Disebut Bangkrut oleh Prabowo, Begini Kondisi Keuangan Terkini Garuda, PLN dan PGN


SURATKABAR.ID – Prabowo Subianto yang merupakan Ketua Umum Partai Gerindra menyebutkan bahwa Garuda Indonesia, PT PLN (Persero) dan PT Perusahaan Gasa Negara Tbk (PGN) sebagai BUMN yang bangkrut. Hal ini diungkapkannya dalam pidato pembukaan acara ijtima ulama yang berlangsung di Hotel Menara Peninsula, Jumat (26/07/2018) kemarin.

“Sekarang kita lihat di hari terakhir BUMN dijual diam-diam. Tanpa transparansi Pertamina sebagian dijual, Garuda bangkrut, PLN bangkrut, Perusahaan Gas Negara (PGN) bangkrut. BRI menerbitkan bond. Bank menerbitkan bond. Berarti utang dan enggak ada uang di bank itu,” ujarnya seperti dikutip dari laporan Kumparan.com, Minggu (29/07/2018).

Terlepas dari ungkapan tersebut, bagaimana sesungguhnya kondisi keuangan dari BUMN-BUMN yang oleh Prabowo Subianto dikatakan bangkrut? Berikut pemaparannya.

  1. PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk

Sepanjang 2017 lalu, maskapai penerbangan pelat merah ini memang mencatatkan kerugian sebesar USD 213,4 juta, atau dengan kurs saat itu setara Rp 2,88 triliun. Kenyataan itu berbanding terbalik dengan kinerja keuangan 2016 yang mencatatkan laba bersih USD 9,4 juta, atau sekitar Rp 126,9 miliar.

Baca juga: Dana Bantuan Bagi Parpol 2018 Mencapai Rp 121 M, Untuk Apa?

Terakhir pada kuartal I 2018, emiten berkode GIAA itu masih mencatat kerugian sebesar USD 64,3 juta alias Rp 881 miliar (kurs Rp 13.700). Angka itu turun 36,5 persen dibandingkan kerugian pada kuartal I 2017 yang mencapai USD 101,2 juta.

Salah satu sumber kerugian Garuda, adalah kenaikan biaya bahan bakar.

“Kita akui memang ada kenaikan harga dan di Indonesia memang lebih tinggi dari negara lain karena mereka (Pertamina) harus mensuplai dan biaya logistik tinggi,” imbuh Direktur Utama Garuda Indonesia, Pahala Mansury di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (27/07/2018).

  1. PT PLN (Persero)

Pelemahan nilai tukar Rupiah menjadi beban bagi kinerja keuangan PLN. Pasalnya, BUMN penjual setrum itu harus membeli batu bara dan minyak untuk menghidupkan sebagian pembangkit listriknya dalam dolar AS. Kondisi ini diperparah dengan kenaikan harga batu bara dan minyak di pasar dunia.

Sofyan Basir selaku Direktur Utama PLN menyebutkan sepanjang semester I 2018 perusahaannya diperkirakan rugi Rp 6 triliun akibat pelemahan kurs Rupiah.

“Ada kenaikan biaya Rp 1,3 triliun setiap kenaikan Rp 100 Rupiah (penguatan dolar AS) jadi tambahan biaya biaya PLN. Kami estimasi rugi Rp 6 triliun,” ujarnya di Ruang Rapat Komisi VI DPR, Jakarta, Rabu (11/07/2018).

Sementara itu, mengutip laporan keuangan perusahaan, PT PLN (Persero) mencatatkan kerugian sebesar Rp 6,49 triliun pada kuartal I 2018. Kinerja keuangan PLN mengalami penurunan dibanding kuartal I 2017 yang berhasil meraup laba bersih Rp 510,17 miliar.

  1. PT Perusahaan Gas Negara (PGN)

Pada kuartal I 2018, PGN membukukan laba USD 80.37 juta atau dengan kurs saat itu sekitar Rp 1,1 triliun. Namun angka itu menurun 17 persen, jika dibandingkan laba periode yang sama pada 2017 sebesar USD 96,83 juta atau sekitar Rp 1,336 triliun.

Sementara itu pada awal Juli ini, PGN resmi mencaplok PT Pertagas yang sebelumnya merupakan anak perusahaan Pertamina. Akuisisi 51 persen saham Pertagas oleh PGN itu, merupakan bagian dari pembentukan holding BUMN Migas.

Untuk menguasai 51 persen saham Pertagas, PGN harus membayar ke Pertamina seharga Rp 16,6 triliun. Menurut Direktur Utama PGN Jobi Triananda Hasjim, pendanaan untuk aksi korporasi tersebut berasal dari dua sumber, yaitu 50% dari utang kas dan 50% lagi dari internal perusahaan.