Sadis! Begini Cara Mossad Agen Rahasia Israel Cabut Nyawa Target, Ada Pasta Gigi Maut Hingga Cuci Otak


    SURATKABAR.ID – Agen rahasia tak hanya bisa ditemui di film-film action garapan Hollywood. Di dunia nyata pun, sejumlah negara menyiapkan unit pasukan rahasia yang diberi tanggung jawab untuk menjalankan intelijen dan operasi khusus demi kepentingan politik serta menjaga keamanan negara.

    Jika Rusia terkenal dengan KGB-nya, negara adidaya Amerika Serikat memiliki kesatuan Secret Service dan juga ada CIA. Sementara di Israel ada Mossad yang siap mengemban tugas-tugas berbahaya tanpa peduli keselamatan diri sendiri demi keutuhan tanah air mereka.

    Hanya dalam hitungan 10 tahun saja, seperti yang dilansir Tribunnews.com dari The Daily Mail, pada Minggu (29/7/2018), Mossad diyakini sudah merampungkan sekitar 800 operasi rahasia. Mereka diklaim sebagai agen rahasia paling keji yang banyak membunuhtarget operasi.

    Anggota unit intelijen dan keamanan Israel memang ditempa dengan latihan khusus untuk menyelesaikan operasi yang mewajibkan mereka menghabisi nyawa target. Dan yang paling mengerikan dari mereka adalah, bahkan sasaran tak menyadari mereka masuk ke dalam target operasi.

    Sejumlah operasi rahasia Mossad dijelaskan dengan begitu terperinci dalam karya seorang jurnalis bernama Ronen Bergman dalam bukunya yang berjudul Rise and Kill The Secret History of Israel’s Targeted Assassinations.

    Baca Juga: Terkuak! James Bond Itu Nyata, Ini 8 Fakta Mencengangkan yang Belum Kamu Tahu Tentang Agen Rahasia 007

    Bergman menunjukkan beberapa cara keji agen Mossad mencabut kehidupan sasaran mereka, seperti yang dihimpun oleh The Daily Mail berikut ini:

    Pasta Gigi Maut ‘Sang Kesedihan’

    Wadie Haddad menjadi salah satu pria paling dicari oleh pihak Amerika Serikat dan Israel pada sekitar tahun 1978. Ia dikenal sebagai salah seorang pendiri PLO, alias Front Pembebasan Palestina. Selama enam tahun, Mossad merencanakan aksi untuk menghabisi Wadie Haddad.

    Namun ia masih bisa dengan bebas dan begitu nyaman hidup di apartemen di Palestina. Hingga pada 10 Januari 1978, seorang anggota Mossad berhasil menyamar sebagai orang kepercayaan Haddad. Ia pun diam-diam menukar pasta gigi biasa dengan pasta gigi maut yang berisi racun mematikan.

    Pasta gigi maut tersebut diciptakan di laboratorium khusus di Tel Aviv, Israel. Dan setiap kali Haddad menggosok giginya, racun pun masuk ke dalam tubuhnya. Berselang 10 hari menggunakan pasta gigi tersebut, Haddad akhirnya menemui ajal.

    Hingga akhir, identitas agen Mossad tak pernah terbongkar. Ia hanya diketahui memiliki julukan mengerikan, yakni ‘Sang Kesedihan’. Sesuai dengan suasana yang menyelimutinya ketika menghabisi nyawa setiap targetnya.

    Cuci Otak

    Operasi tak kalah mengerikan selanjutnya yang dilakukan agen Mossad ini terjadi pada tahun 1968. Mossad berupaya membunuhpimpinan PLO, Yasser Arafat. Sudah dilakukan berbagai cara, dan akhirnya Mossad memilih cara lain yang terdengar tak lazim.

    Mereka mendatangkan psikolog asal Swedia. Ia dikenal sebagai pakarnya pencucian otak. Psikolog tersebut dipercaya menjalankan tugas untuk mencuci otak seorang warga Palestina yang ditawan Israel, bernama sandi ‘Fatkhi’.

    Tiga bulan lamanya Fatkhi dicuci otak dengan doktrin ‘Arafat itu jahat, dia harus dibinuh’ yang terus menerus dijejali ke dalam pikirannya. Ia juga mendapatkan latihan khusus di sebuah ruangan untuk menembak Yasser Arafat.

    Pada tanggal 19 Desember 1968, tim Mossad diam-diam membawa Fatkhi memasuki markas besar PLO melalui Sungai Yordania. Tim menunggu Fatkhi selama 5 jam. Tidak ada yang mengetahui jika ternyata pikiran Fatkhi terlalu kuat untuk dipengaruhi doktrin Mossad.

    Fatkhi rupanya melarikan diri ke kantor polisi dan memaparkan semua kejadian yang menimpanya. Operasi pembinuhan terhadap Yasser Arafat pun gagal. Kisah ini dituangkan dalam film Hollywood berjudul The Manchurian Candidate.

    Raket Palsu

    Aksi satu ini belum lama terjadi. Tepat pada 20 Januari 2010, belasan agen Mossad menyamar sebagai turis dan atlet tenis memasuki Dubai, Uni Emirat Arab. Tim berhasil menipu petugas imigrasi menggunakan paspor, wig, kumis, hingga raket palsu!

    Mereka menyelinap ke kamar hotel super mewah Al Bustan. Di kamar tersebut tinggal orang penting Hamas, Mahmoud al-Mabhouh. Ya, orang penting Hamas tersebut masuk ke dalam daftar target anggota Mossad berikutnya.

    Ketika al-Mabhouh masuk ke kamarnya, Mossad langsung membekapnya dan menyuntukkan senjata mematikan yang disertai teknologi canggih ultrasound. Hanya berselang beberapa saat, al-Mabhouh tewas. Empat jam selanjutnya, semua anggota Mossad sudah bersantai di rumah mereka di Israel.

    Target Tak Kenal Status

    Sasaran Mossad tak semua muslim, orang Palestina, atau orang Timur Tengah. Semua yang mengusik misi berdirinya negara zionis akan langsung dilibas. Termasuk seorang polisi Inggris. Insiden ini terjadi pada tahun 1944.

    Ketika itu Palestina masih berada di bawah Pemerintahan Inggris. Sedangkan Yerussalem masuk dalam wilayah Pemerintahan Palestina. Berbeda dengan saat ini, waktu itu, orang Israel yang bergerilya, bukannya Palestina.

    Mereka mengemban misi untuk mengusir Inggris dari tanah Palestina. Hal tersebut bertujuan untuk menghindari campur tangan Inggris dalam misi pencaplokan tanah Palestina oleh Israel. Namun ada salah satu polisi Inggris yang kekeh melawan gerakan tersebut, Detektif Thomas James ‘Tom’ Wilkin.

    Pada bulan September 1944, Tom Wilkin tengah berjalan-jalan. Ketika itu seorang bocah tiba-tiba melemparkan topi ke jalanan. Itu adalah kode kepada Mossaf yang menunjukkan bahwa target sudah berdiri di zona serang.

    Tak berselang lama, 2 orang pemuda Yahudi, yang merupakan agen Mossad menembakkan timah panas dari revolver ke arah Wilkin. Akibat tembakan tersebut, sang detektif langsung tewas di tempat kejadian.

    Salah seorang pemuda Yahudi tersebut adalah David Shomron. Ketika ditanyai apakah ia menyesali perbuatannya tersebut, ia mengaku: “Sedikit pun tidak. Makin banyak kantung mayat yang kami kirim ke London, semakin dekat pula hari kemerdekaan kami (Israel),” ujarnya dingin.