8 Calon Mahasiswa Tertangkap Basah Curangi Tes FK UAD Pakai Alat Canggih


SURATKABAR.ID – Tertangkap basah pada Minggu (29/07/2018), sebanyak 8 calon mahasiswa Fakultas Kedokteran di Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta ketahuan berbuat curang saat mengikuti tes ujian Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) 2018/2019 di kampus. Kecurangan itu diungkap pihak kampus setelah mendapati berbagai piranti bantu yang cukup canggih dari para calon mahasiswa. Mereka tertangkap basah saat tengah mengikuti tes tertulis.

Melansir laporan Tempo.co, Selasa (31/07/2018), ada yang menanamkan alat bantu dengar mirip chip ke dalam telinganya, membawa pemancar wifi, hingga menyematkan kamera di lubang kancing bajunya.

“Delapan calon mahasiswa itu langsung kami gugurkan statusnya sebagai peserta tes,” tandas Rektor UAD Kasiyarno, Senin (30/07/2018).

Kronologi

Dari salah satu kasus yang terungkap, berdasarkan penelusuran pihak kampus, awalnya ada pesan dari group WhatsApp yang menyebut bahwa akan ada praktek joki di program studi kedokteran UAD yang akan sulit dideteksi.

Baca juga: Viral Satwa Batu Secret Zoo Ditiupkan Asap Vape, Pelaku Mengaku Khilaf

Pasalnya, aksi itu menggunakan chip yang ditanam di dalam telinga calon mahasiswa—yang hanya bisa dikeluarkan dengan magnet. Chip digunakan sebagai alat komunikasi untuk memberitahukan jawaban soal ujian yang diberikan kepada peserta tes.

Tugas peserta tes itu hanya memberikan capture soal melalui camera yang ditanam pada salah satu kancing bajunya. Kamera itu tersambung dengan kumparan kabel-kabel yang dikalungkan di leher calon mahasiswa kemudian dikirim kepada penerima melalui bantuan perangkat wifi yang dibawa peserta tes itu dalam tasnya.

Dari soal yang terekam kamera di kancing bajunya itu, selang setengah jam kemudian peserta tes akan mendapatkan jawaban melalui alat bantu dengar yang sudah ditanamkan di lubang telinganya.

Berdasarkan penggeledahan pihak kampus pada peserta yang diduga melakukan kecurangan tersebut, telah ditemukan pemancar wifi, catu daya (power supply), hingga kamera yang tersembunyi di kancing baju peserta tes. Ditemukan juga 2 buah aki, beberapa ponsel, 8 alat bantu dengar atau earpiece, tas, hingga jaket yang menjadi alat untuk melancarkan kecurangan tersebut.

“Ini (barang bukti) kami temukan saat ujian masuk gelombang 3 Fakultas Kedokteran tanggal 29 Juli kemarin,” ujar Kepala Biro Akademik dan Admisi Kampus UAD Wahyu Widyaningsih saat jumpa pers di Kampus 1 UAD di Jalan Kapas, Umbulharjo, Kota Yogyakarta, Senin (30/07/2018), melansir laman Kumparan.com.

Wahyu melanjutkan, dari para calon mahasiswa yang melakukan kecurangan, mereka diduga kuat menggunakan pihak ketiga untuk membantu kecurangan itu.

“Pihak ketiga ini yang membantu memberikan jawaban dari luar ruangan tes termasuk menyediakan peralatannya,” tandasnya.

Wahyu menambahkan, dari informasi yang diperolehnya, biaya yang harus dikeluarkan calon mahasiswa untuk dibantu pihak ketiga menjawab soal itu pun tak bisa dibilang murah. Kesepakatannya, jika berhasil diterima di Fakultas Kedokteran, mereka harus merogoh kocek sebesar Rp 10-150 juta.

Penggeledahan

Sebelumnya, Wahyu juga menyebutkan pihak kampus telah melakukan penggeledahan.

“Kami melakukan perketatan pengawasan, penggeledahan, cek fisik apa-apa yang tidak boleh dibawa ke lokasi ujian,” bebernya.

Mengetahui adanya kecurangan, pengelola kampus swasta itu tak hanya melakukan cek fisik seperti ada tidaknya peserta tes yang membawa alat komunikasi maupun kamera, tapi juga memperketat pengawasan saat ujian berlangsung.

Dari penggeledahan di luar ruangan sebelum tes dimulai, petugas menemukan sejumlah barang bukti.

Karena ketakutan, banyak peserta tes yang membuang alat bukti di kamar mandi. Sementara, ada satu peserta yang diketahui lolos karena datang terlambat dan tak sempat melalui proses cek fisik. Namun peserta tersebut tertangkap basah oleh pengawas saat ujian akibat gerak-gerik yang mencurigakan.

“Petugas mengetahui gerak gerik peserta tersebut dan setelah dicek banyak kabel di dalam jaketnya. Sementara itu juga ada ponsel pintar yang direkatkan dengan jaket yang sudah dilubangi untuk tempat kamera ponsel. Tujuannya untuk memvideo soal yang nantinya akan dijawab oleh orang yang di luar dan disampaikan kepada peserta melalui telepon yang disambungkan earpiece,” paparnya.

Ada Sebuah Tim

Usai menginterogasi peserta curang yang berasal dari berbagai daerah mulai dari Sumatera, Kalimantan, Jawa Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, hingga Sulawesi tersebut, petugas mendapati bahwa ada tim yang menawarkan jasa kecurangan tersebut pada calon mahasiswa.

Biasanya, mereka menemui calon mahasiswa yang hendak mendaftar dan menawarkan jasanya.

“Mereka yang deal disuruh membayar ada yang Rp 10 juta, ada yang Rp 150 juta juga,” ungkapnya.

Setelah deal, calon mahasiswa tersebut kemudian diajak bertemu. Ada yang di hotel bahkan di SPBU untuk memberikan alat. Selain itu, ada juga alat yang dikirim ke kos calon mahasiswa.

“Sementara soal aki yang di dua tas, peserta mengaku tidak tahu menahu. Da hanya disuruh membawa tas dari luar,” tuturnya.

Lebih lanjut, Kepala Bidang Administrasi dan Evaluasi Akademik UAD, Imam Azhari menjelaskan bahwa alat tersebut sebenarnya mudah didapatkan. Selain itu ditemukan juga alat pemancar.

“Jaringannya sangat rapi. Sudah dilacak tapi memang di-hidden karena keterbatasan alat kita (belum bisa mendeteksi lebih jauh). Yang penting kami menjaga kredibilitas,” terangnya.

Tanggapan Rektor

Rektor UAD Kasiyarno menuturkan, ini tahun kedua UAD membuka Fakultas Kedokteran. Persaingan masuk ke fakultas ini 1:20 atau 1 kursi diperebutkan 20 calon mahasiswa. Biaya untuk masuk fakultas kedokteran terdiri atas sumbangan pendidikan sebesar Rp 200 juta dan sumbangan amal jariyah sebesar Rp 75 juta.

“Satu angkatan kami hanya menerima 50 mahasiswa,” katanya.

Sementara kuota mahasiswa kedokteran tahun ini 50 orang, sedangkan pendaftarnya membludak mencapai 600 orang lebih. Mahasiswa yang diterima pun berkewajiban membayar sumbangan pendidikan sebesar Rp 200 juta dan sumbangan jariyah sekitar Rp 75 juta.

“Ini fakultas baru, kami mempersiapkan diri, antisipasi. Sekalipun fakultas baru, kedokteran selalu ada seperti itu. Kita tidak akan khawatir. Dengan ditemuan ini menunjukkan kita serius dan tidak main-main,” tandasnya.

Sebelumnya, pada tes gelombang 1 kecurangan juga sempat terjadi. Dua orang joki diamankan saat ujian karena menggantikan peserta ujian yang asli. Dari sisi administrasi, kedelapan peserta ujian yang ketahuan curang tersebut telah di-black list.