Tiap Orang Hanya Bisa Jatuh Cinta 3 Kali dalam Hidup, Ini Penjelasan Psikologinya

    “Love is just a word until someone comes along and gives it meaning.” - Paulo Coelho, Aleph


    SURATKABAR.ID – Manusia tak akan bisa mengerti apa makna cinta tanpa orang yang tepat. Sayangnya, kebanyakan orang baru menyadari datangnya orang yang tepat justru setelah mereka merasa kehilangan—you don’t what you have got until it’s gone. Dan kini, para psikolog mengungkapkan bahwa di dalam hidup setiap orang, mereka hanya bisa jatuh cinta sebanyak tiga kali.

    Tahukah Kamu, rupanya setiap orang hanya memiliki 3 kesempatan untuk jatuh cinta dan penting bagi kita untuk mengalami semuanya? Sepanjang hidup, manusia mengalami jatuh cinta dan putus cinta, terkadang hanya untuk bersama lagi dengan orang yang sama.

    Ada orang yang masuk ke dalam lingkar kehidupan kita. Ada yang pergi menjauh sehingga kita mengalami pasang-surut emosional secara dramatis di luar dugaan. Namun demikian, seperti dikutip dari Bright Side melalui Liputan6.com, Senin (30/07/2017), para ahli psikologi menyebutkan bahwa seseorang hanya bisa jatuh cinta secara tulus sebanyak 3 kali.

    Jadi tak peduli seberapa banyak mantan pacar dan pasanganmu saat ini, hanya tiga kali cinta ini yang akan Kamu alami.  Coba cek, sudah cinta keberapa Kamu sekarang? Karena masing-masing pengalaman itu penting dalam perjalanan hidup setiap orang, simak 3 momentum jatuh cinta yang dimaksud:

    1. Cinta Seperti Dongeng

    Terkadang, cinta pertama datang pada saat Kamu masih amat muda. Bagi kita, perasaan itu seperti yang kita baca dalam dongeng-dongeng sehingga kita memimpikan sesuatu yang ideal dan menduga—dengan naifnya, bahwa cinta itu akan bertahan untuk selamanya.

    Baca juga: Keke Challenge Sebabkan Korban, Polisi: Kalau Mau Joget di Tempat Senam Aja

    Pada saat itu, kita cenderung melakukan hal-hal sesuai dengan harapan kerabat dan sahabat. Kita menolak memperhatikan masalah-masalah sepele dan rela mengorbankan prinsip-prinsip kita hanya demi menjaga hubungan karena, jauh di dalam lubuk hati, kita menduga seharusnya demikian.

    Saat itu, apa yang tampak dari luar tentang hubungan kita lebih penting bagi kita daripada apa yang benar-benar kita rasakan. Cinta jenis ini mengajarkan kita bahwa melihat kepada pasangan kita adalah hal yang sama pentingnya dengan anggapan orang terhadap hubungan kita.

    Cinta yang terlihat benar

    Dengan kata lain, fase jatuh cinta pertama ini diungkap oleh pepatah ’tai kucing rasa cokelat’, di mana apapun yang dilakukan pasanganmu itu benar. Bagi Kamu, ini cinta yang harus selalu romantis layaknya dongeng. Kamu merasa pasanganmu inilah jodohmu, dan kamu akan melakukan apapun untuk mempertahankannya, seperti dikutip dari laman IDNTimes.com.

    Padahal, dalam cinta yang pertama ini, Kamu sebenarnya lebih berfokus pada bagaimana orang memandangmu. Dalam cinta ini Kamu seakan-akan menutup diri dari omongan orang, bahkan dari apa yang sebenarnya Kamu rasakan. Ini adalah cinta yang baru datang dari pikiran, tapi belum dari hati.

    2. Cinta yang Rumit

    Cinta kedua dalam hidup kita adalah yang paling rumit, demikian kata para ahili psikologi. Kita yakin bahwa kita telah belajar dari pengalaman-pengalaman sebelumnya sehingga lebih peduli untuk memilih pasangan yang jenisnya benar-benar berbeda daripada sebelumnya. Setidaknya itulah dugaan kita.

    Di fase ini, kebanyakan dari kita kemungkinan besar sudah pernah dimanipulasi, dibohongi, atau bahkan disakiti. Kita berpegang erat pada setiap kesempatan untuk memperbaiki hubungan, tapi setiap upaya malah menjadi kegagalan yang lebih besar lagi—benar-benar suatu drama dengan kebahagiaan yang hadir sekali-kali saja (Sabar, bukan Kamu saja yang mengalami hal ini).

    Lagi-lagi perasaan kita yang sebenarnya terdesak ke pinggir demi sesuatu yang lain. Dalam hal ini, kita bersusah payah terus-menerus menyelamatkan hubungan yang ambruk.

    Cinta seperti ini mengajarkan kepada kita betapa pentingnya untuk mendapat balasan cinta. Mutual feelings dan sama-sama saling cinta, saling mengupayakan.

    Cinta yang Kamu harapkan terlihat benar

    Sisi positifnya, cinta yang kedua dan rumit ini merupakan cinta yang mengajarkanmu tentang apa yang sebenarnya kamu butuhkan dalam hubunganmu. Ini adalah fase di mana Kamu menyadari bahwa jatuh cinta itu sakit, dan bahkan untuk menjalaninya Kamu perlu sesekali berbohong.

    Dalam fase cinta kedua ini, jangan heran kalau Kamu akan menemukan banyak drama. Tangis, kekecewaan, bahkan kehilangan bisa terjadi dalam fase ini. Ini adalah masa di mana Kamu ditampar dengan kenyataan yang ada. Fase di mana Kamu diajak naik roller coaster dengan penuh emosi, tapi Kamu masih dituntut harus bisa memperbaikinya.

    Hal terbaik yang bisa Kamu pelajari dalam fase kedua ini adalah bagaimana Kamu dan pasangan bekerja sama. Dalam fase ini, yang terpenting ialah bagaimana komunikasi yang membuat kalian satu, bukan mengabaikannya dan menjadikan itu sempurna seperti fase cinta pertama. Agar digaris bawahi, jika Kamu masih berusaha membuatnya sempurna, maka Kamu masih belum move on dari fase cinta pertama.

    3. Cinta yang Matang

    Cinta ketiga hadir dalam hidup kita saat kita sudah menunggu hingga legowo—pasrah berlapang dada. Ia datang tak diundang dan sepertinya tak seperti apa yang kita pikir tentang suatu cinta sejati.

    Cinta ini sepertinya tidak sempurna, tapi merupakan cinta sejati yang bercirikan perasaan tenteram yang luar biasa, sesuatu yang tidak dapat dijelaskan dengan kata-kata.

    Pada tahap ini dalam kehidupan, kita sudah tak lagi berharap apapun. Kita tidak membuang waktu memikirkan tentang kualitas-kualitas yang harus dikejar-kejar dalam hidup kita.

    Kita akhirnya siap untuk menerima pasangan kita sesuai dengan apa adanya dia yang sebenarnya. Dan, yang sama pentingnya, pasangan kita pun memandangnya demikian. Cinta sejenis itu mengajarkan kepada kita untuk menjadi diri kita yang sebenarnya dan bahwa hubungan tidak perlu sempurna, karena kita sebagai manusia pun memang tidak sempurna.

    Cinta yang akan selalu bertahan

    Mungkin itulah juga sebabnya dikatakan bahwa cinta yang ketiga ini datangnya tidak mudah. Cinta ini juga tidak akan sama dengan ekspektasimu saat jatuh cinta. Barangkali, pertanyaan “Kok bisa ya aku berpasangan dengan orang ini?” akan muncul dalam cinta fase ketiga. Ini merupakan cinta yang menurutmu semuanya ‘salah’, tapi Kamu justru nyaman menjalaninya.

    Tak ada harapan ideal dalam cinta ini. Kamu dan pasanganmu menjalani saja apa adanya. Dalam fase ini, caramu berkomunikasi, tingkah lakumu, bahkan semua hal-hal buruk antar Kamu dan pasangan, kalian saling menerimanya satu sama lain.

    Ini adalah cinta di mana Kamu tak meminta apapun, karena Kamu sudah mendapatkan apa yang semuanya Kamu mau. Kamu bahagia dalam menjalani hubunganmu. Dan Kamu sudah tak ingin mengubah apapun. Ini adalah cinta yang sudah datang baik dari dalam hati maupun logikamu.

    Mungkinkah Kamu mengalami tiga cinta ini pada satu orang yang sama? Bisa saja, beruntunglah kalau begitu karena Kamu telah bertemu dia. Namun, banyak orang diluar sana yang tak mampu bertahan di fase roller coaster rumitnya fase cinta yang kedua. Jika hal itu yang juga Kamu alami, tidak apa-apa. Setiap hubungan itu unik apa adanya, jangan jadikan hubungan orang lain sebagai patokan dan perbandingan dengan kisahmu sendiri.

    So, selamat menjalaninya. Jangan takut untuk jatuh cinta, bahkan pada orang yang salah sekalipun. Karena dari situlah Kamu bisa belajar jujur pada dirimu sendiri akan apa yang Kamu butuhkan dalam cinta terakhirmu nanti.