901, Selandia Baru masuk dalam wilayah teritori Australia sebagai koloni Britania Raya.

Insiden bendera Indonesia terbalik yang dilakukan Malaysia juga kerap memicu protes sebagian warganet. Ini karena latar belakang hubungan dua negara serumpun tak selalu harmonis.

Tomi Lebang (2006) dalam bukunya yang berjudul Berbekal Seribu Akal Pemerintahan dengan Logika: Sari Pati Pidato Wakil Presiden Jusuf Kalla menyebutkan bahwa hubungan Indonesia dan Malaysia tak hanya serumpun tapi bersaudara. Beberapa etnis Indonesia seperti Bugis, Dayak, Madura, Jawa, Sasak dan Flores telah menjadi bagian dari demografi Malaysia.

Perselisihan terbesar yang pernah terjadi antara kedua negara terjadi selama Konfrontasi Indonesia-Malaysia (1962-1966). Meski akhirnya mereda, deretan perseteruan lainnya muncul, baik perselisihan wilayah teritorial sampai klaim atas lagu, tarian daerah, dan elemen kebudayaan lainnya. Konflik laten ini merembet hingga ke lapangan hijau hingga hari ini.

Mengapa Fanatik?

Apa yang membuat sebagian orang atau sebuah bangsa begitu fanatik dengan simbol termasuk bendera negara?

Dalam “What Do National Flags Stand for? An Exploration of Associations Across 11 Countries” (2017), Becker, dkk menunjukkan bahwa semakin tinggi rasa nasionalisme sebuah masyarakat, semakin tinggi pula rasa homat mereka terhadap bendera.

Sementara Shannon P. Callahan dan Alison Ledgerwood dalam “On the Psychological Function of Flags and Logos: Group Identity Symbols Increase Perceived Entitativity” (2016) mengemukakan bahwa sebuah anggota kelompok bakal menampilkan simbol saat termotivasi untuk menyampaikan kesan sebagai kelompok yang kompak dan bisa mengancam.

Kemiripan bentuk adalah satu dari sekian masalah terkait bendera. Jika dilihat-lihat, sebenarnya ada banyak bendera negara di dunia yang memiliki kemiripan motif atau bahkan tampak sama persis. Seperti bendera Chad dan Rumania, Indonesia dan Monako, Irlandia dan Pantai Gading, Luksemburg dan Belanda, dan banyak lagi.

Problemnya, semakin ke sini, jumlah negara-bangsa di seluruh dunia semakin bertambah akibat separatisme, perang, dan krisis politik akut lainnya. Maka dari itu, kemiripan bendera adalah risiko dari mendirikan negara baru.

Namun, itu juga berarti bahwa tenaga desainer untuk merancang bendera negara-negara baru sekreatif mungkin semakin dibutuhkan.