Sering Alami Déjà vu? Begini Penjelasan Ilmiahnya


SURATKABAR.ID – Pernahkah Anda mengalami fenomena deja vu? Atau sering? Banyak orang yang kerap mengalami hal ini. Contohnya, saat Anda berjalan memasuki ruangan dari gedung yang belum pernah Anda kunjungi sebelumnya, lalu tiba-tiba Anda merasa seperti sudah pernah ke situ sebelumnya. Atau contoh lainnya ketika Anda berkenalan dengan orang baru, namun rasanya sangat familiar padahal sebelumnya Anda tak mengenal sosok itu.

Layaknya cerita dalam fiksi ilmiah, Anda seolah pernah berjalan ke masa depan. Situasi ini dikenal sebagai Déjà vuDéjà vu berasal dari bahasa Perancis, yang berarti “sudah melihat”. Demikian sebagaimana dikutip dari reportase Tempo.co, Jumat (27/07/2018).

Déjà vu ini tak hanya terjadi pada Anda saja, hal ini juga dialami oleh 60-80 persen orang. Ini merupakan fenomena yang hampir selalu cepat berlalu dan tampak nyata setiap saat. Meski telah banyak dialami orang, Déjà vu masih sering salah dipahami oleh komunitas ilmiah.

Michelle Hook, asisten profesor di Departemen Neuroscience dan Therapeutics Eksperimental, Texas A & M Health Science Center College of Medicine, menyebutkan, karena tak jelas, stimulus diidentifikasi sebagai Déjà vu (ini adalah laporan retrospektif dari individu).

“Sangat sulit mempelajari Déjà vu di laboratorium,” ucap Hook.

Baca juga: Buah Hati Denada Divonis Leukimia, Ortu Wajib Kenali Gejala Kanker Darah Pada Anak

Menurut banyak penelitian, sekitar dua per tiga orang mengalami setidaknya satu episode Déjà vu dalam hidupnya.

“Memahami cara kerja penyimpanan memori memberi titik terang. Sebab, orang yang mengalami Déjà vu lebih banyak,” ungkap Hook.

Episode Déjà vu mungkin berkaitan erat dengan cara memori disimpan dalam otak. Ingatan kenangan jangka panjang, peristiwa dan fakta-fakta disimpan di lobus temporal. Lobus temporal merupakan tempat Anda membuat dan menyimpan kenangan. Bagian-bagian dari lobus temporal tak terpisahkan untuk mendeteksi peristiwa tertentu yang familiar.

Hubungan antara Déjà vu, lobus temporal, dan daya ingat masih belum diketahui. Tapi ada petunjuk tentang orang yang mengalami Déjà vu, yang menderita epilepsi pada lobus temporalnya. Kondisi ini terjadi saat aktivitas sel saraf di otaknya terganggu. Temuan menunjukkan bahwa Déjà vu dapat disebabkan oleh kerusakan ‘listrik’ di otak.

Gangguan Paranormal?

Lebih lanjut, laman CNNIndonesia.com menyebutkan bahwa untuk waktu lama, sensasi menakutkan ini juga kerap dikaitkan dengan gangguan paranormal sampai gangguan saraf. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, banyak ilmuwan mempelajari fenomena ini. Sejumlah teori Déjà vu muncul, membuktikan jika ini bukan kesalahan dalam sistem memori otak manusia semata.

Laporan dari psikolog Universitas Negeri Colorado, Anne M. Cleary menerangkan penemuan tentang Déjà vu dalam jurnal Current Directions in Psychological Science. Termasuk penjelasan tentang banyaknya kesamaan antara Déjà vu dan pemahaman kita tentang memori pengenalan pada manusia.

Memori pengenalan ini adalah jenis memori yang memungkinkan seseorang menyadari bahwa apa yang sedang dialami seseorang pernah dia alami sebelumnya. Contohnya, saat kita mengenali teman di jalan atau mendengar lagu yang akrab di radio.

Dilansir dari laman Psychologicalscience, otak berfluktuasi di antara dua jenis memori pengenalan, yakni ingatan dan keakraban. Pengenalan berbasis ingatan terjadi saat seseorang bisa menentukan sebuah contoh ketika situasi saat ini telah terjadi sebelumnya.

Misalnya, saat melihat seorang lelaki yang akrab di toko dan menyadari bahwa kita pernah melihat dia sebelumnya di dalam bus. Di sisi lain, pengenalan berbasis keakraban terjadi saat situasi saat ini terasa akrab. Namun, kita tak ingat kapan itu terjadi sebelumnya.

Contohnya, kita melihat orang asing yang dirasa akrab di sebuah toko, namun kita tidak bisa mengingat di mana kita tahu tentang dia. Déjà vu diyakini sebagai contoh pengenalan yang berbasis perasaan akrab. Seseorang merasa yakin dia mengenal situasi tersebut, namun tidak yakin mengapa.

Epilepsi ditandai dengan disfungsi aktivitas neuron (sel saraf) di otak yang mengganggu sistem elektrik impuls. Gangguan ini bisa ‘membakar’ neuron. ‘Kebakaran’ ini bisa menyebar ke seluruh otak dan memicu kejang.

“Laporan klinis menunjukkan beberapa pasien yang menderita epilepsi lobus temporal mengalamiDéjà vu, semacam sebagai peringatan sebelum terjadi kejang,” ungkap Hook.

Tanpa menderita epilepsi lobus temporal, orang juga bisa Déjà vu. Beberapa peneliti menggambarkannya sebagai ‘kesalahan’ di otak. Kesalahan ini terjadi sewaktu neuron untuk pengenalan dan hal-hal yang familiar ‘terbakar’. Kondisi ini memungkinkan otak salah menghadirkan masa lalu. Bahkan kondisi sistem elektrik impuls abnormal, yang terjadi pada penderita epilepsi lobus, dapat hadir pada orang sehat.

Contoh Déjà vu pada orang sehat juga dapat dikaitkan dengan mismatch di jalur saraf otak. Ini bisa terjadi karena otak terus berusaha membuat seluruh persepsi dari dunia di sekitar kita dengan masukan yang terbatas.

Misalnya hanya membutuhkan sejumlah kecil informasi sensoris—seperti bau yang familiar—bagi otak untuk membuat ingatan rinci. Déjà vu dapat dikaitkan dengan perbedaan dalam sistem memori otak. Otak dapat memimpin informasi sensoris untuk memori jangka pendek dan mencapai memori jangka panjang sebagai gantinya.

Hook menuturkan masih banyak yang harus dipelajari tentang Déjà vu dan mekanisme di balik itu.

“Mungkin tak ada jawaban sederhana untuk mekanisme di balik Déjà vu, tapi, dengan penelitian lebih lanjut dan studi, bukti untuk fenomena ini dapat ditemukan di masa depan,” tukasnya.